Pimpinan sama simpatisan kok kompak sama sama denial? Tahana politik adalah kriminalisasi dan salah tangkap itu beneran ada. MBG mangkas anggaran pendidikan itu beneran ada. Guru kena efisiensi karena borosnya MBG itu beneran ada. Aparat ngisi pos sipil itu beneran ada. Publik marah kepada negara itu beneran ada. Mau denial apa lagi?
Guys, lu pada tahu nggak kenapa Habibie mencopot Prabowo dari Pangkostrat?
Dan yang lebih penting lu pada tahu nggak bahwa pencopotan itu terjadi dalam kurang dari satu hari setelah Habibie menerima laporan?
Ini bukan gosip.
Ini diceritakan sendiri oleh Habibie
dalam wawancara yang direkam tahun 2006.
Ini konteksnya dulu:
Mei 1998. Soeharto baru saja mundur.
Habibie dilantik sebagai presiden.
Indonesia dalam kondisi paling kacau sejak 1965 demonstrasi massal, kerusuhan, ekonomi hancur, dan kepercayaan publik terhadap negara di titik nol.
Habibie baru duduk di kursi presiden.
Belum hafal protokolnya.
Dia sendiri cerita waktu mau duduk di kursi kerja presiden, dia bingung mau duduk di mana karena tidak tahu posisi duduk yang benar sebagai presiden.
Sampai protokol yang kasih tahu.
Di tengah situasi sekacau itu Wiranto datang menemui Habibie dengan laporan yang sangat serius.
Ini isi laporan Wiranto:
Ada gerakan pasukan Kostrat yang bergerak menuju dua titik: Istana dan kawasan Kuningan tempat rumah Habibie berada.
Pangkostrat saat itu: Prabowo Subianto.
Wiranto juga menyampaikan satu hal lagi yang sangat penting: dia memegang Kepres yang memberikan kewenangan bertindak mengamankan situasi kalau keadaan membutuhkan "seperti Supersemar."
Bayangkan momen itu.
Presiden baru yang baru beberapa hari menjabat. Pasukannya sendiri bergerak tanpa perintah.
Dan Pangab datang dengan Kepres yang bisa memberinya kewenangan mirip Supersemar.
Habibie mendengar semua itu.
Diam sebentar.
Lalu menyimpulkan satu hal tentang Wiranto:
"Saya terkesan orang ini jujur."
Dan ini keputusan Habibie:
Tidak ada rapat panjang.
Tidak ada sidang kabinet darurat.
Tidak ada negosiasi.
Habibie memberikan petunjuk langsung kepada Wiranto:
"Sebelum matahari terbenam Pangkostrat diganti.
Dan kepada penggantinya ditugaskan untuk segera mengembalikan semua pasukan Kostrat ke tempatnya masing-masing."
Satu kalimat perintah.
Satu hari. Selesai.
Prabowo dicopot dari Pangkostrat sebelum hari itu habis.
Dan ini pertemuan yang paling mengejutkan setelahnya:
Prabowo tidak terima.
Dia datang langsung ke ruang kerja presiden menemui Habibie.
Habibie sebenarnya bisa menolak.
Tidak ada kewajiban protokol untuk menerima perwira yang baru dicopot tanpa permintaan formal.
Tapi Habibie menerima karena dua alasan pribadi:
Satu โ ayah kandung Prabowo adalah Prof. Sumitro Djojohadikusumo yang sejak Habibie SMA sudah jadi idolanya. Keluarga yang sangat dihormatinya secara intelektual.
Dua โ Habibie menduga mungkin ada titipan pesan dari ayah mertua Prabowo yaitu Soeharto yang saat itu sudah tidak bisa ditemui langsung.
Tapi yang terjadi di ruangan itu sama sekali tidak seperti yang Habibie perkirakan.
Prabowo menurut cerita Habibie sendiri langsung berkata:
"Anda ini presiden apa? Naif."
Dan ini jawaban Habibie yang menurut gue paling berkarakter dalam seluruh cerita ini:
Tidak marah.
Tidak tersinggung.
Tidak balas dengan ancaman atau kemarahan.
Habibie menjawab santai:
"Masa bodoh.
Yang penting saya presidennya.
Saya yang menentukan finish."
Lalu Habibie menambahkan refleksi yang sangat jujur: banyak orang memandangnya sebelah mata "Habibie kan tukang, bisa buat kapal terbang, mejanya penuh teknologi, tidak ngerti yang lain."
Tapi bagi Habibie justru itu keuntungan.
Karena dia tidak merasa terhina oleh kata-kata itu.
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Habibie adalah presiden yang legitimasinya paling dipertanyakan dalam sejarah Indonesia.
Naik bukan karena dipilih rakyat.
Naik karena Soeharto mundur.
Banyak yang meremehkannya.
Banyak yang menganggapnya tidak punya otoritas nyata.
Banyak yang berpikir dia hanya boneka transisi yang bisa dikendalikan.
