TERMUL DIE HARDER IJAZAH JOKOWI
TERIAK PALING KERAS, HIDUP JALAN DI TEMPAT
Setahun saya mengamati.
Perilaku, pernyataan, gerak-gerik para โtermulโ, mereka yang merasa berdiri paling depan membela ijazah, membela Joko Widodo seolah hidup dan mati mereka ditentukan di sana.
Mereka pikir:
loyalitas = imbalan
teriakan = kenaikan kelas
kedekatan = perubahan nasib
Tapi realitasnya?
Tidak ada yang berubah. Ekonomi tetap. Status sosial tetap.
Hidup? jalan di tempat.
Bahkan satu yang paling vokal, paling sering tampil, paling โdie hardโyang kalau bicara sudah seperti Ahli segala bidang, satu ketika saya temui, mobilnya mobil tua. Bertahun-tahun jadi termul, tak ada yang berubah.
Maaf ya termul.
Mobil untuk kalian seharusnya bukan sekadar kendaraan.
Itu simbol.
Simbol bahwa yang kalian kejar, harta, jabatan, tidak pernah benar-benar kalian bisa dapatkan.
INI MASALAHNYA: KALIAN SALAH MEMAHAMI KEKUASAAN!
Kalian kira kekuasaan itu seperti air hujan, turun ke semua yang berdiri di bawahnya.
Padahal tidak.
Kekuasaan itu seperti cahaya senter:
hanya menyinari segelintir titik.
Sisanya? Gelap.
Yang naik itu:
elite.
inner circle.
pemilik modal.
pengendali sistem.
Bukan kalian yang hanya berteriak di luar pagar.
Muncul di media bukan berarti punya kuasa. Dekat dengan Jokowi, bolak-balik ke Solo bukan berarti dekat secara realitas.
Kalian punya satu hal:
suara.
Tapi tidak punya:
akses.
aset.
pengaruh nyata.
Dan tanpa itu, kalian bukan pemain.
Kalian hanya TOA alias pengeras suara.
INI YANG PALING MENYAKITKAN
Yang paling loyal, seringkali yang paling tidak diangkat.
Yang paling keras membela, justru yang paling mudah dilupakan.
Kalian habiskan waktu, energi, bahkan HARGA DIRI
untuk sesuatu yang tidak pernah dirancang untuk mengangkat kalian.
BANGUN!
Kalau kalian ingin hidup berubah, jalannya bukan:
menjadi pembela
bukan menjadi buzzer
bukan menjadi penjilat kekuasaan
bukan menghinakan diri menjadi Termul.
Tapi menjadi:
pemilik nilai
pemilik skill
pemilik aset
pemilik posisi tawar
Tanpa itu, sekeras apapun kalian berteriak,
hidup kalian tetap sunyi.
KESIMPULAN PALING TELAK
Ini bukan soal siapa penguasa.
Bukan soal Joko Widodo atau siapa pun.
Ini soal satu KEBODOHAN KOLEKTIF:
berharap hidup berubah hanya karena berdiri dekat dengan kekuasaan.
Padahal kenyataannya:
kalian tidak pernah benar-benar dekat.
DAN PADA AKHIRNYAโฆ
Sejarah akan mencatat:
bukan siapa yang paling keras berteriak,
tapi siapa yang benar-benar membangun kekuatan.
Dan saat itu tiba,
banyak dari kalian akan sadar
kalian hanya jadi Uang recehan dalam kaleng yang kalau jatuh bunyinya KROMPYAANG.
Yang naik pesawat jet pribadi
Tetap Kaesang.
"Anda bisa menipu semua orang untuk sementara waktu, dan sebagian orang untuk selamanya.
Namun, anda tidak bisa menipu semua orang untuk selamanya"
(Abraham Lincoln)
Jika ada persidangan atas Laporan Polisi anda kepada saya, pak Jokowi, anda harus datang. Tidak bisa mangkir.
Kemarin-kemarin anda bisa mangkir. Tetapi untuk Laporan Polisi yang anda buat dengan nama saya, persidangan akan membuat anda HARUS HADIR sebagai saksi pelapor.
Dan, atas 709 dokumen yang disita oleh POLDA dan disiapkan menjadi barang bukti, saya sudah siapkan lebih dari 2.000++ pertanyaan yang harus anda jawab secara langsung, tidak bisa diwakilkan.
Dan persidangan WAJIB terbuka, sehingga 280 juta rakyat akan mendengarkan jawaban anda atas 2.000++ pertanyaan saya atas 709 dokumen itu.
Dan saya pastikan, butuh sekitar 4 tahun sidang bahkan lebih untuk menyelesaikan 2.000 pertanyaan itu.
Belum lagi pertanyaan saya terhadap 130 saksi yang meringankan anda.
Saya sebagai tersangka, berhak untuk bertanya kepada mereka di persidangan nanti, dan mereka WAJIB menjawab semua pertanyaan saya.
Setiap saksi akan saya tanya tiga hari tiga malam sampai saya puas.
Saya sudah menduga siapa saja mereka: orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai teman kuliah, teman KKN, teman SD, SMP, SMA, Guru-guru, Dosen-dosen, saya sudah membuat daftar siapa saja mereka, sudah saya buat profil mereka, sudah saya investigasi mereka, dan dengan ilmu Neuroscience saya sudah bisa mengidentifikasi jawaban dan penjelasan apa yang dicangkokkan di otak mereka.
Saya pastikan saya akan bikin mereka terkencing-kencing dengan ribuan cecaran pertanyaan saya, selama berhari-hari, selama bertahun-tahun.
Dan pada satu titik di antara hari-hari sidang itu, KEBENARAN yang semurni-murninya, sejelas-jelasnya, seterang benderangnya, tentang Ijazah anda, juga masa lalu anda, juga siapa sebenarnya anda, akan terbuka.
Jika anda tidak mencabut Laporan Polisi anda, mari kita siapkan kesehatan fisik, kesehatan mental, kesehatan otak, dan kesehatan jiwa, untuk menjalankan persidangan, yang akan saya buat sangat panjang dan sangat lama, sangat rumit, sangat complicated, sangat menghabiskan dana negara, dan sangat membuat siapapun Lansia dengan penyakit Autoimun berat, tak akan sanggup menghadapinya.
Anda menuduh saya dengan pasal bukan main-main. Pasal dengan ancaman hukuman 6 tahun, 8 tahun, 12 tahun.
Artinya anda ingin menghancurleburkan, menghabisi hidup saya, itulah kekejaman dan kejahatan yang luarbiasa dilakukan oleh mantan Presiden kepada rakyatnya yang bertanya atas sebuah Dokumen Publik: Ijazah Presiden.
Karena itu, dengan segenap kekuatan batin, kekuatan jiwa, kekuatan otak dan kecerdasan saya, akan saya hadapi anda di pengadilan, jika memang anda ingin pengadilan terjadi.
Ingat, Laporan Polisi anda yang buat, maka, anda pak Jokowi, HARUS HADIR!
Briking Nyus!
Wakil Ketua Umum PSI mendapat pukulan dari seorang pria yang diduga preman.
Saat ini kasus tengah ditangani oleh pihak kepolisian. Semoga pelaku dihukum dengan seberat-beratnya. Tuman!
Saya lbh bingung lagi.
Ngakunya pernah jadi presiden tapi ga paham klo di negara kita ada Pengadilan Militer dan Pengadilan Sipil dgn tugas dan fungsinya masing".
Pengadilan militer khusus menangani kasus hukum utk anggota TNI aktif.