احتمالية حدوث هذا الشي مرة اخرى مستحيله:
في فيتنام دخلت فتاة إلى محل تجاري لشراء بعض الملابس، تسمع صوت البائعه لكنها لا تجدها لان كل واحده منهما تحرك في نفس اللحظه بشكل متطابق وتفوت الاخرى مرارا دون ملاحظتها
واخيرا بعد دقيقه حصل قلتش واستطاعوا لقاء بعض في موقف مضحك
Sebenarnya suka dan tidak suka itu menjadi hak pribadi. Tapi, kalau kata guru agama waktu aku sekolah dan dosen PAI-ku jaman kuliah S1 itu....
Pertama, soal berjamaah 27x dibanding sendiri. Di masa awal Islam, salat berjamaah bukan sekadar ritual kolektif. Masjid adalah pusat pendidikan, musyawarah, distribusi bantuan, hingga koordinasi saat komunitas Muslim berada dalam tekanan dan ancaman perang. Di Madinah, umat baru saja hijrah, rentan, dan berkali-kali menghadapi konflik seperti Badar, Uhud, hingga Khandaq. Dalam konteks itu, berjamaah membangun kohesi sosial, disiplin, solidaritas, dan rasa persatuan lintas status sosial. Jadi kalau diberi nilai lebih, logikanya bisa dipahami sebagai spiritual incentive untuk membangun komunitas yang kuat, bukan karena ibadah sendirian tidak bernilai.
Kedua, soal keutamaan lokasi seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Al-Aqsa. Ini juga sering disederhanakan jadi “koordinat geografis menentukan pahala”. Padahal dalam sejarah Islam, tempat-tempat itu punya makna karena perjuangan dan pengorbanan besar yang terjadi di sana.
Makkah adalah tempat umat Islam awal mengalami penyiksaan, boikot ekonomi, kehilangan harta, bahkan dipaksa hijrah. Madinah menjadi tempat membangun masyarakat baru dalam kondisi terus terancam perang. Al-Aqsa punya posisi historis sebagai kiblat pertama dan simbol panjang sejarah para nabi serta perjuangan umat lintas generasi.
Jadi yang dimuliakan bukan “lokasi” yang seolah-olah punya efek magical, melainkan makna spiritual dan historis yang melekat pada tempat itu; ruang yang menjadi saksi pengorbanan, perjuangan, dan pembentukan peradaban.
Sebenarnya manusia juga melakukan hal yang sama di luar agama. Kita menghormati medan perang, makam pahlawan, monumen perjuangan, atau tempat bersejarah bukan karena koordinatnya spesial, tapi karena nilai, memori kolektif, dan pengorbanan yang melekat di sana.
Jadi menurut sepengetahuanku, kalau dikatakan “reward ibadah ditentukan lokasi” itu agak menyederhanakan persoalan. Dalam perspektif Islam, yang dihargai bukan sekadar tempat atau angka, tapi juga konteks sejarah, pengorbanan, dampak sosial, dan makna spiritual yang menyertainya.
Mestinya jangan kritik harga sewa. Karena itu relatif.
Kritik saja, yang difoto itu layak ndak ikut rombongan Presiden. Kapasitasnya apa? Ada manfaat tidak ikut rombongan Presiden?
Apakah hanya untuk senang-senang, foto-foto, menikmati hotel mewah, rayakan ultah, atau ada dampak positif tidak keberadaan mereka untuk perjalanan Presiden?
Perannya dibagian apa dalam mencapai tujuan diplomasi.
Kemudian, cek otak mereka ada isi ndak? Nuraninya paham kondisi rakyat tidak? Kalau ada isi otaknya dan bernurani, maka mestinya mereka ndak perlu nampang dengan foto2 Ultah itu dan menyebarkan ke medsos.
Nah, daripada spekulasi, baiknya stasiun TV atau Podcast undang saja mereka untuk uji isi kepala mereka. Sehinga kita bisa ukur, apakah sia-sia atau tidak pajak rakyat menghidupi mereka dan ikut rombongan Presiden untuk Diplomasi.
Demikian saran saya..
BTW: Saya tulis rodo emosi, koq ada orang2 yg tak tahu diri, mendampingi Presiden tapi tak bisa mejaga martabat Presiden agar tidak jadi pergunjingan.
Salam
FK
we live on a planet where trees warn each other of danger through underground networks. where octopuses dream. where elephants return to the bones of their dead and stand over them in silence. where bees communicate through dance, showing each other where to fly. where flowers bloom...where crows remember human faces -especially those who were cruel to them - and pass that memory on to their young. where ants build entire cities. where cats purr at a frequency that can help heal bones. where forests, after fires, grow flowers first.
"Wamendagri minta ASN yang keluyuran saat WFH diviralkan”
Tujuannya:
1. Menggeser fungsi pengawasan formal ke tangan publik
2. Membentuk budaya saling curiga, saling menghakimi, dan saling menjatuhkan sesama warga.
Jadi sebaiknya diabaikan dan tetap fokus ke MBG 😎
1. Yang bikin kebijakan bukan ASN, dan ASN ga pernah ngusulin ini apalagi yang umbie
2. Lebih enak kerja di kantor, di rumah banyak distraksi+ semua beban pekerjaan jadi ada di rumah (listrik, wifi, dll), bisa diremburs? ada pengganti? Tidak
3. Dikira ASN bukan rakyat jelata?
I got into a huge argument with my wife because I wouldn’t let her check my phone.
She said:
We should have each other’s passwords. That’s what real couples do.
I told her:
A phone is personal.
So finally, I asked a famous marriage counselor who was right.
He said this:
Kok mau sih Pak @aniesbaswedan balesin postingan Thread dari akun yang cuma 300 pengikut? Mereka ini kan cuma statistik, cuma 0,00000037% dari 270 juta orang Indonesia... Ngapain peduli kesehatan mental dari angka di statistik seperti ini? 😡
Mending joget saja... 🕺
This episode is very dark, and frankly, potentially triggering. It’s going to start conversations. But what I will say, is that Oliver Stark delivers what is objectively an INCREDIBLE performance.
Mulai puasa... komplen.
Tarawih... komplen.
Sahur... komplen.
Lihat orang I'tikaf... komplen.
Mudik... komplen.
Shalat Ied... komplen.
Shadaqah... komplen.
Silaturahmi... komplen.
Kalau semua hal dikomplen, pernah gak sih merenung bukan Ramadhan & lebaran yang salah?