Tapi dalam momen paling krusial itu ketika pasukan bergerak tanpa perintah menuju Istana dan rumahnya sendiri Habibie tidak panik.
Tidak ragu.
Tidak menunggu situasi makin memburuk.
Dia memberi satu perintah.
Sebelum matahari terbenam.
Dan ketika perwira yang dicopot itu datang menyebutnya naif di mukanya langsung dia menjawab dengan ketenangan orang yang tahu persis di mana otoritasnya berdiri.
Yang penting saya presidennya.
Saya menentukan finish.
Habibie mencopot Prabowo
bukan karena dendam pribadi.
Bukan karena politik.
Tapi karena ada gerakan pasukan yang tidak sesuai struktur komando bergerak menuju Istana dan rumah presiden tanpa perintah resmi.
Dan dalam sistem militer manapun di dunia itu bukan sesuatu yang bisa dibiarkan.
Tidak peduli siapa yang memimpin gerakan itu.
Tidak peduli seberapa dekat hubungan personalnya dengan presiden.
Habibie mungkin dianggap naif oleh banyak orang.
Tapi orang yang dianggap naif itu dalam satu hari mengambil keputusan militer yang mungkin menyelamatkan Indonesia dari skenario yang jauh lebih buruk dari yang benar-benar terjadi.
Dan 27 tahun kemudian perwira yang dicopot itu menjadi presiden.
Sementara yang mencopot sudah lama berpulang dan dikenang sebagai salah satu tokoh paling bersih dalam sejarah republik ini.
Sejarah punya cara tersendiri untuk menjawab siapa yang naif dan siapa yang tidak.
13 Mei 1998, kerusuhan mulai pecah di Jakarta, dan memuncak esok harinya.
Penjarahan, pembakaran, perusakan, dan penyerangan terjadi di mana-mana.
Presiden Soeharto yang berada di Mesir mempercepat kepulangannya. Ia tiba di Jakarta pada 15 Mei, disambut kota yang terbakar.
@Duniawni Indonesia kebanyakan bikin singkatan. Makanya nyebutnya lowongan kerja, bukan loker. Segala bawang merah, bawang putih pun dibikin singkatan. ๐ฎโ๐จ๐ฎโ๐จ
Innalillahi
Dokumen yang bocor dari Parlemen Eropa dilaporkan mengungkapkan bahwa UEA membayar jutaan dolar kepada sebuah perusahaan Swiss untuk menjalankan operasi fitnah terselubung di seluruh Eropa, yang menargetkan Islam, Muslim, masjid, jurnalis, dan politisi di 18 negara.
Operasi tersebut diduga mendanai jaringan berita palsu yang dirancang untuk menjelekkan umat Muslim, menggambarkan mereka sebagai "musuh dari dalam," menyebarkan disinformasi untuk menutup masjid, dan memicu kebencian publik.
Skandal besar kini sedang terungkap di Eropa.
Pada tahun 1980-1990an, preman-preman buas dari Timor Timur semakin membludak di Jakarta.
Preman-preman ini berkhianat terhadap bangsanya sendiri. Mereka menjadi anjing peliharaan ABRI di Timor Timur.
Akibatnya, mereka tak punya rumah untuk pulang.
Kalau begitu, apa yang mereka lakukan?
Mereka menjadi seperti karma bagi Indonesia: giliran kita yang dijajah dan dirampok.
Faksi ABRI yang beroperasi di Timor Timur sangat berhasil membentuk suatu mesin penindasan dan pemalakan buas. Saking berhasilnya, ketika mereka menyebar dan menginfeksi kota-kota Indonesia seperti hama tikus, kita kewalahan.
Preman-preman asing ini menetap di kota besar seperti Jakarta. Mereka kemudian memungli, memalak, dan memukuli rakyat kecil di Jakarta, terutama di Tanah Abang.
Oleh preman-preman ini:
- Pedagang pasar dirampok.
- Pembeli pasar dirampok.
- Orang yang parkir dirampok.
- Ruko dirampok.
- Perumahan cluster dirampok.
- Rumah-rumah kumuh dirampok.
- Perkapalan dirampok.
- Pelabuhan kontainer dirampok.
- Truk dirampok.
- Gudang dirampok.
- Pabrik dirampok.
- Gedung-gedung kantor dirampok.
- Perusahaan di dalam gedung-gedung itu dirampok.
Mereka kerap tawuran dengan gerombolan preman lain yang tidak kalah jahat dan buasnya untuk memperebutkan daerah rampokan. Secara jumlah mereka kalah dengan gerombolan preman dengan seragam warna luar biasa norak, sehingga mereka lebih fokus ke kekejaman dan kebengisan.
Warga Jabodetabek sangat resah. Malam hari sangat mencekam.
Punglinya sangat mahal. Pedagang yang tidak bayar dipukuli sampai mampus sebagai percontohan.
Orang yang bilang bahwa "zaman Orde Baru lebih enak" jelas belum pernah dipukuli preman-preman buas peliharaan rezim ini karena tidak punya uang untuk setor pungli, sebagai percontohan untuk pedagang-pedagang lainnya.
