Halmahera Utara - Upaya menghadirkan layanan kesehatan bagi masyarakat Galela, Halmahera Utara, terus berlanjut. MER-C Indonesia telah melakukan kunjungan supervisi ke bangunan rumah sakit untuk meninjau kondisi terkini serta membahas langkah-langkah percepatan pengoperasiannya.
Kunjungan dilakukan langsung oleh Presidium MER-C, Dr. Ahyudin Sodri, S.T., https://t.co/HJN221LNx9. dan dr. Yogi Prabowo, Sp.OT(K) Onk. Kunjungan ini sekaligus menindaklanjuti rencana kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya IDI Maluku Utara, Muhammadiyah, serta sejumlah universitas di Ternate.
Dari hasil kunjungan dan pertemuan yang dilakukan, disepakati untuk melanjutkan pembangunan serta pengoperasian Rumah Sakit MER-C Indonesia di Galela. Rumah sakit yang sebelumnya telah dibangun ini diharapkan dapat segera berfungsi secara optimal dalam memenuhi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.
Hingga saat ini, warga Galela masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan karena belum tersedianya fasilitas rumah sakit yang memadai.
Masyarakat yang membutuhkan penanganan medis harus menempuh perjalanan puluhan kilometer dengan berbagai kendala transportasi yang tidak mudah.
Mari bersama MER-C mewujudkan layanan kesehatan yang lebih layak bagi masyarakat Galela.
Dukung operasional Rumah Sakit Galela melalui rekening donasi:
BNI: 014.0600983
BSI: 888.7775583
Mandiri: 124.0008111990
Didukung MER-C, Klinik Giving Without Borders Gaza Terus Perkuat Layanan Laboratorium
Gaza – Klinik Giving Without Borders di Jalur Gaza yang didukung MER-C dan Kementerian Kesehatan Palestina terus meningkatkan pelayanan dan fasilitas, salah satunya melalui pengembangan layanan laboratorium.
Layanan laboratorium di Klinik Giving Without Borders mulai dibuka pada Desember 2025 di tengah keterbatasan akibat blokade dan agresi penjajah Israel yang terus berlangsung.
Pada tahap awal, seluruh pekerjaan laboratorium dilakukan secara manual dan berbasis rapid test. Petugas laboratorium melakukan pemeriksaan seperti urinalisis dan hemoglobin secara manual karena belum tersedianya peralatan yang lengkap.
Namun, dengan dukungan berkelanjutan dari MER-C dan Kementerian Kesehatan Palestina, layanan laboratorium terus berkembang secara bertahap.
Kepala Laboratorium, Jihan Al-Atamneh, mengatakan laboratorium tersebut saat ini memiliki empat bagian utama, yaitu Unit Pengambilan Sampel, Unit Hematologi, Unit Kimia, dan Unit Parasitologi.
Jihan menambahkan, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah alat pemeriksaan Complete Blood Count (CBC). Banyaknya permintaan pemeriksaan CBC menyebabkan beban kerja laboratorium meningkat dan pelayanan kepada pasien menjadi lebih lambat.
Ia juga mengatakan laboratorium masih membutuhkan perluasan ruangan dan penambahan jumlah staf untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas layanan bagi pasien.
Kehadiran EMT MER-C Perkuat Layanan Rehabilitasi Medik dan Fisioterapi di RS Al-Wafa Gaza
Gaza – Menjadi dokter spesialis rehabilitasi medik pertama yang dikirimkan MER-C ke Jalur Gaza, dr. Juli Hartati, Sp.KFR., kini mulai bertugas membantu layanan rehabilitasi medik dan fisioterapi di Rumah Sakit Al-Wafa.
Ia telah bertugas di RS Al-Wafa sejak 3 Mei 2026, memberikan layanan rehabilitasi medik dan fisioterapi untuk membantu menangani lonjakan kasus cedera tulang belakang dan patah tulang kronis akibat genosida yang dilakukan penjajah Israel di Gaza.
RS Al-Wafa merupakan rumah sakit spesialis rehabilitasi medik tertua dan terpenting di Gaza. Dr. Juli sendiri melayani berbagai pasien di departemen rawat inap maupun rawat jalan yang menerima sekitar 200 kasus setiap harinya.
