Rakyat bawah terus diadu dalam konflik horizontal akibat kesalahpahaman dan ketimpangan sosial-ekonomi yang diabaikan. Jangan biarkan kita sibuk bertikai sementara akar masalahnya (kegagalan pemerataan oleh pemerintah) luput dari sorotan. Isu ini bisa terulang di mana pun, kapan pun.
@aerorun Saya fikir harus, se-absurd2-nya karya, yang buat kan, gak lepas dari keadaan sosial, politik, dan ekonomi yang sedang berlangsung saat dia berkarya.
@raflibrary Tapi dalam konteks 65, sepertinya tidak terlalu bermasalah, Laut bercerita lahir dari Anak kandung Tempo, yg mana (you know), satu baris sama Bapak C Cahaya itu.
Ini sih itungannya elit2 menggugat negara.
@direktoridosen Kemarenan gua baca Tania li, hasil 20 thn riset di Sulawesi. Gua tanya tmn gua yang dosen "kok bisa dia Mas, 20thn bolak-balik Canada-Sulawesi", dijwb, white privilege, sambil nyegir. Sedangkan temen gua untuk nyusun desertasinya harus cari "obyekan" biar sekalian, irit ongkos.
@direktoridosen Dasar kapitalis, semuanya dilombain. Bukannya pendidikan harusnya dijamin negara yak.
Lagian ngaco, mau berkompetisi dengan ekosistem yang bapuk. Bangun dulu ekosistem yang bener, panen buahnya baru deh kompetisi.
Kolonial kulit putih datang dengan konstruksi pikir, bahwa mereka lebih beradab dan paham peralatan pengetahuan ketimbang warga jajahannya.
Mirisnya, Perang Kota berlatar upaya lepas dari penjajah yang sok paling paham itu. Betul2 Jalan Tak Ada Ujung.