Argumen bahwa "Orde Baru membasmi preman" dipatahkan dengan keberadaan gerombolan-gerombolan preman ini.
Kriminalitas bukannya dibasmi, melainkan dilembagakan.
Bukan hanya dilembagakan, setoran punglinya juga dilembagakan. Supaya tidak dipetrus, para preman ini menyetor ke beking-beking mereka di atas.
Beking-beking rezim ini, in turn, melindungi preman-preman itu dan bahkan senang apabila pedagang kecil dipukuli sampai mampus. Semakin banyak pedagang yang diperas, semakin banyak uang yang terkumpul untuk disetor ke beking.
Beking-beking rezim ini kemudian memakai uang setoran hasil merampok pedagang dan pembelinya itu untuk berjudi, bermabuk-mabuk, menyewa prostitusi, atau (dan terutama) menyetor ke atasan mereka. Dan seterusnya.
Megawati naik menjadi pemimpin oposisi melawan Orde Baru pasca Kudatuli karena narasi sederhana: rezim Orde Baru adalah rezim preman. Rezim mafia kriminal, dengan Soeharto sebagai ketuanya seperti Don Corleone dalam film "The Godfather".
Kudatuli bukan disebabkan "preman kiriman rezim Soeharto". Melainkan, Soeharto, keluarganya, dan seluruh anak buahnya *adalah* preman.
Media AsiaWeek misal mencatat bagaimana preman-preman Timor terlibat langsung menyebabkan Kerusuhan Mei 1998. Saat itu, preman-preman Timor didatangkan dengan pesawat ke Yogyakarta lalu dibawa ke Jakarta pakai kereta api oleh beberapa oknum jenderal yang memelihara mereka sebagai semacam gerombolan tukang pukul (dan tukang bunuh) pribadi.
---
Gerombolan-gerombolan preman berkostum Betawi dan berkostum Islam garis keras sebenarnya muncul sebagai reaksi terhadap kegagalan negara membasmi preman-preman buas semacam ini dari pasar dan ruang-ruang hidup rakyat kecil di daerah kumuh Jakarta.
Debutnya terjadi pada akhir 1990an, yaitu ketika gerombolan-gerombolan preman yang berkostum etnis Betawi berhasil menggulingkan dominasi preman Timor dari Tanah Abang.
Gerombolan baru ini tetap memungli dan memalak ekstrem, tetapi dengan rate yang lebih masuk akal untuk dibayar pedagang dan dengan kekerasan yang jauh lebih dikurangi.
Daripada kekerasan murni, mereka memakai etnopopulisme sektarian Betawi untuk melakukan pendekatan yang politis, tidak seperti para preman Timor dan preman tua lain yang hanya bisa memukul dan membacok.
Preman-preman baru yang lebih efektif ini kemudian merapat dengan rezim Orde Baru dan bahkan bergabung dengan preman lama dalam suatu koalisi besar Pam Swakarsa untuk memukuli dan meneror para aktivis Reformasi.
Beberapa dari mereka bahkan membantu keluarga Cendana melakukan aksi teror dan bom terhadap usaha pengusutan kasus-kasus korupsi Orde Baru, sebagaimana diungkap Gus Dur pada September 2000.
Dalam serangan bom mobil yang mereka lancarkan pada Bursa Efek Jakarta, 15 orang tewas terburai menjadi potongan-potongan kecil tubuh manusia.
Keluarga Cendana dan kroni-kroninya sendiri memiliki uang dengan jumlah sangat banyak yang mereka rampok dari berbagai sumber, seperti monopoli ekspor impor migas di Petral.
Uang rampokan itu kemudian menjadi sumber dana aksi-aksi teror preman untuk menghalangi orang-orang Reformasi yang berusaha mengusut mereka.
Judul film: MARZUKI
Protagonis: Marzuki Darusman
Antagonis: Tommy Soeharto
Genre: Thriller
Prolog: Jaksa Agung Marzuki Darusman menggebrak meja dan menjerumuskan Bob Hasan, operator bisnis keluarga Cendana, ke dalam jeruji. Ketika Bob Hasan diseret aparat ke luar ruangan, ia melotot seperti psikopat dan mendesiskan suatu ancaman.
Di kantor Kejaksaan Agung, sebuah peta terpasang di dinding kantor Marzuki yang memetakan tokoh-tokoh dan usaha-usaha kotor jaringan kriminal Soeharto. Foto Soeharto selaku the Lord of Crime di Indonesia tertempel di tengah.
Marzuki mengambil spidol merah dan mencoret foto wajah sangar salah satu kroni terbesar Soeharto, Bob Hasan, dengan sebuah "X" tebal.
Target buruan Marzuki berikutnya: anggota inti keluarga Cendana, Tommy Soeharto.
Saat itu, Marzuki tak tahu bahwa ia akan menjadi seperti Harvey Dent di film serial "Batman". Semakin dalam ia mengusut, semakin banyak korban sipil yang akan dibantai dengan sadis dan acak oleh si gila penjahat super.