Layanan rehabilitasinya mencakup kasus neurologis, seperti cedera tulang belakang, stroke, cedera otak, kelumpuhan, dan gangguan lainnya. Selain itu, rumah sakit ini juga menangani kasus muskuloskeletal, termasuk patah tulang, kondisi pascatrauma, gangguan otot dan saraf, hingga komplikasi akibat imobilisasi.
RS Al-Wafa menyediakan layanan fisioterapi, terapi okupasi, serta dukungan psikologis. Namun saat ini, operasional rumah sakit berjalan di tengah berbagai keterbatasan, mulai dari pasokan listrik hingga minimnya peralatan medis, sehingga sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Dr. Juli tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-13 dan tiba di Gaza pada 23 April 2026. Selain memberikan layanan rehabilitasi medik dan fisioterapi, ia juga akan melakukan asesmen awal untuk mengidentifikasi kebutuhan layanan rehabilitasi medik di Jalur Gaza.
Kini berdonasi jadi lebih mudah melalui website terbaru MER-C Indonesia, https://t.co/z7ICLSk0DR. Dengan fitur yang tersedia, kamu bisa memilih berbagai program kemanusiaan yang ingin dibantu secara praktis dan nyaman.
Melalui website ini, sahabat MER-C juga dapat memperoleh update terbaru seputar program kemanusiaan dan kegiatan MER-C.
Yuk, jadi bagian dari aksi kemanusiaan bersama MER-C.
Layanan Fisioterapi Klinik GWB Hadirkan Harapan bagi Warga Gaza untuk Pulih
Gaza – Di tengah genosida yang terus merenggut banyak nyawa dan menyebabkan ratusan ribu korban luka serta cedera, layanan fisioterapi di Klinik Giving Without Borders (GWB) di Al Mawasi, Khan Younis, menjadi harapan bagi warga Gaza untuk pulih.
Mulai beroperasi sejak Desember 2024, layanan fisioterapi di Klinik Giving Without Borders, hadir untuk merespons kebutuhan masyarakat di kawasan padat pengungsi di Al Mawasi, Khan Younis, terutama setelah gelombang pengungsian akibat perang.
Sejak dibuka, layanan fisioterapi Klinik Giving Without Borders, telah membantu banyak pasien dalam proses pemulihan mereka.
Tim fisioterapis yang terdiri dari lima perempuan dan lima laki-laki spesialis terus berupaya memberikan pelayanan terbaik di tengah berbagai keterbatasan. Setiap harinya, mereka melayani lebih dari 50 pasien.
Di tengah sulitnya akses masuk peralatan medis akibat blokade, para fisioterapis juga berinisiatif menggunakan serta membuat peralatan alternatif guna menunjang pelayanan rehabilitasi bagi pasien.
Layanan fisioterapi di klinik ini menangani berbagai kasus, mulai dari anak dengan cerebral palsy, pasien fraktur, hingga penderita stroke. Tidak hanya menyediakan fisioterapi, Klinik Giving Without Borders juga menghadirkan layanan terapi okupasi, yang sangat penting bagi pasien rehabilitasi.
Terapi okupasi membantu pasien, terutama anak-anak, untuk kembali memperoleh kemandirian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Layanan ini fokus pada peningkatan kualitas hidup pasien sesuai dengan kebutuhan pribadi masing-masing.
Selama perang berlangsung, tekanan terhadap departemen rehabilitasi meningkat secara signifikan. Jumlah pasien cedera terus bertambah, termasuk korban fraktur, luka bakar, gangguan kecemasan, hingga cedera saraf tepi.
Tim fisioterapis menyampaikan terima kasih atas dukungan MER-C Indonesia terhadap Klinik Giving Without Borders, sehingga departemen fisioterapi dapat beroperasi dan memberikan layanan yang menjadi harapan bagi warga Gaza untuk kembali pulih.
Rumah Sakit untuk Galela
Galela merupakan salah satu kecamatan yang terletak di pesisir utara Pulau Halmahera, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.
