Sudahkah netizen mengecek ada di desil kesejahteraan berapa?
Jika belum cek maka sempatkan mampir ke:
https://t.co/W51R16C3gu
Jika dikatagorikan sbg desil 9 atau 10, maka berpotensi tidak termasuk yg bisa beli Pertalite dan terima bansos.
Penasaran apa ada mekanisme banding buat yang tidak puas dgn penetapan BPS....
Baru cari info dan berikut sumber2 data yg digunakan BPS dlm analisa penetapan desil kesejahteraan kita:
- DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional)
- DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial)
- Regsosek (Registrasi Sosial Ekonomi)
- P3KE (Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem)
- Data Kependudukan (SIAK)
Variabel penilaian tingkat kesejahteraan desil meliputi:
-Kondisi fisik rumah (lantai, dinding, atap)
-Sumber air minum dan fasilitas sanitasi
-Daya kapasitas listrik rumah tangga
-Kepemilikan aset bergerak dan tidak bergerak (tanah, kendaraan)
-Status dan jenis pekerjaan utama anggota keluarga
-Tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan
- Jumlah anggota keluarga atau tanggungan rumah tangga
- Pengeluaran konsumsi pangan dan non-pangan per rumah tangga
- Status kesehatan dan kepemilikan jaminan sosial / kepesertaan BPJS
Apa ada faktor yg perlu ada tapi tidak masuk? Atau sebaliknya yg ada di list tapi tidak cocok?
Info Gambar: Screen Capture situs DTSEN
Dulu setiap suami nanya, “Lagi pengen beli apa?”
Aku selalu jawab, “Nggak usah, sayang. Ditabung aja uangnya.”
Kupikir itu jawaban paling bijak.
Tapi suatu hari dia bilang, “Kamu juga harus minta sesuatu. Biar aku punya target. Biar aku makin semangat kerja.”
Awalnya aku ketawa. Masa iya?
Sampai suatu hari dia nanya lagi, dan aku cuma nyeletuk, “Yaudah… uang jajan bulananku ditambah aja.”
Nggak berharap bakal beneran dikabulin.
Eh, beberapa waktu kemudian kerjaannya makin lancar, performanya di kantor makin bagus, dan dia benar-benar ngasih lebih dari yang aku minta.
Dari situ aku belajar…
Ternyata buat sebagian orang, merasa dibutuhkan dan punya tujuan untuk diperjuangkan bisa jadi bahan bakar untuk terus berkembang.
Bukan soal minta yang mewah atau membebani pasangan. Tapi jangan sampai kita menahan semua keinginan sampai pasangan kehilangan arah tentang apa yang sedang diperjuangkan.
Setiap pasangan mungkin punya cara yang berbeda. Tapi buat kami, ternyata punya target kecil untuk diwujudkan justru bikin sama-sama semangat bertumbuh. 🤍
cc : ayt.priambada
Temen gw kerja di PLN.
Dia bilang ada satu pertanyaan yang tiap hari bikin dia dimaki, dan dia capek ngejelasinnya.
Pertanyaannya: "kok beli token 100 ribu, dapet listriknya kurang? Sisanya ke mana?"
Dia cerita ke gw sambil geleng-geleng. "Yang motong duit itu bukan PLN. Tapi yang dimaki tetep kita."
Gw ngerutin dahi. Kalo bukan PLN, terus siapa yang ngambil?
Malem itu gw cek struk token gw sendiri. Ada satu baris kecil yang selama ini gak pernah gw baca.
Untuk semua yang pernah merasakan pahitnya kalah 8-2.
Untuk semua yang menyaksikan Arsenal dibantai 6 gol di Stamford
Bridge pada pertandingan ke-1.000 Arsène Wenger.
Untuk semua yang harus menelan kekecewaan di Baku.
Untuk semua yang harus pergi ke sekolah setelah kebobolan 10 gol dari Bayern.
Hari ini adalah untuk kalian. Nikmati sepenuhnya. Kita pantas mendapatkannya.
CIRI SUAMI "LIMITED EDITION" DI ZAMAN SEKARANG
1. tidak merokok, tidak judi, tidak main perempuan.
di saat banyak rumah hancur karena itu... dia memilih menjaga dirinya.
2. tidak hobi nongkrong sampai larut malam.
setelah kerja, yang dia cari cuma rumah dan keluarganya.
3. hidupnya sederhana: kerja, pulang, ketemu istri & anak.
tidak sibuk cari validasi di luar rumah.
4. kalau punya hiburan, paling cuma hal sederhana.
main hp di rumah, ngopi santai, atau nonton bareng kamu di sofa.
5. dia mungkin tidak romantis seperti di film...
tapi dia tahu jalan pulang, dan itu lebih langka dari yang kamu kira.