---
Sinopsis:
- Sinopsis sebagaimana quote tweet, beserta berbagai tambahan.
Alur cerita mengikuti Marzuki yang berkelit menghadapi berbagai ancaman bom, tembakan, fitnah, dan goncangan politik dahsyat. Bukti-bukti tak terbantahkan disusun rapi.
Sisi Marzuki yang sangat khawatir dengan keselamatan keluarganya dan rakyat sipil juga ditunjukkan. Terjadi konflik dengan Menhan Mahfud MD yang, sebagaimana amanah jabatannya, memprioritaskan keselamatan rakyat dari terorisme bom dan pembunuhan massal acak.
- Monolog tokoh supervillain jahat yang menghina-hinakan lemah dan kacaunya pemerintah Reformasi.
Indonesia terlalu beragam, luas, dan kacau untuk diperintah lewat demokrasi. Hanya tangan besi fasis Soeharto yang dapat mengendalikan Indonesia.
Kata monolog jahat itu, pemerintah Reformasi lemah. Mereka tak berkutik. Dengan sedikit sentilan saja, Indonesia akan roboh dengan mengerikan seperti rumah kartu.
Sambil mengatakan hal itu, si penjahat super menyentil rumah kartu yang tersusun dengan rapi di meja judinya hingga roboh. Ia tertawa jahat terbahak-bahak. Scene robohnya rumah kartu itu dilanjutkan dengan scene robohnya rumah di Ambon akibat terlalap api kerusuhan besar antar agama.
- Pengembangan emosional untuk korban-korban pengeboman dan pembunuhan seperti korban bom Bursa Efek, korban bom berantai Malam Natal, dan keluarga Hakim Syafiuddin.
Kisah perjuangan Marzuki diikuti oleh dua orang Kristen taat yang menonton berita di TV. Orang pertama teradikalisasi kasus sektarianisme di Ambon, Poso, dll dan punya pandangan sangat buruk terhadap orang Islam ("saudara kita dibantai jihadis!"). Orang Kristen kedua adalah kebalikannya, ia sangat percaya bahwa pemerintah Reformasi akan bisa melindungi dan mewujudkan masyarakat bersih berbhinneka.
Pada Bom Malam Natal, orang pertama diselamatkan Riyanto anggota Banser NU dan orang kedua mati terbunuh bersama keluarganya.
Sebuah boneka beruang yang terkoyak jatuh terpental berlumuran darah.
- Perklenikan dan perdukunan keluarga Cendana dikontraskan dengan latar Islam Gus Dur lewat instrumen karakterisasi dukun Ki Joko Bodo, yang dimintai konsultasi oleh gerombolan Tommy dalam merancang pengeboman berantai.
Plot twist! Ternyata Ki Joko Bodo patriot. Ia tak setuju dengan rencana jahat Tommy untuk melakukan pengeboman berantai di Kejagung, Kemenperindag, dan Dirjen Pajak, seolah Tommy adalah tokoh penjahat teroris dalam serial manga "Detective Conan".
Ki Joko Bodo kemudian bekerja sama dengan kepolisian untuk merancang drama spektakuler menangkap basah orang kepercayaan Tommy, Elize Tuahatu, di Taman Mini Indonesia Indah.
- Kontras antara perklenikan dukun para keluarga Cendana dengan gerombolan preman berideologi sektarian ekstrem yang dipelihara Tommy dan keluarga Cendana sebagai the Lord of Crime.
Ketika Muslim sungguhan seperti Riyanto, anggota Banser, syahid membela saudara sebangsanya sendiri pada peristiwa Bom Malam Natal, gerombolan preman yang mengaku membela Islam malah memakai ideologi ekstremis yang menyimpang untuk menjadi anjing peliharaan keluarga Cendana yang klenik dan dukun. Woof!
- Kebimbangan Marzuki setelah goyangan ekonomi.
Gus Dur diteriaki perwakilan bisnis, investor, dan bank karena tak bisa menjaga kamtib. Salah satu perwakilan bank asing basah kuyup dan acak-acakan karena terpeleset saat dievakuasi pasca bom.
Drama fiktif dompet anak buah Marzuki dicopet seorang anak jalanan di bawah umur. Ketika copet kecil itu dibekuk polisi, ia mengaku mencopet karena lapar.
- Wajah aktor pemeran Tommy tak pernah diperlihatkan sampai ia tertangkap dengan memalukan oleh Tim Kobra yang dikomandoi Tito Karnavian di Bintaro.
Semua scene menunjukkan Tommy sebagai semacam kriminal dari film serial "James Bond" yang diperlihatkan sedang berjudi, menyusun kartu poker, atau berbentuk suara marah yang muncul di telepon, tetapi wajahnya selalu tak ditunjukkan sampai akhir.
Epilog:
- Pada 2009, Marzuki diajak Sekjen PBB Ban Ki Moon untuk membaktikan keahliannya pada dunia. Ia mengejar dan mengusut berbagai kehajatan HAM internasional.
