Are you an energy and sustainability enthusiast, curious and eager person? 👩💼🧑💼
Keen to raise your stake in joining us accelerating Indonesia’s energy transition agenda? You are the one we are looking for! ☀️
Check out various roles to contribute to various roles of research, policy advocacy, project management, and finance and join us through https://t.co/hbZ4BCmu3Z 🔗
Ready to contribute? Don’t forget to apply before 🗓️ 31 August 2026 and let’s kick out your journey to accelerate a just and sustainable future!
(p.s: Applications are reviewed on a rolling basis, so submit your application via email as soon as possible!)
Indonesia is blessed with sunlight but our roofs are empty.
Yes, our policy is failing to keep pace.
1️⃣ Restrictive rooftop rules: limited quotas, no net metering, permitting only twice a year
2️⃣ Slow PLN utility-scale procurement and project execution
3️⃣ Grid bottlenecks and limited flexibility for variable solar
4️⃣ Coal overcapacity and fossil subsidies distorting the market (that also contributes to the blackouts!)
5️⃣ Confusing local content (TKDN) rules that tend to raise costs
6️⃣ Limited financing and incentives for households and MSMEs
Two observations on this story about Indonesia:
1. Latvia, near the Arctic, population 2m, has more installed solar capacity than Indonesia, a country of 300m people and 30 times Latvia's size, plastered on the Equator
2. Jakarta is that rare city anywhere in the world today: when you approach by plane, you see almost zero solar panels on its roofs
https://t.co/jO5KOBr308
Subsidi energi penuh dilema.
Selama 2 dekade terakhir telah menjadi bagian dari kebijakan energi, fiskal, dan perlindungan sosial. Dari tahun ke tahun, anggaran subsidi energi di APBN semakin membesar.
Walaupun sebagian besar tidak tepat sasaran, mengubah kebijakan ini tidak mudah, ada dampak sosial yang harus dipertimbangkan dan risiko politiknya.
Bagaimana cara mereformasinya?
Hal ini dibahas di “Ngobrol Seru: Subsidi Energi dan Ketahanan Energi: Menata Reformasi Subsidi untuk Indonesia yang Lebih Tangguh.”, kolaborasi @IDNTimes, IESR dan Eisenhower Fellowship Indonesia, bersama Prof. Suahasil Nazara (Wakil Menteri Keuangan RI), Fabby Tumiwa (CEO IESR), Ardhi Wardhana (Peneliti CSIS), dan dimoderatori oleh Uni Lubis (Editor in Chief IDN Times).
https://t.co/0Rq36EeR6W
Negara seperti Inggris, dengan intensitas radiasi matahari setengah dari Indonesia, paruh pertama tahun ini solar PV mencatat pertumbuhan tertinggi dibandingkan periode tahun-tahun sebelumnya sejak 2011. Sepertiga dari instalasi PLTS berasal dari PLTS Atap.
@bahlillahadalia@KementerianESDM@BappenasRI@PerekonomianRI@dewanenergi
Pernyataan menteri energi Inggris ini sangat relate dengan Indonesia: “The lesson is clear: the more power we generate here in Britain, the less exposed families and businesses are to global energy price shocks. That’s how we deliver energy security, get bills down for good and deliver skilled jobs in every part of the country."
Ganti Britain dengan Indonesia, maka kita tahu bahwa PLTS yang dikelola dengan baik bisa membantu memangkas biaya produksi listrik, menurunkan subsidi & PLTS+BESS membuat listrik lebih handal.
Presiden @prabowo harus memastikan #PLTS100GW berhasil dilaksanakan, beroperasi dengan baik.
https://t.co/nEAuoBqXCy
Mengapa reformasi subsidi energi harus dilakukan?
@KemenkeuRI@KemensetnegRI@BappenasRI
1️⃣ Anggaran subsidi energi meningkat terus dari tahun ke tahun. Tahun ini bisa mencapai 540 triliun, dari 320 triliun yang direncanakan;
2️⃣Sebagian besar subsidi tidak sesuai target sasaran, yaitu penduduk di kelompok berpenghasilan desil 1-3, berpendapatan <500 ribu/bulan sampai dengan 1 juta/bulan. Tapi 63% subsidi dinikmati golongan mampu.
