aku berharap bakal dipertemukan dengan pekerjaan yang benar-benar aku cintai: yang setiap prosesnya bisa kunikmati sepenuh hati, yang bisa kutaklukkan dengan penuh kebanggan, yang dengannya jiwaku justru jadi hidup alih-alih layu, yang tak menjauhkanku dengan Penciptaku
jadi, ayolah jadi manusia yang lebih baik, yang memanusiakan sesama. kalau nggak mau merangkul, ya at least diam dan biarkan mereka bernapas dengan aman
karena baca kekerasan budaya pasca '65-nya alm. wijaya herlambang, aku bisa making sense kenapa tempo selalu berada di sisi queer.
jadi, sejak dulu goenawan mohammad, pendirinya tempo, emg memegang teguh ideologi liberalism atau humanisme universal,
banyak di antar queer yang bergulat dalam batin soal identitasnya, kepada diri sendiri, juga kepada Tuhannya. hidup mereka susah, nggak melulu soal seks seperti yang di-framing media atau yg banyak kalian temui di medsos.