6. bisa membimbingmu dalam taat kepada allah.
bukan cuma menemanimu hidup di dunia... tapi juga menjaga arah akhiratmu.
Dan semua itu ada pada diri mimin, tapi sedihnya si bulan maret masih aja selingkuh lebih memilih cowo perokok, hobi nongkrong sampai larut malam, suka JUNDOL, dll
gue mau cerita tentang temen gue.
sebut aja dia R.
dulu gajinya 7 juta.
dan tiap kali kami ngobrol, dia selalu bilang satu kalimat yang sama:
"Val, nanti kalau gaji gw udah 15 juta, baru deh gw bisa nabung. Baru deh hidup gw beres."
gue dengerin. gue angguk-angguk. gue percaya.
tiga tahun kemudian, gajinya beneran naik.
bukan 15 juta.
17 juta.
gue seneng banget waktu dia kabar. gue pikir sekarang hidupnya udah oke. udah bisa nabung. udah beres kayak yang dia bilang dulu.
sampai kemarin dia chat gue.
"Val, lo bisa pinjemin 500 ribu nggak? Buat nutup tagihan."
gue bengong lama di depan layar HP gue.
kita ketemuan.
gue tanya pelan: "lah kok bisa?"
dia diem sebentar.
terus jawab satu kalimat yang sampai sekarang masih muter di kepala gue:
"Gaji gw naik. Tapi gaya hidup gw naik lebih kenceng."
gue kira dia bercanda.
dia buka notes HP-nya dan nunjukkin ke gue.
gaji: 17 juta.
pengeluaran:
kos: 4 juta. makan dan kopi: 3,2 juta. cicilan HP: 1,1 juta. paylater: 2,4 juta. transport: 1,8 juta. langganan aplikasi: 600 ribu. jajan random: 2 juta. transfer keluarga: 1,5 juta.
sisa?
kadang nol.
kadang minus.
gue tanya: "paylater 2,4 juta itu buat apa aja?"
dia diem bentar.
"ya... barang kecil-kecil doang."
kaos 89 ribu. sepatu diskon. skincare. makan promo. top up game. barang lucu dari live shopping. checkout karena takut stok habis.
satu-satu kelihatannya kecil.
tapi pas digabung, jadi satu monster yang nagih tiap bulan.
yang bikin gue serem bukan belanjanya.
tapi kalimat pembenarnya.
"lagi diskon."
"mumpung murah."
"cuma 30 ribu."
"gratis ongkir."
"bulan depan juga ketutup."
dan dia bilang satu hal yang nusuk banget:
"gw bahkan udah nggak bisa bedain lagi. Gw lagi hemat, atau lagi nyari alasan buat keluar duit."
terus dia ngomong sesuatu yang bikin gue diam lama banget:
"Gw nggak miskin karena nggak punya uang. Gw miskin karena uang gw udah punya tujuan sebelum masuk rekening."
tanggal 25 gajian.
tanggal 26 autodebet.
tanggal 27 bayar cicilan.
tanggal 28 bayar paylater.
tanggal 29 baru sadar:
yang kerja sebulan dia. yang menikmati duluan tagihan.
gue tanya: "jadi yang paling bikin nyesel apa?"
dia jawab:
"Gw pikir gw beli barang. Ternyata gw beli kewajiban."
HP baru = cicilan 12 bulan. barang diskon = tagihan bulan depan. makan enak tiap hari = saldo bocor pelan-pelan. kopi harian = lebih dari sejuta sebulan. paylater = gaji masa depan yang udah dipakai hari ini.
"Gw kerja buat bayar keputusan gw yang kemarin."
coba hitung kasar.
kopi 35 ribu x 22 hari kerja = 770 ribu. delivery food dengan selisih ongkir dan markup 25 ribu x 20 kali = 500 ribu. checkout random 75 ribu x 10 kali = 750 ribu. langganan aplikasi yang jarang dibuka = 300 ribu.
total: 2,3 juta.
itu bukan pengeluaran besar. itu bocor kecil yang pura-pura nggak kelihatan.
sekarang temen gue lagi coba bikin aturan sendiri.
kalau barangnya diskon tapi nggak ada di rencana, berarti tetap mahal. kalau beli karena capek, tunggu besok. kalau checkout cuma karena takut kehabisan, tutup aplikasi 10 menit dulu. kalau cicilan bikin gaji bulan depan terasa sempit, jangan ambil.
dan satu pertanyaan yang dia tempel di layar HP-nya sekarang sebelum checkout apapun:
"Gw butuh ini, atau gw cuma pengin ngerasa hidup gw naik kelas?"
dari cerita dia, gue jadi mikir.
mungkin masalah banyak orang bukan nggak bisa cari uang.
tapi nggak pernah diajarin cara mempertahankan uang.
dari kecil kita diajarin: belajar biar kerja, kerja biar punya uang, punya uang biar bisa beli ini itu.
tapi jarang diajarin: kalau uang udah masuk, jangan langsung dikasih jalan keluar semua.
ini bukan soal hidup pelit.
beli kopi boleh. checkout promo boleh. reward diri boleh.
tapi jangan sampai tiap reward kecil numpuk jadi hukuman besar di akhir bulan.
coba jujur ke diri sendiri:
pengeluaran kecil apa yang paling sering bikin saldo lo bocor?
kopi? makan online? paylater? top up? checkout live?
atau "cuma 50 ribu" yang kejadian 20 kali?
