Dalam ilmu psikologi trauma dijelaskan bahwa ketika seseorang mengalami luka batin yang sangat dalam, ia tidak selalu menangis, berteriak, atau menunjukkan kemarahan. Justru, banyak orang menjadi sangat tenang, diam, dan terlihat baik-baik saja.
Hal itu terjadi karena otak memiliki mekanisme perlindungan diri. Saat rasa sakit terasa terlalu berat untuk diproses sekaligus, otak akan "mematikan" atau menekan sebagian respons emosi untuk sementara waktu. Tujuannya agar seseorang tetap bisa bertahan dan menjalani fungsi sehari-hari di tengah tekanan yang luar biasa.
awalnya lagi scrolling reels. tiba2 nemu video kak sabrina dan aku langsung baca tentang artikel yang dibahas. ada qoute yang ngena banget dari artikel ini yang bikin aku mikir tentang lazy ambitious
“a dream without action isn’t a dream. it’s a wish”
menarik banget untuk dibahas karena secara gak sadar pasti pernah kita lakuin.
SMP jadi pertama kali aku diwisuda—bukan wisuda sekolah, tp wisuda ngaji. Temen-temenku pada dibawain makanan/buket/kado.
Aku seneng, tapi ga berharap kalo ayah ibuku bakal ngasih kado juga. Karena aku tau, ayah ibuku baru tau kalo momen wisuda itu bisa dirayakan