Dari TV di kamar hotel di Pakistan, Marzuki menonton berita Tommy Soeharto yang sudah bebas karena remisi mencalonkan diri menjadi Ketua Umum Golkar dan disambut meriah di Munas Pekanbaru.
Narasi:
- Menginformasikan publik bukan hanya tentang bagaimana sejarah terjadi, melainkan juga bagaimana kejaksaan dan kepolisian (seharusnya) tegas bekerja secara prosedural.
- Memberikan role model aura farming bagi anggota kepolisian dan kejaksaan di Indonesia dengan menggunakan kasus penangkapan Tommy sebagai percontohan.
Tito Karnavian muda yang berhasil menjambak keluar Tommy dari tempat persembunyiannya ditampilkan sebagai model polisi gagah, tegas, dan profesional yang ideal.
Marzuki dimodelkan sebagai tokoh jaksa ideal yang tegas, bersih, tak kenal takut, dan gagah berani meski diteror pembunuhan dan bom sampai mengungsi ke hotel.
---
Tokoh utama Era Reformasi di bidang penegakan hukum adalah Marzuki Darusman.
Bukan Tommy.
Konfrontasi 1963 adalah bencana besar bagi bangsa Indonesia.
Semua orang yang mendukung Konfrontasi seperti Soebandrio dll adalah orang tolol yang patut diabaikan.
Bayangkan, saat itu Indonesia sangat tergantung dengan ekspor komoditas dan impor beras.
Tanpa hubungan dagang ke luar negeri, Indonesia akan tidak punya uang dan tidak punya beras.
Apa yang akan terjadi apabila Indonesia menjadi sangat terisolasi secara internasional?
Apa yang akan terjadi apabila kita tidak bisa lagi mengekspor komoditas dan tidak bisa lagi mengimpor beras?
Oh, kita tahu apa yang akan terjadi: hiperinflasi dan kelaparan massal.
Apakah kas negara rezim Soekarno yang tersisa saat itu cukup untuk mencetak sawah massal dan menciptakan swasembada beras, sehingga tidak perlu impor? Jelas tidak.
Apakah Soekarno mencoba? Juga tidak.
Semua uang yang tinggal sangat sedikit itu malah dihamburkan Soekarno dan gengnya untuk perang dan untuk proyek mercusuar.
Pada saat yang bersamaan, produksi komoditas Indonesia ambruk setelah Djuanda meninggal.
Di bawah orang politik seperti Chaerul Saleh yang tidak tahu apa-apa, ekonomi sektor komoditas dikelola asal-asalan dan dirampok habis-habisan.
Penanaman dilakukan asal-asalan. Benih yang seharusnya ditanam dicuri. Kas perusahaan hilang. Truk rusak dan perusahaan tidak mampu beli lagi. Tanamannya mati karena yang menanam bodoh. Pekerjanya tidak digaji. Dan seterusnya di seluruh level Ekonomi Terpimpin.
Jadi kita bahkan sudah tidak punya kayu, karet, kopi, dll untuk dijual.
Akibatnya, kita tidak punya uang. Kita tidak bisa jualan (karena Konfrontasi) dan kita tidak punya apa-apa untuk dijual (karena miskelola).
Akibatnya, kita tidak bisa lagi mencetak sawah. Atau membangun irigasi dan jalan. Atau membuat program penyuluhan dan pelatihan tani. Atau memproduksi pupuk. Atau membeli truk untuk mengangkut truk dan berasnya.
Akibatnya, kita tidak bisa membeli beras dan tidak bisa memproduksi beras.
Akibatnya, kelaparan massal.
Setelah Soekarno tumbang, seluruh kebijakan pemulihan ekonomi Menteri Ekonomi HB IX dan tim Mafia Berkeley-nya didasari pada situasi negara yang sangat tidak ada uang, sangat miskin, dan sangat menyedihkan ini.
Sejak itu juga, posisi Menteri Luar Negeri biasanya diisi diplomat yang sangat berhati-hati dan paham dengan hal-hal strategis dan teknis semacam ini, dan bukannya orang random yang tidak tahu apa-apa.
"Indonesia negara kaya."
Kaya akan apa? Karet? Kopi?
Kopi harus:
1. Ditanam
2. Dirawat
3. Dipanen
4. Diangkut
5. Dijual
Orde Lama gagal total di sini. Perkebunan diisi gerombolan perampok dan pemalak. Produksi anjlok. Pembeli kabur.
Lalu Indonesia roboh dengan mengerikan.
Rezim Soekarno sangat korup.
Korupsi gila-gilaan. Pemalakan gila-gilaan. Perampokan gila-gilaan.
Perusahaan hasil nasionalisasi dirampok. Hasil panen dirampok. Kas dirampok. Truk dan alat kebun dikilo dan dirampok.
Angkatan 66 mencita-citakan Orde Baru yang anti-korupsi.
Ini terdengar sangat lucu hari ini. "Orde Baru anti-korupsi".
