Bayi lebih nyaman bila ditepuk-tepuk bokong-nya ternyata ada alasan ilmiahnya.
Nah sebenarnya yang bikin bayi nyaman itu BUKAN tepukan pada bokongnya. Tapi keteraturan dan ritme irama jantung yang sudah familiar selama 9 bulan dirasakan di rahim. Selain itu pada akhir kehamilan, 95% bayi posisi itu kepalanya di bawah, sehingga bokong berada di area atas perut ibu, yang secara anatomis lebih dekat dengan jantung.
Kalian perhatiin juga deh di video MRI ini, janinnya kelihatan bergerak mengikuti irama jantung ibu. Penelitian juga menunjukkan bahwa suara detak jantung orang dewasa dapat menenangkan bayi baru lahir.
Selain itu bayi yang mendengar rekaman jantung cenderung menangis lebih jarang dan tidur lebih nyenyak.
Penelitian lain menunjukkan stimulasi ritmis yang berirama pada bayi dapat membantu untuk menenangkan. Alasannya adalah karena stimulasi tersebut meniru sensasi di rahim yang dirasakan oleh bayi antara lain gerakan ibu berjalan dan getaran detak jantung yang konstan menenangkan sistem saraf bayi.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
-Provasi (2021). The Importance of Rhythmic Stimulation for Preterm Infants in the NICU
buat adek-adek yg masih pacaran,
ini namanya nemenin istri menjelang lahiran di rumah sakit yah,
9 bulan dia kesakitan, mau tidur sulit, mau gerak sulit, gunting kuku aja aku bantuin, mau makan mual, mau gerak sakit semua, setiap malem kesakitan.
mengandung dan melahirkan anak adalah pengorbanan hidup-mati yg luar biasa
jadi kalau kamu selingkuhi ibu dari anak2 kamu, fix kamu tolol
Please do not date people you are not genuinely attracted to. And when I say attraction, I don’t mean only physical attraction. I mean emotional attraction, mental attraction, compatibility, admiration, the way they make you feel, the way you naturally enjoy their presence and connect with them.
Because if you date someone mainly to fill a void, escape loneliness, seek validation, or temporarily soothe emotional emptiness, there’s a high chance that once those feelings fade, the relationship starts feeling forced. You begin to lose patience easily, act distant, get irritated over little things, avoid communication, or subconsciously search for what’s missing elsewhere.
A lot of people don’t realize that attraction is what helps sustain effort, curiosity, emotional connection, and intentionality long term. Without it, relationships can slowly start feeling like obligations instead of something you genuinely want to nurture.
And honestly, it’s unfair to both people involved. The other person deserves to be loved fully and genuinely, not tolerated because you were afraid to be alone at the time.
Setelah menikah, akhirnya jadi paham kalo sebuah pernikahan enggak bisa jalan kalo cuma bermodalkan "ketertarikan" dan "rasa sayang" secara literal saja. Karena pada dasarnya emang gak bakalan ada hubungan yang sepenuhnya sempurna.
Semuanya saya rasa akan bertahan sama rasa tanggung jawab, rasa hormat untuk kedua belah pihak, hingga empati juga kontrol diri untuk itu semua bisa terus berjalan.
Rasa aman yang diberi oleh kedua belah pihak rasanya jadi sangat mahal pas dihadepin sama ujian-ujian hidup yang gak pernah ada habisnya. Mempertanggungjawabakan janji yang diucap didepan tuhan-tuh gak pernah mudah. Sultinya seringkali gak ketolong.
Empati yang dicurahkan dan hadirnya rasa aman kayanya jadi hal yang memperkaya, menopang dan benar-benar mewujudkan sebuah hubungan yang sehat dalam sebuah pernikahan.
Memang hal-hal tersebut diatas belum tentu benar juga. Tapi setidaknya, itu yang saya rasa.
Ngobrol yang baik ke pasangan bisa dengan gak menyerang, gak pakai nada yang tinggi, gak merendahkan, gak menyakiti perasaan pasangan, dan gak silent treatment pasangan.
Kalau emosi, ingat kebaikan-kebaikan yang pasangan pernah lakukan ke kamu.
Pikirin juga sebelum ngomong ke pasangan: “Kalau aku diomongin seperti ini, apa aku sakit hati?” Kalau ternyata menyakitkan, maka tahan ucapan jangan sampai keluar.
Setelah hampir 10th menikah. Aku bisa menyimpulkan, jika uang bukanlah masalah terbesar dalam rumah tangga.
Tapi yang lebih sering bikin cekcok itu adalah komunikasi yang kurang baik.
Hanya komunikasi saja gak cukup. Tapi kita perlu komunikasi yang baik. Dilakukan dengan kepala dingin. Saling menyadari dan bisa terbentuk solusi.
Jika komunikasi dalam rumah tangga masih buruk, seperti ngobrol tapi marah2. Ngobrol tapi prengat prengut. Ngobrol tapi 1 arah saja, antara 1 pihak gak mau denger, atau 1 pihak gak ngasih kesempatan yg lain untuk bicara.
Bahkan ada yang gk ada komunikasi sama sekali. Hanya tubuhnya ada dirumah tapi tidak benar2 bersama.
Makanya gk heran banyak pasangan yang menikah 10 th, 15th, 20th, bahkan 40th pernikahan akhirnya tetap menemui perceraian.
Karena masalah yang didiamkan dan dibiarkan berlarut tanpa ada solusi atau penyelesaian. Sama saja seperti bom waktu. Yang sewaktu-waktu bisa meledak.
So temen2. Jagalah komunikasi yang baik dengan pasangan kalian mulai sekarang. Sekalipun gk ada hal penting yang harus di omongin.
Agar jika ada masalah bisa di komunikasikan dengan baik. Karena sudah biasa ngobrol tiap harinya.