Saya suami, usia 50. Nikah tahun 2004. Pesan saya ke teman² lajang, "Menikahlah dgn calon yang punya mindset sama, terutama untuk hal yang kalian anggap sangat penting."
Sejak 2024 saya tdk punya penghasilan tetap karena perusahaan bangkrut.
Dengan tabungan yg ada, kami mampu survive sampai Ramadan 2026 kemarin, apalagi saya jg ada freelance yg sayangnya terimbas kondisi ekonomi negara yg scr umum tdk baik² saja.
Di sinilah sy sadar bhw selama ini kami punya mindset yg beda dlm hal mencari uang.
Wkt bekerja, gaji sy rata² 2x UMR, jd sy bisa provide keluarga sjk nikah 2004-2025 anggap sj. Sebetulnya sjk kena layoff, sy minta pindah rumah karena kontrakan yg kami tempati lumayan harganya (3 juta sebulan).
Kami punya rumah di Depok hasil tabungan slm bekerja. Istri menolak pindah, alasannya sekolah anak. Istri maunya anak² kami lulusan Jkt, bukan Jabar.
Sy pun minta pindah ke rumah yg lbh kecil & murah krn 3 juta sebulan itu berat, apalagi putri sulung kami kuliah di luar kota, perlu biaya
istri lagi² menolak, alasannya lingkungan. Maka jadilah kami tetep tinggal di rumah besar.
Tdk ada penghasilan tetap sementara sy jg membiayai si sulung rata² 3,5 juta setiap bulan utk kos & makannya.
Meski sy tetap bersyukur semua bisa ketutup, tetap sj sy cemas melihat saldo yg lebih cepat habis daripada keisinya.
Sekarang saya sedang di fase dimana istri kaya' nganggap saya najis dan t*i. Omongannya nyakitin (emang dari dulu sih.
Dulu sy yg provide aja dia berani sm sy, apalagi skrg saar sy sdg terpuruk), buang muka kalo ketemu saya, makanan nggak disiapin (nggak masalah, sy sdh biasa dari dulu diginiin kl tgl tua), baju nggak dicuciin (untungnya sy mandiri, bisa kerjain sendiri).
Nah perbedaan mindset ini kentara sekali di 2010 saat sy resign & menjalankan usaha editing video.
Istri blg dia lebih suka punya suami yg kerja keluar rumah (dan pake seragam kantor). "Aku jawab apa kalo ditanya tetangga?" katanya. "Bilang aja ngedit di rumah," kata saya. "Pokoknya aku malu punya suami yg dari pagi sampai malam ada di rumah."
cc:thread
Stop ganti iPhone kalo batre-nya udah ngedrop.
Gue kira iPhone gue udah waktunya ganti karena batrenya ngedrop. Ternyata bukan.
Apple emang sengaja set default yang bikin baterai boros.
Setelah gue utak-atik sendiri, baterai gue dari 6 jam jadi tahan 10 jam. Tanpa ganti baterai baru.
Gini caranya:
Gesss.. hanya izin mengingatkan..
Nyambi santai makan siang..
Temen-teman wajib menabung yah..
Prediksi in this situation, kehidupan akan semakin anomali..
Nabung sebanyak-banyaknya..
Info nya ada kabar tidak baik.. segala bentuk "perizinan" harus punya backup plan..
Cluenya "kapal retak"
Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua, dan diperlancar segala urusannya.. pintu rezeki terbuka mengalir deras..
Gpp boleh percaya atau tidak.. haknya masing-masing..
tadi baca di threads cuma udah terlanjur ke scroll,
ada istri yg menyesal sejadi2nya,
suaminya freelancer, istrinya punya pekerjaan tetap.
suaminya kerja dirumah sambil ngurus anak dan bersih2. sedangkan istrinya kerja di kantor.
sayangnya rezekinya blm berpihak ke suami, penghasilan blm stabil padahal udah sering begadang dan berusaha.
istrinya sering merendahkan suaminya apalagi 2 bulan terakhir belum ada penghasilan, alhasil hidup dari gaji istri, sikap istri dingin dan meremehkan.