Hingga saat ini, masyarakat Galela masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan karena belum tersedianya fasilitas rumah sakit. Warga yang membutuhkan penanganan medis harus menempuh perjalanan puluhan kilometer, ditambah tantangan sulitnya transportasi.
MER-C berkomitmen untuk melanjutkan upaya pengoperasian rumah sakit di Galela, yang sebelumnya telah dibangun namun belum dapat berfungsi secara optimal.
Mari bersama wujudkan layanan kesehatan yang lebih dekat dan layak bagi masyarakat Galela.
Dukung operasional Rumah Sakit Galela melalui rekening donasi:
BNI: 014.0600983
BSI: 888.7775583
Mandiri: 124.0008111990
Indonesia is on track to become the world champion of tropical deforestation. Under the Prabowo administration, over 433,000 hectares were cleared in 2025, nearly double the previous year. Driven by mining and palm oil, the loss equals six times the size of Singapore.
PRESS RELEASE - MERC INDONESIA
Gugurnya 3 Personel TNI di Lebanon, MER-C dan TPM Soroti Pelanggaran HAM dan Serukan Perlindungan Misi Kemanusiaan
Jakarta, 1 April 2025 — MER-C Indonesia bersama Tim Pengacara Muslim (TPM) menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tengah menjalankan tugas sebagai pasukan perdamaian di Lebanon Selatan. Ketiga prajurit tersebut gugur dalam serangan yang menargetkan wilayah Markas UNIFIL, sementara sejumlah personel lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Peristiwa ini merupakan tragedi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan. Para prajurit TNI yang gugur tengah mengemban amanah mulia sebagai bagian dari misi internasional untuk menjaga perdamaian dunia. Gugurnya mereka menjadi bukti nyata bahwa situasi konflik di Lebanon semakin memburuk dan tidak lagi menghormati prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional.
MER-C Indonesia dan TPM mengecam keras segala bentuk serangan terhadap personel penjaga perdamaian serta fasilitas misi internasional. Tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan norma-norma internasional yang seharusnya dijunjung tinggi oleh semua pihak yang berkonflik.
Kami juga menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam konflik, khususnya pihak Israel sebagai pemicu eskalasi kekerasan di wilayah tersebut, untuk segera menghentikan serangan dan menghormati keberadaan serta netralitas tim internasional yang bertugas menjalankan misi kemanusiaan.
Di sisi lain, kondisi di Lebanon saat ini telah memasuki fase krisis kemanusiaan yang semakin parah. Konflik berkepanjangan telah memperburuk situasi warga sipil yang membutuhkan perlindungan dan bantuan mendesak. Oleh karena itu, MER-C Indonesia menegaskan pentingnya solidaritas global untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak di Lebanon.
Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral, MER-C Indonesia akan terus berkomitmen untuk memberikan perhatian serta dukungan terhadap upaya-upaya kemanusiaan di wilayah konflik, termasuk Lebanon.
Jakarta, 1 April 2026
Ketua Presidium MER-C Indonesia
DR.Dr. Hadiki Habib, Sp.PD.,Sp.Em
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
We are outraged. An Indonesian peacekeeper is murdered. Another is fighting for his life. Israel bombed the base where they served.
This is clearly not an accident, nor a collateral damage. This is Netanyahu’s regime showing, once again, that they don’t care about international law, about UN personnel, and about the lives of those who dedicate themselves to peace.
Indonesia has gone above and beyond. We have sent over 1,200 of our troops to serve under the UN flag. The Indonesian government also joined the Board of Peace to push for a just and lasting resolution in the Middle East. We extended our hand in good faith. Yet the answer to that good faith is a bomb dropped on our soldiers’ base. They spat on every effort Indonesia has made for peace.
But let us be honest, this is not surprising. Netanyahu’s regime has shown time and again that they are indifferent to the world’s calls for restraint. They ignore UN resolutions. They strike UN facilities. They kill civilians, journalists, aid workers, and now peacekeepers. No one is off-limits. No one is safe. Sadly, it keeps going because the world keeps allowing it.