Yang harus kita pahami, saat itu banyak orang tidak paham Soeharto itu siapa.
Setelah G30S, tiba-tiba aja ada jenderal random yang muncul. Apparently sekarang dia yang berkuasa, somehow.
Ketika demo anti-Sukarno semakin meluas, arsitek-arsitek Orde Baru berharap bahwa jenderal random baru ini akan mau memimpin Indonesia keluar dari miskelola, korupsi, konflik tanah, polarisasi massa, kemiskinan, dan kelaparan Orde Lama yang mengerikan dan membawa Indonesia menuju zaman modern.
Letjen Soeharto, mendengar mimpi-mimpi ini, tentu diam saja.
Ia tidak berusaha mengoreksi idealisme Angkatan 66 ini dengan berkata "Wah maaf, sebenarnya sayalah koruptor zaman Orde Lama itu. Dulu saya gemar merampok kayu bulat di Jawa Tengah bersama Sudono Salim dan saya akan melakukannya lagi."
Saat itu tidak ada yang bisa membayangkan 32 tahun ke depan, Indonesia akan menjadi seperti apa. Yang diketahui Angkatan 66 seperti Soe Hok Gie hanyalah bahwa Orde Lama jelas gagal, kegilaan dan konflik politik harus distop, kelaparan massal harus distop, hiperinflasi harus distop, isolasi dunia harus distop, ahli harus diberikan kekuasaan untuk menyelamatkan negara.
Udah bagus ada jenderal baru random ini yang ternyata berhasil menentang dan mengepung Sukarno dengan efektif. Gas dukung.
Setidaknya, pada awal-awal Orde Baru, para pembaharu teknokratis benar-benar diberikan kekuasaan. Indonesia berhasil pulih dari kebencian akar rumput, kegilaan, kemiskinan, dan kelaparan Demokrasi Terpimpin.
Vibe pembaruan, modernisasi, teknokrasi ilmiah, dan agenda pembangunan Orde Baru ini terus berjalan cukup lama sampai Peristiwa Malari 1974.
Setelah itu, Raja Jawa melepas topeng dan impunitas merajalela.
- Tahun 1975, invasi Timor Timur dilancarkan. Sepertiga populasi Timor Timur mati dibantai atau karena kelaparan, diare, disentri, dll karena societal collapse seperti di Gaza hari ini. Sistem pertanian Timor Timur dimusnahkan dengan senjata biologis.
Salah satu contoh pembunuhan massal paling brutal dan mengerikan di Timor Timur adalah pembantaian di Kraras, yang pelakunya tidak pernah diusut.
- Tahun 1978, HB IX meninggalkan pemerintahan, asas tunggal Pancasila diterapkan, dan pasukan tentara masuk kampus ITB. ITB yang menjadi salah satu sumber pemikir Angkatan 66 kini duduki tentara.
- Tahun 1980, Soeharto berlagak seperti bos geng preman jalanan dengan mengancam bahwa anggota DPR/MPR yang berani menentangnya akan diculik dan dibunuh tentara.
Peristiwa mengerikan ini dicatat sejarah sebagai "Pidato Pekanbaru 27 Maret 1980" dan "Pidato Cijantung 16 April 1980". Atau sebagaimana dicatat oleh terminologi modern, "Soeharto Crash Out".
Monolog bos supervillain kartun yang mengancam-ngancam penculikan dan pembunuhan ini dikeluarkan Soeharto di markas-markas ABRI di depan para komandan. Monolog ini mengundang keprihatinan tokoh-tokoh negarawan senior yang lalu menandatangani Petisi 50, seperti Nasution, Sjafruddin Prawiranegara, Natsir, Hoegeng, dan Ali Sadikin. Mereka lalu direpresi habis-habisan.
- Tahun 1983, konsolidasi preman se-Indonesia dimulai lewat Petrus. Semua preman yang tidak mau masuk ke dalam struktur mafia raksasa yang diketuai Soeharto dibantai di jalanan. Soeharto menjadi Raja Preman seperti Don Corleone dalam film "The Godfather".
- Tahun 1984, golongan-golongan Islam dibantai di Tanjung Priok.
- Tahun 1987, monopoli cengkeh di bawah BPPC milik Tommy Soeharto mulai dibentuk. Anak-anak Cendana sudah besar dan siap merampok habis seluruh negara Indonesia.
---
Soekarno melakukan pembiaran korupsi. Soeharto adalah orang yang melakukan korupsinya. Dalam hal ini, kita tak banyak berubah.
Pada Maret dan April 1980, Soeharto melakukan aksi menggegerkan.
Di depan pimpinan ABRI, Soeharto tiba-tiba meracau seperti penjahat super yang bermonolog di film kartun.
Dalam monolog itu, Soeharto mengancam akan menculik dan membunuh anggota DPR/MPR yang berani menentangnya.
Ia mengancam akan menggerakkan tentara untuk melakukan ini, seolah ABRI adalah gerombolan preman sewaan miliknya dan milik keluarganya pribadi.