sampai suatu malam di kamar suaminya bilang mau kerja dengan senyum dan ramah karna mau begadang dan ngulik lagi depan laptop, istrinya masih judes karna si suami blm ada penghasilan 2 bulan itu.
paginya pas dicek suaminya sudah meninggal karna kecapean kerja di depan laptop dan kopi yg belum habis.
dan sedihnya lagi ketika cek hp, suaminya berhutang ke temen2nya untuk sekedar beli susu dan popok anaknya.
jujur sedih banget bacanya..
hasil itu urusan Allah, tugas manusia itu berusaha dan berdoa...
tolong bgt buat istri2, kalau suaminya sudah berusaha maksimal tapi hasilnya blm optimal, tolong tetap di support, di tenangkan mentalnya, cari jalan keluar bareng2, jangan dibuat makin hancur 😭
1 suami gugur ketika mencari nafkah, 19 juta suami merasakan penderitaannya 😭😭😭 semoga syahid.
baru tau plasenta itu ternyata bagian dari ayah, bukan dari ibu, ternyata seorang ayah sudah melindungi anaknya sejak dalam kandungan
makin nangis setelah baca komen ini🥺
Aldi Taher hadir bersama istri dan anak-anaknya.
Diundang ke salah satu stasiun tv
Dan yang keluar dari obrolan ini jauh lebih dalam dari yang kelihatan di permukaan.
Di balik semua gimmick dan konten viralnya:
Banyak orang kenal Aldi Taher sebagai sosok yang selalu bikin heboh — lawak, kontroversi, viral.
Tapi di episode ini dia bicara soal sesuatu yang jauh lebih berat.
Ibunya stroke selama 25 tahun.
Bukan setahun dua tahun.
Dua puluh lima tahun.
Dan di stroke kelimanya leher ibunya sampai miring, makan harus pakai sonde.
Saya tidak boleh terlihat sedih di depan ibu saya.
Dan Aldi sendiri adalah penyintas kanker.
Dan dari dua beban berat itu muncul satu filosofi hidup yang sederhana tapi dalam:
Enggak apa-apa disumpahi netizen asal jangan disumpahi langit.
Sekasar apapun komentar yang masuk gambar apapun yang dikirim responnya sama:
istigfar. Lewat. Selesai.
Bukan karena tidak sakit.
Tapi karena dia sudah memilih menggunakan energinya untuk hal yang lebih penting merawat ibu yang sakit, menjaga kesehatannya sendiri, dan membesarkan anak-anaknya.
Soal istrinya Shika:
Shika hadir dan berbicara jujur awalnya kaget dengan haters dan komentar negatif.
Tapi lama-lama belajar bahwa memang tidak ada public figure yang bebas dari itu.
Dan ada satu kalimat Aldi ke istrinya di akhir yang menurut gue sederhana tapi berat maknanya:
Makasih ya sudah jadi istri yang baik, salehah, sudah jadi ibu.
Shika nangis.
Aldi becanda untuk mencairkan suasana karena memang begitu caranya.
Tapi bukan berarti tidak serius.
Yang paling gue ingat dari episode ini:
Aldi bilang dua hal soal kesetiaan yang menurut gue worth disimpan:
Kesetiaan perempuan itu diuji ketika tak berharta. Kesetiaan laki-laki itu diuji ketika sudah segala ada.
Dan soal Al-Qur'an yang dia baca rutin:
Efek baca Quran ada ujian apapun kita bawa husnuzan sama Allah dan bawa happy aja.
Ini bukan motivasi kosong.
Ini dari orang yang ibunya stroke 25 tahun dan dirinya sendiri pernah divonis kanker.
Di balik semua kegilaan konten Aldi Taher yang sering bikin orang geleng-geleng kepala ada seseorang yang setiap hari bangun dan memilih untuk tidak kelihatan hancur di depan ibunya yang sakit.
Yang memilih tertawa bukan karena hidupnya mudah tapi karena dia tahu tertawa adalah satu-satunya cara dia bisa terus berdiri.
Dan itu bukan hal kecil.
@GiaPratamaMD Apa yang kita pikir baik untuk kita, bisa jadi buruk di sisi-Nya. Dan apa yang kita pikir buruk untuk kita, bisa jadi baik di sisi-Nya.
Liat dari perspektif itu, dan semuanya akan baik-baik aja. ✨️
He knows Paris, but now he’s home in Paris van Java. 💙
Bienvenue à Bandung, Layvin Kurzawa 🇫🇷
Let’s fight for the badge on our chest and make history together
#WeArePERSIB
BROKEN STRINGS PDF
🖇️ https://t.co/1SthaIuP55
Temen-temen karena linktree kak Aurelie overload trafficnya, yang mau baca Broken Strings coba akses disini yah. Download aja kalau bisa, bikin arsip, biar orang nggak kekurangan akses baca!