To the UN Secretary-General, we appreciate your condemnation and your condolences. But words are not enough anymore. The UN must move beyond statements. Concrete, enforceable, and urgent action is what this moment demands. The credibility of the UN is on the line. If the world body cannot protect its own peacekeepers, what exactly is it protecting?
To the nations of the world, now is the time to act together. Push for accountability. Refer those responsible to international courts. Enforce the rules that you all signed up to uphold. International law is only as strong as the willingness of nations to defend it. That willingness has been tested over and over again by Netanyahu’s regime. For countless of times, the world has failed the test.
Do not let this death be forgotten in a news cycle. Do not let this become just another statistic in a long list of violations. Demand justice. Demand accountability. Make clear that those who attack UN peacekeepers will face real consequences.
Kepada prajurit TNI yang gugur, selamat jalan, Pahlawan. Doa kami menyertai, juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Kepada yang terluka, semoga lekas pulih. Indonesia berduka, tapi kita yakin, Indonesia tidak akan diam.
Bertugas di Klinik Giving Without Borders, Relawan MER-C Bantu Layanan Kehamilan
Gaza – Lima bulan bertugas di Jalur Gaza, relawan MER-C Indonesia, Nadia Rosi, Amd.Kep, telah membantu pelayanan kesehatan di berbagai rumah sakit dan klinik di wilayah tersebut.
Saat ini, Nadia bertugas di Klinik Giving Without Borders (GWB) yang berada di Khan Younis, Gaza Selatan. Jika sebelumnya banyak menangani layanan perawatan luka, kali ini Nadia berkesempatan membantu pelayanan kesehatan ibu hamil atas permintaan salah satu bidan di klinik tersebut.
Dalam sehari, layanan pemeriksaan kehamilan di Klinik Giving Without Borders bisa mencapai 50 pasien setiap harinya.
Badai Pasir Landa Gaza, Klinik Giving Without Borders Tunda Layanan Sementara
Gaza – Badai pasir melanda Jalur Gaza pada Sabtu (14/3) dan berdampak pada layanan kesehatan di Klinik Giving Without Borders di Khan Younis, Gaza Selatan.
Relawan MER-C, Nadia Rosi, Amd.Kep, melaporkan langsung kondisi badai pasir yang terjadi serta situasi terkini di Klinik Giving Without Borders.
“Tidak banyak pasien yang datang. Biasanya dalam sehari bisa mencapai 1.000 pasien, tetapi hari ini hanya sekitar 200–300 pasien yang datang,” kata Nadia.
Ia menjelaskan, angin kencang menerjang sejumlah tempat pelayanan yang sebagian besar terbuat dari tenda. Selain itu, debu akibat badai pasir juga menyebabkan jarak pandang menjadi terbatas.
Klinik Giving Without Borders, yang sebelumnya dikenal sebagai Al Aqsa B, merupakan fasilitas kesehatan di Khan Younis, Gaza Selatan, yang beroperasi melalui kerja sama antara MER-C Indonesia dan Kementerian Kesehatan Palestina.
Sejak dukungan MER-C bersama Kementerian Kesehatan Palestina dimulai pada 1 Desember 2024, Klinik ini terus meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanannya. Saat ini, Giving Without Borders melayani rata-rata sekitar 1.200 pasien setiap hari.
Semoga badai ini cepat berlalu dan Klinik Without Borders dapat kembali beroperasi memberikan pelayanan untuk warga Gaza.
Akses Terputus, Tim Medis Gunakan Rakit Demi Layani Warga Desa Gunci
Pada hari Kamis, 25 Desember 2025, tim relawan medis dari MER-C bersama tim Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh (UNIMAL) melakukan misi kemanusiaan ke desa-desa terdampak bencana di Kabupaten Aceh Utara. Salah satu tujuan utamanya adalah Desa Gunci, sebuah wilayah dengan akses yang sangat sulit dijangkau. Karena rusaknya infrastruktur jalan akibat bencana, tim medis harus menempuh perjalanan yang menantang, bahkan direncanakan menggunakan rakit untuk mencapai lokasi guna memastikan warga mendapatkan perawatan medis yang diperlukan.