Saat itu, Soeharto baru saja memulai periode ketiga sebagai presiden.
Masa transisi ke periode ketiga ini sebelumnya didahului aksi mengejutkan Hamengkubuwana IX yang tiba-tiba memutuskan mundur meninggalkan pemerintahan sebagai protes terhadap Soeharto yang semakin lalim dan rampok.
Mundurnya HB IX tidak datang tiba-tiba, melainkan didahului pembantaian massal di Timor Timur pada 1975, terbongkarnya megakorupsi gila-gilaan Ibnu Sutowo pada 1976 di Pertamina, dan pemilu 1977 yang telat setahun dan hanya diikuti 3 parpol.
Berbagai protes terhadap tren otoriter ini dibungkam. Ikrar Mahasiswa 1977 yang menolak pencalonan kembali Soeharto untuk periode ketiga ditumpas. Kampus ITB diserbu dan diduduki pasukan tentara.
Tren otoriterisme ini memuncak pada dua monolog aneh yang diberikan Soeharto di markas Kopassus (dahulu Kopassandha) di daerah Cijantung, Jakarta dan di musyawarah petinggi-petinggi ABRI di Pekanbaru.
Secara praktis, monolog dimaksudkan sebagai perintah terhadap para komandan tentara yang berkumpul. Perintahnya adalah supaya tentara kembali menculik dan membunuh seperti zaman 1965-1967 apabila situasi yang mengharuskan kembali muncul.
Crash out "culik dan bunuh" mengerikan Soeharto jelas tidak lazim keluar dari mulut seorang kepala negara.
Skandal mengejutkan ini mengundang kesedihan dan keprihatinan mendalam dari berbagai tokoh negarawan seperti A.H. Nasution, Ali Sadikin, Muhammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, dan berbagai tokoh lainnya.
50 orang negarawan yang berhasil terkumpul kemudian menandatangani surat petisi kepada DPR/MPR supaya dibentuk suatu komisi parlemen untuk menginvestigasi monolog yang tak wajar dan sewenang-wenang itu. Apalagi, yang diancam dibunuh adalah anggota DPR/MPR.
Mendengar aksi para penandatangan petisi, ternyata Soeharto sangat marah meledak-ledak. Intel rezim langsung turun. Semua orang yang menandatangani diteror dan ditindas habis-habisan hingga ke depan rumah dan ke dalam rumah mereka.
Misalkan A.H. Nasution, secara praktis bapak pendiri institusional ABRI, dilarang untuk bahkan datang ke kondangan atau pemakaman keluarga teman-teman seperjuangannya tanpa restriksi ketat. Pahlawan nasional ini dihinakan, diperlakukan seperti eks tapol PKI, dan dikucilkan.
Ketika keluarga Nasution ingin berlibur ke Singapura, Nasution dicekal. Ia terpaksa gabut menunggu di Batam dengan dipelototi intel sedangkan keluarganya berlibur di seberang selat.
Anak Nasution yang berprestasi cemerlang sebagi pilot pesawat tempur ikut dicekal. Karirnya buntu. Bukan hanya Nasution yang diperlakukan seperti PKI oleh Soeharto, melainkan juga keturunannya.
Nasib serupa menimpa mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin yang kepopulerannya sangat ditakuti dan dicemburui Soeharto, juga berbagai tokoh lain yang menandatangani petisi 50 itu. Mereka semua diperlakukan seperti eks tapol PKI.
Biang kerok Krisis Ekonomi 1998 yang jarang dibahas adalah Tutut Soeharto.
Saat itu para pebinis, bank, investor sangat menunggu susunan Kabinet Pembangunan VII.
Kalau menteri yang dipilih jenius, mungkin Indonesia masih bisa diselamatkan.
Yang dipilih malah Tutut.
Tutut malah ditunjuk jadi *menteri* dan duduk di dalam kabinet. Ini terjadi di tengah-tengah krisis 1998.
Bukan hanya Tutut. Bob Hasan juga muncul.
Bob Hasan "si raja hutan", oligarki kroni Soeharto yang sudah lengket sejak mereka sibuk merampok hasil perkebunan gula di Jawa Tengah pada tahun 1950an ketika Soeharto masih jadi kolonel, malah ikut ditunjuk jadi menteri.
Posisinya tidak kaleng-kaleng. Bob Hasan ditunjuk menjadi *Menteri Industri dan Perdagangan*. Ini terjadi ketika seluruh industri di Indonesia sedang meledak hancur dan seluruh perdagangan di Indonesia sedang meledak hancur.
Ternyata, Soeharto yang sudah sakit-sakitan, tua, pikun, dan stroke menunjuk Tutut sebagai perwakilan utamanya untuk mengendalikan kabinet.
Soeharto yang sudah sangat uzur dan ringkih tak lagi bisa mengontrol dan mendisiplinkan anak buahnya secara langsung seperti dahulu. Ini sangat meresahkannya, mengingat semua anak buahnya sedang berontak melihat negara yang semakin kacau.
