@afrkml Kemarin, saat (doom)scrolling Youtube Shorts, saya mendapati nukilan video podcast dr. Gia Pratama mengenai kanker. Isinya mirip seperti yang dikatakan Kak Rizal. Video itu berhasil membuat saya mbrebesmili 🥲.
https://t.co/nza3heAexS
Sebagai internal audit, kasus BNI Aek Nabara ini bukan sekadar oknum nakal. Ini kegagalan sistem yang harusnya malu diakui.
Andi Hakim bikin produk investasi fiktif, cetak bilyet palsu di kertas A4, minta tanda tangan di formulir kosong terus diisi sendiri, dan transfer "bunga" tiap bulan biar korban tetap tenang. Berlangsung BERTAHUN-TAHUN. Pertanyaannya bukan kenapa pelakunya berani, tapi kenapa tidak ada satu pun alarm yang bunyi?
Karena tidak ada yang ngecek. Dari dua arah sekaligus.
BNI kecolongan karena satu kepala kas punya akses penuh dan relasi eksklusif ke nasabah besar tanpa supervisi berarti.
Tapi ada yang sering luput dari sorotan: Credit Union di dalam gereja itu sendiri juga harusnya punya sistem kontrol internal. CU Paroki Aek Nabara ini bukan lembaga kecil, mereka mengelola dana 1.900 anggota yang dikumpulkan sejak 1981. Lembaga sekelas itu harusnya punya audit internal, rekonsiliasi rutin, dan verifikasi produk investasi secara independen sebelum menyetorkan miliaran rupiah. Bunga 8% di tengah rata-rata pasar 3-4% itu bukan angka yang wajar, itu seharusnya jadi red flag pertama, bukan daya tarik.
Dua institusi. Dua lapisan kontrol yang sama-sama tidur.
Soal ajakan ramai-ramai pindah bank, hati-hati. Ini bukan cuma salah sasaran, tapi bisa berbahaya. Bank tidak menyimpan uang nasabah dalam bentuk tunai penuh, uang itu diputar. Kalau penarikan massal terjadi serentak, itu namanya bank run, dan efeknya bisa jauh lebih luas dari sekadar BNI. Krisis 1998 kasih kita pelajaran mahal soal ini. Marah boleh, tapi jangan sampai cara kita protes justru merugikan diri sendiri dan orang banyak.
1.900 orang nabung dari Rp10.000 seminggu untuk sekolah anak dan masa depan keluarga. Itu hilang karena satu orang rakus dan dua sistem yang gagal jadi penjaga.
Orang menikah biar menghindari zina. Biar bisa seks dg pasangan halal/resmi.
Itu benar.
Tapi, bahasan seks dalam pernikahan mungkin ga sampe 10% nya.
Komunikasi dua arah, bahas tagihan bulanan, rencana KPR rumah, rencana sekolah anak, dll, akan lebih sering dibahas dalam pernikahan dibanding ngebahas mau fantasy sex yg gimana2
Walaupun ga sampe 10%, sex tetap penting, bahkan berperan menjaga kelanggengan pernikahan.
Jadi, kl ga nafsu sama pasanganmu, baiknya mulai introspeksi diri, mulai cek2 segala macam yg berkaitan, biar ga sampe cari kesenangan di luar.
Disclaimer: ga tahu ini popular atau unpopular wkwkw
Ada tipe orang yang kelihatannya biasa aja di sosial media. Jarang update. Nggak pernah share lokasi. Nggak pernah pamer lagi nongkrong di mana. Bahkan kadang orang mikir, “ini orang kemana sih hidupnya?”
Padahal dia tetap jalan. Tetap keluar. Tetap punya rutinitas, punya kesibukan, punya tempat favorit, punya circle. Cuma dia nggak merasa itu perlu diumumkan.
Gojek dan Grab kasih harga BEDA ke tiap orang.
Rute sama. Waktu sama. Harga beda.
Gue bandingin sama temen kemarin. Dia Rp23rb. Gue Rp31rb. SAMA PERSIS rutenya.
Ini bukan bug. Ini ALGORITMA.
Mereka tau siapa yang mau bayar lebih mahal.
Gue nemu cara biar bikin harga Gojek/Grab lebih murah dan bikin gue hemat ratusan ribu tiap bulan.
Gini caranya:
A most unusual Hajj story. This man is from Ghana. He is poor and lives outside the city. A few years ago, A drone belonging to a Turkish news agency fell next to his house. When the Turkish journalists came looking for it, they found the man holding the drone in his hands and he jokingly asked them "Do you have a larger one that can take me to Hajj".
The journalist published the story and the Turkish government decided to send the man to Hajj, all expenses paid. Here he is in Makkah ready for his Hajj.
The moral of the story: when Allah calls upon you to come to Makkah, He will use whatever and whoever to make your journey possible.
Indeed, ALLAH is the best planner.