81% Pertalite dikonsumsi oleh masyarakat desil 5-10, dan ada 10,6 juta penerima subsidi listrik salah sasaran.
Ada ratusan triliun dana subsidi yang bisa diarahkan untuk program yang berdampak pada penciptaan lapangan kerja, memenuhi kebutuhan rumah murah, pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang lebih berkualitas.
Saat ini yang dibutuhkan adalah kemauan politik Presiden @prabowo & Wakil Rakyat di DPR & DPD bahwa reformasi subsidi diperlukan, bukan untuk mencabut bantuan warga miskin tapi memastikan agar sumber daya keuangan negara digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga negara lain dan membangun Indonesia yang adil dan sejahtera lewat infrastruktur fisik dan sosial di seluruh Indonesia.
https://t.co/9ShS6rqu9f
Dear @ditjengatrik, grid impact of VRE generation including rooftop PV should be evaluated regularly, but there is no need to limit it today with quota system, since the generation is very small.
Variable renewable energy generation (solar and wind) in Indonesia power system is still less than 1% and still belong to phase 1. insignificant impact (based on IEA six phases of VRE integration).
IEA suggests that when VRE generation reach between 3-15% (phase 2) then grid operator will start noticing variations in supply demand balance.
If DGE has the analysis showing at what capacity that rooftop PV starts impacting the grid, that would be great to share.
Solar is soaring everywhere, even in Great Britain that only has 50% solar radiation compare to Indonesia. 😲
In our country the cheapest source of electricity is wasted! 🙂↔️
The addiction to fossil fuels, particularly coal, created structural barrier for renewable energy to grow faster.
MEMR Regulation No. 2/2024 replaces net-metering with quota system for rooftop PV creating barriers for consumer to harvest abundant solar energy!
Calling @prabowo@KementerianESDM@djebtke@ditjengatrik to reform solar PV quota. Every electricity customer has a right to harvest and use renewables! It is a key to deliver #100GWSolar in 2 or 3 years!
https://t.co/BT5u9iU7k5
6️⃣Kementerian Desa @kemendespdt;
7️⃣Kementerian Koperasi @kemenkop_ ;
8️⃣Kementerian Dalam Negeri @kemendagri;
9️⃣Pemerintah daerah;
🔟Otoritas Jasa Keuangan @ojkindonesia;
1️⃣1️⃣PLN @pln_123;
serta lembaga lain yang terkait.
IESR juga merekomendasikan strategi multi-jalur yang dapat diimplementasikan pemerintah.
Baca lebih lanjut di https://t.co/QzQ8gGccqz 🔗
[UTAS] PLTS 100 GW Mulai Direalisasikan, Yay or Nay?
Sobat Essentials! Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan tahap awal proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Giga Watt (GW) bakal segera diresmikan di Bali.
Proyek perdana tersebut akan memanfaatkan area di sekitar Jalan Tol Bali Mandara sebagai lokasi pemasangan panel surya.
Nah, kalau menurut IESR, rencana mewujudkan PLTS 100 GW ini perlu adanya konsistensi regulasi dan unit komando khusus ‼️
Kenapa begitu?
📌 National Solar Program Delivery harus memiliki otoritas kuat, mandat yang jelas, serta kemampuan mengoordinasikan aspek regulasi, perizinan, pengadaan, pembiayaan, pembangunan ekonomi daerah, pengembangan tenaga kerja, dan pengawasan.
📌Project Management Office tersebut perlu melibatkan lintas kementerian dan lembaga yang memiliki tugas koordinasi maupun lingkup kerja teknis, mulai dari Kementerian Koordinator bidang terkait, seperti:
1️⃣ Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral @KementerianESDM;
2️⃣Kementerian Keuangan @KemenkeuRI;
3️⃣Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional @kem_atrbpn;
4️⃣Kementerian Perindustrian @Kemenperin_RI;
5️⃣Kementerian Ketenagakerjaan @KemnakerRI;
Consultative Discussion on Financing Grid Modernization for Renewable Energy Integration in Coal-Dependent Economies
The discussion will focus on the country overview (Pakistan, South Africa and Indonesia) and key financing challenges and opportunities for grid modernization to support renewable energy integration.
