Siklus pertikaian/permasalahan yg tidak pernah terselesaikan itu analoginya kaya "si bisu berkata kepada si tuli, bahwa sibuta melihat si lumpuh berjalan."
Lempar terus tanpa sadar, padahal pondasinya semua itu soal "kesadaran" aja loh🙃
ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ
ㅤ ㅤ ㅤ
اهدأ، فقد أفنيتُ العديد من تجسدات ذاتي لأصل إلى هذا السكونㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ
Tenanglah, aku telah membunuh banyak versi diriku untuk menjadi setenang ini
ㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ
pemikiran kayak gini yg bikin kita ga kemana mana
atlit kok takut bersaing, kalo emang bagus ga peduli sebanyak apa diaspora dan pemain keturunan, ya tetep bakal kepake
marselino, rizki ridho, kambuaya sudah jadi bukti
Pada akhirnya, aku pikir, kita semua adalah bagian dari yg lebih besar dari segala hal yg telah dipelajari dalam ruang dan waktu itu sendiri. Karena tercapai nya peradaban Makhluk hidup terdiri dari ruang ilmu pengetahuan dan waktu dalam menyadari petunjuk dari Tuhan itu sendiri.
Se-pemahamanku, Manusia ini adalah ekspresi dari limitasi Tuhan. Kita perlu belajar apapun, kapanpun, dgn berbagai kurikulum dalam hidup kita masing-masing utk bertahan hidup, atau bahkan utk meninggalkan Dunia ini dalam keadaan yg menguntungkan dalam individu itu sendiri.
dgn berbagai cara apapun. Mau di ekspresi kan dalam bentuk kemarahan pun, itu hak individu Manusia itu sendiri, mau dgn bentuk kekecewaan, mau dgn bentuk kebahagiaan, atau bahkan yg flat-flat saja pun, Tuhan tak ada tendensi apapun tentang ekspresi kita selama hidup di Dunia ini.