pada akhirnya meja di samping tempat tidurmu beraroma minyak kayu putih, berita kematian semakin mampir di hari-harimu, hidup yang membosankan adalah sebuah berkah, orang-orang di sekitarmu sedikit namun luar biasa pengertian. sampai ke seluk beluknya.
Twit kemarin ini kami cΜ·uΜ·lΜ·iΜ·kΜ· cuplik dari potongan sajak Soe Hok Gie, Pesan.
Ditulis di ambang kelahiran Orde Baru, sajak tsb diterbitkan secara anumerta pada 18 Agustus 1973 oleh Sinar Harapan, surat kabar yang sempat dibredel Orde Baru karena pemberitaannya.
Ave Neohistorian!
Kami dengan tegas mengecam tindakan brutal yang menyebabkan gugurnya Gamma Rizkynata Oktafandy, seorang pelajar SMK yang juga anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) di Semarang, Jawa Tengah. Peristiwa tragis ini mencerminkan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan mencederai kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian yang seharusnya menjadi pelindung, bukan ancaman.
Penembakan terhadap seorang anak muda yang memiliki masa depan cerah adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan, baik secara moral maupun hukum. Kami menuntut kepolisian untuk bertanggung jawab penuh atas insiden ini, mengusut tuntas pelaku, serta memberikan sanksi yang setimpal. Keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu untuk memastikan bahwa tragedi serupa tidak pernah terulang.
Kami juga menyerukan reformasi mendalam dalam tubuh kepolisian agar profesionalisme dan integritas dapat ditegakkan. Pelatihan yang menekankan pada kemanusiaan, kontrol penggunaan senjata api, serta transparansi dalam penanganan kasus menjadi kebutuhan mendesak yang tidak boleh diabaikan.
Kami berdiri bersama keluarga almarhum dan masyarakat yang menyerukan keadilan. Gamma tidak boleh menjadi sekadar angka dalam statistik. Nyawanya adalah peringatan keras bagi kita semua untuk terus memperjuangkan reformasi institusi demi keselamatan dan kepercayaan masyarakat.