Karena alasan itulah, Soeharto menunjuk Tutut sebagai perwakilan utama de facto nya di kabinet. Hanya anak biologisnya sendiri yang benar-benar Soeharto percayai.
Secara praktis, Tutut sebagai anak sulung dan ketua anak-anak Cendana pun ditugaskan Soeharto untuk menjadi Ahli Negara, seperti Luhut di zaman Jokowi.
Padahal Ahli Negara diharapkan sangat kompeten, jenius, dan berkomitmen dalam menangani krisis ekonomi 1998 dan melakukan berbagai reformasi yang sangat diperlukan.
Ahli Negara jelas tidak boleh hanya fokus menyelamatkan pundi-pundi raksasa kekayaan bisnis pribadi keluarganya sementara seluruh negara roboh dan terbakar.
Efeknya drastis.
Pasar panik.
Kepercayaan semua aktor bisnis domestik dan internasional jatuh.
Ekonomi semakin roboh.
Krisis menggila.
Kebijakan kenaikan harga BBM oleh pemerintah yang sudah tak punya uang langsung memicu demo besar-besaran.
Demo meluas.
Kekacauan.
Konspirasi faksi elite.
Ketegangan.
Penembakan mahasiswa di Trisakti.
Ledakan kemarahan.
Kerusuhan.
Kota-kota besar diduduki massa ngamuk.
Penjarahan.
Pembakaran.
Pembantaian di jalanan.
Jakarta jatuh. Medan jatuh. Solo jatuh. Rakyat ternganga melihat pemerintah kehilangan kendali atas kota-kota besar ini di TV.
Ketua DPR/MPR, Harmoko, terang-terangan mengumumkan di depan parlemen bahwa Soeharto sebaiknya mundur saja.
DPR diduduki mahasiswa.
14 dari 34 menteri mundur massal.
ABRI di bawah Jenderal Wiranto menolak melakukan "Tiananmen" hanya untuk sekadar melindungi cengkram kekuasaan pribadi keluarga Cendana yang rampok dan sia-sia.
Opini Pangkostrad saat itu, yang menganjurkan penumpasan demonstran dengan pasukan militer untuk mengembalikan kewibawaan kekuasaan pribadi keluarga Cendana, kalah dan diabaikan.
Soeharto pun mundur pada 21 Mei 1998. Ia langsung digantikan Habibie hari itu juga pada jam 9 pagi.
4 jam kemudian, laporan-laporan mulai masuk ke Istana bahwa ada pasukan tentara yang bergerak tanpa perintah menuju lokasi Habibie untuk melakukan entah apa.
Kehebohan melanda Istana. Kudeta?
3 jam kemudian, yang muncul adalah Pangkostrad bersama sekelompok kecil pasukan yang membawa-bawa senjata. Ia datang menuntut Habibie untuk memecat Wiranto dari posisi Panglima ABRI, dan dengan demikian, meminta implisit dijadikan Panglima ABRI yang baru.
Alhamdulillah Habibie selamat dan tidak sampai ditembak, diculik, ditangkap, atau dibunuh pasukan tentara apapun. Padahal belum sehari beliau menjabat. Peristiwa ini di kemudian hari dicatatkan Habibie dalam memoarnya.
Besoknya, Pangkostrad saat itu langsung dipecat.
Tutut juga langsung dipecat dan diganti Prof. Justika Baharsjah, Guru Besar Pertanian IPB.
Bob Hasan juga langsung dipecat dan diganti Prof. Rahardi Ramelan, anak buah Habibie sejak masih di industri pesawat.
Ekonomi Indonesia berhasil dipulihkan, meski lewat teori ekonomi yang tidak lazim (ekonofisika).
Tutut dan adik-adiknya sendiri dimaafkan dan kini hidup santai bersama seluruh pundi-pundi kekayaan raksasa yang mereka tumpuk selama 2 dekade kekuasaan ayah mereka.
Kekayaan raksasa ini termasuk hasil rampokan dari ekspor impor pasokan bensin se-Indonesia via Petral dan monopoly cengkeh BPPC milik Tommy Soeharto.
---
Pada tahun 2009, Tommy Soeharto mencoba menggunakan pundi-pundi kekayaan raksasa itu untuk membeli Partai Golkar dan menjadi ketua umumnya.
Ia dikalahkan oleh Aburizal Bakrie yang memasang harga lebih besar yaitu Rp 1 triliun. Aburizal Bakrie akhirnya berhasil membeli Golkar, menjadi ketua umum, dan dari situ mencoba mencalonkan diri menjadi presiden tahun 2014.
Pada 2009, Tommy Soeharto berusaha membeli Golkar. Ia digagalkan Aburizal Bakrie, yang memasang harga lebih tinggi yaitu Rp 1 triliun.
Bayangkan Tommy yang menang, lalu memakai posisinya untuk nyapres tahun 2014.
Bayangkan orang Cendana nyapres tahun 2014. Sungguh mengerikan.