Berdasarkan Deep search yang gw lakuin, dengan perbandingan statistik secara global, media social dan internet, lalu coba mengkaji di keyword khusus atau tertentu, gw kaget karena kata yang lagi marak sepertinya adalah "visit kantor / kunjungan ke tempat kerja".
🌷: yang yang, awak kalo jadi buah, buah apa?
👍: buah apa ya
🌷: cepatlah
👍: buahhhLIL HHAHAHAHAHA
pengen kali ku jedotkan kepalanya ke meja inilah hehehehe🥰🥰🥰🥰
Ada satu nasabah laki-laki yang sampai hari ini masih saya ingat. Beliau termasuk salah satu nasabah yang paling sering menguji kesabaran seluruh tim kami di cabang. Awalnya, beliau dibawa oleh salah satu staff marketing saya. Nilai transaksinya cukup besar. Tapi hampir setiap datang ke cabang, selalu ada saja yang beliau komplain. Menurutnya, staff saya kurang teliti, kurang komunikatif, bahkan sering dianggap bekerja tidak becus.
Suatu hari pernah terjadi kesalahan.Karena kurang teliti, staff saya hampir kehilangan dokumen titipan milik beliau. Nasabah itu marah besar di depan banyak orang. Staff saya sampai menangis karena panik dan ketakutan. Saya menenangkan staff tersebut. Saya bilang, "Coba tenang dulu... pelan-pelan diingat lagi, terakhir dokumen itu ada di mana." Setelah dicek kembali dengan lebih tenang... Alhamdulillah, dokumennya berhasil ditemukan. Staff saya pun akhirnya bisa bernapas lega.
Namun, sikap nasabah itu belum berubah. Hampir setiap datang ke cabang, selalu ada saja staff yang dimarahinya. Lama-kelamaan, setiap beliau datang, staff service saya mulai merasa cemas. Suatu hari saya kembali melihat beliau memarahi salah satu staff service. Kali ini saya menghampiri beliau. "Ada apa ya, Pak?" Beliau langsung menjawab dengan nada tinggi. "Ini anak buah Ibu kerjanya nggak benar!" Saya jelaskan bahwa setiap transaksi memiliki proses yang harus dijalankan.
Ada prosedur yang harus dipatuhi, bahkan ada transaksi tertentu yang harus menunggu persetujuan dari kantor pusat. Setelah transaksi beliau selesai, saya mengajak beliau masuk ke ruangan saya. Saya merasa sudah waktunya kami berbicara baik-baik. Saya berkata, "Pak, kalau ada pelayanan yang menurut Bapak kurang memuaskan, silakan sampaikan langsung kepada saya." "Tapi saya mohon, jangan terus-menerus memarahi staff saya." "Mereka hanya menjalankan tugas dan prosedur yang memang harus dipatuhi."
"Kalau Bapak merasa pelayanan di cabang saya tidak sesuai dengan harapan Bapak, saya juga menghormati keputusan Bapak apabila ingin bertransaksi di cabang lain." Beliau terdiam. Mungkin baru kali itu ada yang menyampaikan hal tersebut dengan tegas, tetapi tetap menghormati beliau sebagai nasabah. Sejak hari itu... Perlahan sikap beliau berubah. Beliau jauh lebih tenang saat bertransaksi.
Bahkan suatu hari beliau berkata, "Bu, kalau ada apa-apa saya langsung bicara ke Ibu saja ya." Saya menjawab, "Silakan, Pak. Karena seluruh pelayanan di cabang ini adalah tanggung jawab saya. Saya juga akan memastikan seluruh staff saya bekerja dengan benar sesuai prosedur." Itulah salah satu pengalaman yang paling saya ingat selama menjadi seorang leader.
Bagi saya, seorang leader bukan hanya bertanggung jawab terhadap pencapaian target dan kepuasan nasabah. Leader juga harus berani menjadi garda terdepan ketika staff-nya mendapat perlakuan yang kurang baik, selama mereka bekerja sesuai prosedur dan menjalankan tugasnya dengan benar. Karena staff yang merasa dihargai, dipercaya, dan didukung oleh pemimpinnya akan bekerja dengan lebih tenang. Dan saat mereka bekerja dengan tenang, mereka akan memberikan pelayanan terbaik kepada setiap nasabah.
cc : dorathedoor