Hidup adalah perjalanan. Bahkan jejak yang terburuk pun berhak melangkah menuju kebaikan. Bahkan manusia yang terbangsat pun berhak mendapatkan pengampunan
Beberapa penyair sibuk bersembunyi di balik senja, hujan, gemintang, ufuk, gunung, pantai, jingga, lembayung, kopi, renjana dan berbagai kata romantis lainnya, untuk kemudian lupa pada fakta bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Hingga akhirnya kata-kata hanyalah hiasan semata
Kita menanam rasa yang berbahaya,
membiarkan akarnya liar mengikat,
menikmati, meski yang kita punya
takkan berbunga
.
βUntuk apa?β tanyamu.
βUntuk tahu rasanya hidup,β jawabku
Akhir - akhir ini, saya ingin memiliki kemampuan menguasai waktu. Bukan ingin kembali ke masa lalu. Tidak ada yang saya sesali, atau perlu di ubah. Saya hanya ingin waktu membeku, agar bisa lebih lama bersamamu
Mengapa demikian? Anda pernah sebahagia mungkin sampai meneteskan air mata? Saya pernah. Anda pernah tertawa untuk menutupi kesedihan yang ada? Saya juga pernah.
Maaf saya bukan orang yang se ekspresif orang lain. Kenapa? Karna saya percaya orang yang menangis saja belum tentu dia sedang bersedih dan orang yang tertawa pun belum tentu bahagia.