PRESIDEN TUKANG BOHONG?
Untuk programnya dia, bilang duit kita banyak, minta 5T dikasih 10T
Tapi untuk gaji guru, dia bilang gak ada duit karena dikorupsi
Duit banyak Gak ada duit
Poin pertama saja sudah sangat problematik. Belum lagi poin2 selanjutnya.
Orang ini nggak paham soal bahwa narasi biaya pribadi presiden itu justru menabrak prinsip tata kelola negara.
Klaim bahwa kelebihan biaya ditanggung oleh dana pribadi presiden itu secara etika birokrasi dan hukum tata negara adalah hal yg sangat problematis.
Ini blurs the line. Dalam administrasi publik modern, harus ada batas yang mutlak antara kekayaan pribadi pejabat (private wealth) dan operasional negara (public fund).
Saat presiden memakai duit pribadi untuk urusan kedinasan, hal ini justru merusak standarisasi penganggaran dan akuntabilitas.
Lalu bagaimana biaya2 dicatatkan dalam LKPP?
Apakah ini dikategorikan sebagai hibah pribadi kepada negara?
Jika iya, apakah sudah melalui prosedur penerimaan hibah yang sah agar tidak menimbulkan conflict of interest di kemudian hari?
Animasi peta seluruh perjalanan Prabowo:
- 26 kali perjalanan
- 58 kunjungan
- 39 kota
- 29 negara
Sumber: Wikipedia + kunjungan terakhir ke Perancis yang belum ada di sana.
Pwngen juga pake headset kabel lagi, tapi gue orangnya ga mau riweuh, banyak banget tikait ke sana ke sini, jadi pake tws asalah jalan ninjaku. Tws soundcore yang ngecasnya bisa beberapa bulan sekali dah paling mannnntop
EMANG KNP DEH KAK KALO 2026 MASIH PAKE HEADSET KABEL?????
padahal kan enak gak mesti ngecas tiap malem, estetik, gak harus sambungin ke bluetooth lagi…. lebih hemat batre gk si jadinya? 😔
Eropa bisa punya work-life balance tinggi bukan karena mereka lebih “manusiawi”.
Tapi karena mereka 'pintar' mendesain sistem global.
Mereka outsource hampir semua pekerjaan kotor, berat, dan repetitif ke negara berkembang, termasuk Indonesia🙏🙏
Pabrik sepatu Nike, Adidas, HP Samsung, software perusahaan Jerman, customer service bank Prancis, sampai akuntansi perusahaan Belanda…
Semuanya dikerjakan oleh "tangan-tangan murah" di Asia dan Afrika.
Mereka dapat hasilnya. Kita dapat upah minim dan polusinya🙏😑
Jangan bilang ini konspirasi yaa.
Ini hasil dari Teori Comparative Advantage yang diajarkan di sekolah ekonomi.
Eropa fokus di desain, inovasi, branding, dan keuangan (pekerjaan bernilai tinggi).
Kita dikasih pekerjaan assembly, call center, dan produksi massal (pekerjaan bernilai rendah).
Ya.. hasilnya gini..
Mereka dapat libur panjang, gaji tinggi, dan jaminan sosial mewah.
Kita? Tetap jadi “pabrik dunia” yang kerja keras tapi dapat remah-remahnya doang!
Global Value Chain yang katanya “saling menguntungkan”...
Pada kenyataannya sangat timpang!
Yang perlu ditanyakan.. berapa lama lagi kira2 kita mau jadi “pekerja murah” bagi negara kaya yang sedang 'berjemur di pantai, sambil minum es kelapa' itu.. ?
Jujur, gua gak paham juga ya, ini ranahnya bukan orang biasa lagi yang bisa ngubah ini.
Anjinglah, di saat orang lain banting tulang kesana kemari nyari kerjaan, terus pas dapet gajinya teu umr umr acan, dengan disisi lain ngeliat anak pejabat yang dengan mudahnya dapet kerjaan cuma karena bapaknya dapet jabatan yang lain. FAAAAAAAAAK. DPR TAI
Ngomongin tentang pernikahan, jadi inget casenya sepupu sama tante kecil gue wkwkwk. Umurnya 2 atau 3 tahun dibawah gue. Awalnya mereka izin baik2 mau nikah, gaada maksud apa2. Cuma yang aneh, si tanggalnya ko mepet banged. Eh mendekati pernikahan, cewenya dibawa ke rumah sakit
Kakakku H-5 calonnya ngilang. H-3 ketauan kalo lagi staycation sama sepupunya—kakak histeris. H-2 dipulangin buat sidang keluarga besar, om-tante dan sepupu dari luar kota dateng semua—meyakinkan kakak buat rela batalin. H-1 keputusan batal nikah disampaikan ke pihak lelaki. 🙃
Terooos, balik lah dia. Dan kalian tau, dia baliknya h-1 mau akad. Kalo secara logika buat apa ya diterusin, toh ga akan bener juga kedepannya. Tapi anggota keluarga yang lain tetep kekeh mereka harus nikah. Gue sebagai orang yang males nanggapin, udah angkat tangan.
Udah pada liat kasus di Final Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 ini belum?
Intinya ada peserta yang udah menjawab pertanyaan dengan benar, namun oleh juri dianggap salah. Pertanyaan kemudian dilempar ke tim lain. Tim lain jawab dengan jawaban yang sama dan dianggap benar.
Peserta yang sebelumnya menjawab protes (dengan cara yang cukup elegan) tapi tidak digubris oleh Juri. Bahkan malah disalahkan oldh juri lain.
Gimana menurut kalian?
Pemerkosa 50 santriwati tidak ditahan dan dibiarkan pulang sampai bisa kabur. (walaupun akhirnya ditangkap)
Sidang air keras malah bahas cara pelaku yang kurang ahli.
Menyedihkan.
Saya tidak akan percaya lagi sama 2 kelompok tersebut.