Keputusan dr.Icha untuk tidak memberikan SABU adalah tindakan yg tepat dan sesuai protokol medis.
Pasien gigitan ular ini cuma gejala lokal, lab normal, tidak ada indikasi anti bisa ular (SABU). Derajat luka gigitan dan tingkat keparahan gejala menjadi kunci penentuan tindakan.
Bahkan beliau sempat konsultasi ke ahli toksinologi dr. Tri Maharani yang bilang cukup imobilisasi saja, bukan anti bisa.
Kalau diberikan anti bisa tanpa indikasi, justru bisa membahayakan pasien karena risiko reaksi alergi berat sampai anafilaksis yang mengancam nyawa.
Sudah menyelamatkan pasien tapi malah kehilangan nyawa karena depresi ๐ญ
Turut berduka cita untuk dr. Icha & keluarga. ๐
Semoga beliau tenang di sisi-Nya.
Sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk menikmati permainan, merayakan kemenangan, dan tetap setia saat klub sedang terpuruk. Namun di era sekarang, muncul fenomena yang semakin sering terlihat, SIRIKISME. ๐
Fenomena ketika sebagian suporter atau fans tidak lagi fokus pada perkembangan klub yang mereka dukung, melainkan lebih sibuk memantau, mengomentari, dan berharap klub lain gagal juara. Ketika tim sendiri gagal meraih trofi atau prestasi, perhatian mereka tidak tertuju pada MASALAH klub yg mereka sukai.
Yang menjadi fokus justru berapa banyak trofi yang dimiliki rival, bagaimana cara meremehkan pencapaian mereka, dan kapan momen yang tepat untuk mengejek mereka.
"Padahal, keberhasilan klub lain tidak menghapus sejarah klub kita" ๐ค
Jumlah trofi klub yg udah dimenangkan tidak membuat koleksi berkurang satu. Namun bagi penganut SIRIKISME, melihat rival sukses sering kali terasa lebih menyakitkan daripada melihat timnya sendiri gagal.
Cirinya cukup mudah dikenali qo:
1. Lebih hafal kekalahan rival daripada kemenangan klub sendiri.
2. Muncul paling depan ketika rival kalah, lalu menghilang saat rival juara.
3. Menganggap setiap prestasi lawan sebagai ancaman terhadap harga diri pribadi.
4. Menjadikan kebencian terhadap rival sebagai identitas utama fandom.
5. Lebih sering membahas klub lain daripada klub yang mereka dukung sendiri.
Padahal esensi menjadi adalah tentang mendukung, bukan sekadar membenci.
Beberapa orang menonton bola untuk menikmati pertandingan.
Beberapa orang menonton bola untuk melihat pemain favoritnya berkembang.
Beberapa orang menonton bola untuk merasakan kebahagiaan ketika klubnya menang.
Tapi ada juga yang menonton bola hanya untuk menunggu klub lain terpeleset. Dan ketika rival terus berkembang, terus memenangkan trofi, dan terus menciptakan sejarah baru, mereka kehabisan bahan pembicaraan.
Ujung-ujungnya yang tersisa hanyalah membuka kembali arsip sejarah lama, mengulang cerita puluhan tahun lalu, dan hidup dalam kenangan yang semakin jauh dari realitas saat ini.
Masa depan dan sekarang tidak menarik bagi mereka.Karena satu-satunya tempat di mana mereka masih merasa unggul adalah masa lalu.
Kita tau sekarang sepak bola selalu bergerak ke depan. Generasi berganti, pemain berganti, pelatih berganti, bahkan dinasti pun berganti.
Kadang klub kita ada di fase jaya-jayanya. Tapi beberapa moment, klub yang kita cintai masuk kedelam jaman kegelapan atau dark era.
Yang terus hidup dalam nostalgia tanpa mampu menerima kenyataan hanya akan menjadi penonton dari sejarah yang sedang ditulis oleh orang lain.
PADA AKHIRNYA,
Klub juara mengangkat trofi ๐
Fansnya merayakan pencapaian klubnya ๐๐ค
Sedangkan penganut SIRIKISME,
mengangkat arsip, berharap masa lalu bisa mengalahkan kenyataan, menghabiskan waktu mengecilkan trofi, mencari celah untuk meremehkan prestasi, atau berharap keberhasilan itu terlihat tidak istimewa ๐ฅฒ
Dikit dikit sekte, dikit dikit satanic. Biasanya orang yang terlalu banyak waktu luang nih yang suka cap cap orang. Mulai dari beda pemahaman agama sampe hal hal kayak satanic gini ๐ .
Yang udah jelas jelas korupsi dan rugiin negara kok gak dicap cap gitu?
Dulu aku suka "nongkrong" di Nimo TV.
Pas lagi quarter life crisis ๐
Waktu itu komunitas PUBG lagi tinggi-tingginya.
Jadi banyak streamer PUBG kayak SkySkuuy, Bangpen, Bennymoza, Ryzen, dll di sana. Dan mereka suka saling ngobrol pake Discord yang live di channel masing-masing.
Tahu gak?
Aku suka nonton bukan buat lihat mereka main game.
Tapi, aku seperti punya rumah.
Tempat yang aku merasa jadi bagian di sana.
Tempat aku merasa gak sendiri.
Padahal obrolan mereka random banget. Seringnya receh, sesekali serius juga. Tapi, di sana segala overthinking-ku punya teman, apalagi saat live udah lewat tengah malam.
Sekarang pas lihat Marapthon,
nostalgiaku melayang ke masa itu.
Pasti banyak penonton mereka yang merasa tidak sendiri ๐
Mungkin ada belum dapat kerja.
Ada yang ditanya kapan nikah.
Kuliah belum selesai.
Kebutuhan rumah lagi mendesak.
Saat dunia tak bisa mendengar mereka,
Marapthon hadir buat menemani.