Kondisi pascabencana di wilayah tersebut terlihat sangat memprihatinkan, terutama di Desa Lokpungki. Banjir besar yang melanda sebelumnya telah mengakibatkan kerusakan parah, di mana arus sungai yang kuat meluap hingga menghanyutkan pemukiman warga. Tidak hanya rumah tinggal, fasilitas umum seperti area pemakaman pun hancur tak bersisa. Bekas terjangan banjir meninggalkan puing-puing dan hamparan tanah yang rusak, memaksa banyak warga untuk tinggal di tenda-tenda pengungsian sementara dalam kondisi yang terbatas.
Selama proses pemeriksaan kesehatan di Desa Gunci, dr. Nurul Gina Fadlillah melaporkan bahwa tim medis menemukan berbagai keluhan penyakit yang umum terjadi di lokasi pengungsian. Penyakit-penyakit tersebut meliputi dermatitis (infeksi kulit), ISPA, common cold, myalgia (nyeri otot), hingga cephalgia (sakit kepala).
Tim relawan yang juga diperkuat oleh tenaga medis dari UNS dan UGM ini bekerja sigap melakukan pengecekan kesehatan satu per satu kepada warga yang telah berkumpul di posko kesehatan darurat.
Selain memberikan pelayanan di posko utama, tim MER-C juga melakukan tindakan visitasi langsung ke tenda-tenda pengungsi. Langkah ini diambil untuk menjangkau pasien yang memiliki keterbatasan fisik sehingga tidak bisa mendatangi posko.
Ditemukan pula seorang pasien yang diduga menderita penyakit batu ginjal. Kehadiran tim medis gabungan ini diharapkan dapat meringankan beban warga dan mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut di tengah kondisi lingkungan yang masih belum stabil pascabencana.
Pak @ListyoSigitP berani menantang keputusan MK @officialMKRI bukan semata2 karena dia berani.
Sudah Pasti ini ada kekuatan elite besar yang berhasil nego sama POLRI @DivHumas_Polri untuk menukar kekuasaan POLRI di kementrian dengan kesetiaan polisi melindungi kepentingan dinasti @jokowi dan oligarkinya untuk pencapresan @gibran_tweet dipemilu 2029. Agar mereka bisa bebas kembali merampok NKRI seperti 10 tahun belakangan ini.
Semua ini tentang keamanan dinasti jokowi dan bisnis oligarki yang membiayai jokowi selama ini.
Dukungan Terus Berlanjut, MER-C Kembali Berangkatkan Tim Medis ke Gaza
Gaza - Dukungan terus berlanjut di tengah layanan medis Gaza yang kian memburuk, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Senin (24/11) mengirimkan Emergency Medical Team (EMT) ke-11.
EMT MER-C ke-11 terdiri dari empat relawan, yaitu: dr. Amalia Rahmadinie, Sp.An-TI (Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif), dr. Marzuki (Dokter Umum), dr. Reina Inka Amanda Sugihen, Sp.B.P.R.E (Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik), dan Rian Komarullah, Amd.Kep (Perawat).
Keberangkatan tim dari Jakarta dilepas oleh keluarga, relawan, serta staf MER-C.
MER-C telah mengirimkan tim medis ke Gaza sejak awal agresi dimulai, dengan tim pertama berhasil masuk pada 18 Maret 2024. Saat ini, EMT ke-10 juga masih berada di Gaza dan terus menjalankan tugas kemanusiaan.
Ketua EMT MER-C ke-11, dr. Amalia, menyampaikan bahwa tim telah melakukan persiapan dari aspek medis, logistik, hingga kesiapan mental.
“Dari sisi medis, kami memperbarui pelatihan penanganan kegawatdaruratan dan mempelajari kondisi-kondisi umum yang sering terjadi di zona konflik. Untuk logistik, kami menyiapkan pakaian musim dingin, obat-obatan pribadi, serta alat medis sederhana yang kami bawa dari Indonesia,” ujarnya.
“Sedangkan untuk persiapan mental sendiri, kami memperkuat emosional dalam menghadapi daerah konflik,” tambahnya.
