The U.S. military strike on Venezuela is deeply regrettable, as it contradicts the very principles of sovereignty and multilateralism that America has long championed. As a self-proclaimed guardian of global democracy, this unilateral action raises serious questions about their consistency, especially in today’s multipolar world where Russia’s and China’s influence in Latin America is growing stronger. It risks sparking widespread instability, compelling nations like Indonesia to navigate our national interests more strategically, rather than simply following ideological currents.
What happens to Venezuela also sets a precedent for other developing countries. It goes beyond a violation of sovereignty. It’s a deliberate effort to restrict the Global South’s freedom to manage its own resources. We must bolster solidarity among developing nations to safeguard the non-intervention principles we have long fought for.
The weaknesses of multilateral diplomacy, such as through the UN or the OAS, are becoming all too evident, rendering soft approaches like the ASEAN Way less effective against direct confrontations. It’s time for us to develop a more proactive diplomacy, including networks with non-state actors for effective mediation, rather than a passive neutrality that leaves us vulnerable as collateral damage.
This strike could also serve as a catalyst for reforming global governance from a Southern perspective. Indonesia has the opportunity to lead initiatives at the UN to amplify the voices of developing countries, particularly on strategic resources. This isn’t merely a moral response, but a survival strategy in a fragmented world, emphasizing leadership that builds bridges rather than yielding to destructive powers. •••
Kemarin PM Kanada Mark Carney berpidato di World Economic Forum, Davos, dan rasanya perlu kita simak. Ia bicara blak-blakan, mengakui secara terbuka bahwa tatanan dunia yang katanya berbasis hukum dan keteraturan itu ternyata selama ini penuh kepura-puraan.
Negara-negara besar sering mengecualikan diri mereka dari tata aturan, aturan perdagangan diterapkan berat sebelah, dan ketat atau longgarnya penegakan hukum internasional itu tergantung pada siapa pelaku dan siapa korbannya. PM Carney menyebutnya “living within a lie”, bahwa mereka semua hidup dalam kebohongan yang selama ini mereka pelihara sama-sama.
Beberapa waktu lalu saya pernah twit soal perlunya negara-negara Global South bersatu supaya tidak mudah disetir dan diintervensi kekuatan besar. Menariknya, kegelisahan ini ternyata juga dirasakan negara menengah di belahan Utara seperti Kanada.
PM Carney juga sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa kalau negara menengah hanya bernegosiasi sendiri-sendiri dengan negara besar, maka kita akan bernegosiasi dari posisi lemah. Kita malah jadi saling sikut, berlomba jadi yang paling tunduk. Jelas itu tidak bisa disebut sebagai kedaulatan.
Kenyataannya, dunia kini sudah berubah. Sudah multipolar, sudah sangat dinamis. PM Carney mengajak negara-negara menengah untuk bangun dan sadar akan kenyataan ini, lalu mulai membangun koalisi yang fleksibel. Beda isu bisa beda mitra, tak harus loyal buta pada satu polar, sambil terus memperkuat ekonomi di dalam negeri.
Pesan itu jadi sangat relevan juga untuk Indonesia. Diplomasi harus proaktif, tak bisa netral yang pasif. Membangun jembatan, jangan sekadar ikut arus.
Kanada bicara dari posisi negara menengah Barat. Sedangkan Indonesia bisa mengambil peran sebagai jembatan antara negara-negara menengah Barat yang mulai melek ini dengan Global South yang sudah lama merasakan ketidakadilan tatanan dunia. Kita punya legitimasi di kedua sisi.
Di tengah dunia yang makin terpecah, justru negara-negara menengah punya kesempatan membentuk tatanan baru yang lebih adil. Syaratnya, harus berani bergerak bersama. •••
Transkrip pidato PM Carney: https://t.co/07LhGa0OJ9
If you see any news about Indonesia’s president just so you know, I do not consent/support any of his choice, i despise him and didn’t vote for him, any words and choices that are made is not in Indonesian people’s name, it just his and politicians selfish greed, we suffer enough
Shalat tahajjud: Ibarat anak panah yg akan selalu tepat sasaran
Shalat dhuha (4 rakaat): Allah janji penuhi hajatnya di hari itu
Shalat qobliyah subuh: Lebih baik daripada dunia dan seisinya
Sambil benahin shalat wajib, seru bgt loh deketin Allah dgn biasain shalat2 sunah ini🤍
Dikira gila kerja itu karna mau mengejar dunia
padahal sedekah, qurban, umroh, naik haji, mebahagiakan orang tua, dll, itu semuanya butuh yang namanya uang
Ustadz Adi Hidayat said: "Di dunia ini manusia yang paling harus kamu sayangi adalah dirimu sendiri. Surga belum jelas, amal masih kurang, ibadah sering lalai, omongan gak dijaga/lisan kotor, suka banget nunda sholat, dan akrab dengan rasa malas."
Kalo merenungi hadits Nabi yg ini “jadilah kalian di dunia ini seperti musafir”, tuh beneran tau bikin nyadar kalo ujungnya ya kita emg cuma lewat di dunia.
Cuma tempat ngisi bekal. Udah.
Klo kalian lg rungsing soal dunia, coba deh renungin hadits ini. Lumayan bikin tenang.