The panel will attended by international experts who can provide broader perspectives on financing grid modernization and the energy transition, consist of:
1️⃣Anders Pedersen , Chief Regional Power Systems Officer, African Development Bank (AfDB)
2️⃣Cecilia Tam , Division Head / Team Lead on Clean Energy Finance, OECD
3️⃣Aleksi Lumijärvi , Director, IRENA Knowledge, Policy and Finance Centre, International Renewable Energy Agency (IRENA)
📆: Friday, 7 August 2026
🕒: 3.00 - 4.30 pm WIB (GMT+7)
📍: Zoom
Join us by registering via the link below 👇
https://t.co/yXeDr2kBEY
Penjualan mobil tumbuh 16% di semester 1-2026, di mana Hybrid, PHEV & BEV terjual 117 ribu, dengan BEV sebesar 69%.
@KemenkeuRI@Kemenperin_RI@kemenhub151@BappenasRI@KementerianESDM@PerekonomianRI
Dibandingkan tahun lalu, penjualan BEV tumbuh ~103% dan melebihi laju pertumbuhan penjualan mobil lainnya.
Akselerasi kendaraan listrik menjadi kunci menurunkan impor BBM & dekarbonisasi transportasi. Insentif diperlukan untuk mengakselerasi pertumbuhan EV mencapai 2 juta populasi di 2030 yang dicanangkan pemerintah👀
Mulai dari percepatan studi kelayakan, integrasi ke dalam perencanaan tata ruang, penguatan jaringan listrik, hingga penyederhanaan perizinan menjadi langkah penting agar lebih banyak proyek PLTS terapung dapat terealisasi.
Dengan pengembangan yang tepat, PLTS terapung berpotensi menjadi salah satu pendorong utama pencapaian target 100 GW PLTS sekaligus mempercepat #transisienergi Indonesia. 🌊☀️
Yuk, simak potensi dan rekomendasi lengkapnya pada slide berikut, atau baca kajian IESR selengkapnya di https://t.co/4FkpmKjRwH.
Sobat Essentials! ☀️
Tahukah kamu? Indonesia memiliki potensi #PLTSterapung yang sangat besar. IESR mengidentifikasi 77,8 GW kapasitas yang layak secara finansial dan tersebar di 179 lokasi di seluruh Indonesia.
Namun, potensi ini tidak akan berkembang tanpa dukungan kebijakan dan infrastruktur yang memadai.
1️⃣ Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Bali
2️⃣ Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar Bali
3️⃣ Pasar Intaran
Cerita ini menjadi bukti nyata bahwa tenaga surya bukan lagi impian, dan sudah jadi kenyataan! ☀️
Yuk cek keseruan Jelajah Bali di https://t.co/8sSZTfVS4O 🔗
Sobat Essentials, yuk jalan-jalan dulu di Bali! 🏝
Jelajah Energi Bali yang dilakukan IESR berkolaborasi dengan @dewanenergi@PerekonomianRI pada 16 Juli 2026 membawa kita untuk mengunjungi 3 tempat di Bali yang telah memanfaatkan tenaga surya menggunakan #PLTS, yaitu di ⬇️⬇️⬇️
The fastest renewable energy growth.
Kapasitas terpasang Solar PV tumbuh eksponensial. 2012 baru 100 GW, perlu 10 tahun untuk 1000 GW, 2.5 tahun untuk 2000 GW, dan kurang dari 2 tahun sampai 3000 GW.
Tripling jadi 9000 GW di 2033. Harga teknologi yang semakin murah dan kemudahan akses membuat PLTS tumbuh cepat.
Ambisi @prabowo membangun 100 GW sebelum 2030 bukan tidak mungkin. Kuncinya ada di institusi pelaksana, proyek yang bankable, pelibatan partisipasi publik 💪
Rancangan #Perpres100GW harusnya mengakomodasi faktor-faktor ini Pak @bahlillahadalia@KementerianESDM 👀
That solar panels are now an everyday sighting almost everywhere in the world is what makes it a remarkable story. The next phase of the boom may reveal a shift in who is gaining access to the technology. https://t.co/ynpH9r52Ef