Para relawan mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan dari MER-C untuk bertugas membantu warga Gaza, dan menyatakan siap ditempatkan di mana pun diperlukan.
“Kami akan mendukung program-program yang sudah berjalan di sana dan membantu rakyat sipil di daerah konflik. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar dan tim ini dapat bekerja kompak menghadapi segala tantangan,” kata dr. Marzuki.
Klinik Giving Without Borders di Gaza Selatan Gelar Edukasi Pengendalian Diabetes
Gaza – Klinik Giving Without Borders di Khan Younis, Gaza Selatan, pada Selasa (18/11) menggelar edukasi tentang pencegahan dan pengendalian diabetes, bertepatan dengan peringatan Hari Diabetes Sedunia.
Kegiatan ini berlangsung meski di tengah keterbatasan akibat blokade dan agresi yang masih terus dilakukan oleh penjajah Israel.
“Penjelasan dan panduan disampaikan oleh Tim Dukungan Psikososial dan Tim Edukasi Kesehatan kami, yang memberikan kiat praktis serta menjawab pertanyaan pasien,” ujar Direktur Klinik Giving Without Borders, Dr. Yousif Salah Al Farra.
Kegiatan ini diikuti sekitar 25 pasien yang berpartisipasi aktif, termasuk membagikan kisah inspiratif tentang peningkatan kesehatan mereka melalui pemantauan rutin di Klinik Giving Without Borders.
“Kegiatannya positif dan interaktif. Partisipasi dari pasien dan staf menunjukkan pentingnya kegiatan tersebut dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat,” kata Dr. Yousif.
Dalam kegiatan kali ini, Klinik menggunakan tema warna biru yang merupakan simbol Hari Diabetes Sedunia. Sebelumnya, klinik juga menggunakan pita merah muda sebagai simbol kesadaran kanker payudara pada peringatan Pink Oktober.
Klinik Giving Without Borders, sebelumnya bernama Al Aqsa B, beroperasi atas kerja sama MER-C dengan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza.
Sejak dukungan MER-C bersama Kementerian Kesehatan Palestina dimulai pada 1 Desember 2024, klinik ini terus meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanannya. Saat ini, Giving Without Borders melayani rata-rata 1.200 pasien setiap hari.
Sejak Kemerdekaan Palestina dideklarasikan pada 1988, hingga hari ini bendera kebebasan yang telah dirampas belum kembali dapat berkibar.
Gaza porak-poranda, Tepi Barat kian tergusur, Yerusalem dan sebagian besar wilayah Palestina lainnya masih berada dalam bayang-bayang penjajahan Israel.
Di hari peringatan Kemerdekaan Palestina, MER-C menegaskan solidaritas dan dukungan untuk rakyat Palestina, hingga keadilan dan kebebasan benar-benar terwujud.
_______
Since the declaration of Palestinian Independence in 1988, the flag of freedom that was seized has not yet returned to fly.
Gaza is devastated, the West Bank is increasingly displaced, Jerusalem and most of the other Palestinian territories remain under the shadow of Israeli occupation.
On the anniversary of Palestinian Independence, MER-C reaffirms its solidarity and support for the Palestinian people, until justice and freedom are truly realized.
AYO! Bangun Kembali Rumah Sakit Indonesia di Gaza
Genosida yang terus berlangsung telah menimbulkan krisis kemanusiaan yang parah di Gaza, Palestina.
Gaza hancur. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat aman tak luput dari serangan, dan kini harus bertahan di tengah kehancuran dan keterbatasan.
Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara menjadi salah satu yang terpaksa berhenti beroperasi akibat serangan dan pengepungan.
Namun, harapan tidak boleh padam. Bersama, kita bisa ikut membangun kembali Palestina — membangun kembali Rumah Sakit Indonesia.
Salurkan bantuan terbaik Anda melalui BYOND BSI:
1. Pilih Menu Berbagi
2. Pilih Donasi
3. Pilih Bangun Kembali RS Indonesia di Gaza
4. Masukkan nominal
5. Selesaikan transaksi
📞 Info & Konfirmasi Donasi:
https://t.co/z7m3D15kG7
0811 990 176