kak saya kasih alasan kenapa @bymoonrvr mustinya reject tas ini dan berikan refund ke kk lumi ini
1. BEDA WARNA dari updated sample, harusnya langsung reject, nggak usah ditoleransi. Qc itu harus brutal kalau kamu mau jualan barang berkualitas!
2. BOX X STITCHING DI HANDLE TIDAK ADA, gimana mau tahan barang berat kalau hal sedetail ini tdk dilakukan! itu yg ngunci handle!
3. BADAN TAS KERITING begitu, itu antara bahan ketipisan, pakai lapisan terlalu licin, atau jarum mesin kamu kegedean, harusnya dipastikan ke vendor!
4. DESIGN FLAW krn sablonan di bagian belakang yg akan bergesekan dg badan, akan cepet hilang. harusnya dr awal ini diperhatikan
5. POSITION SABLON BEDA, hasil produksi terlalu dekat ke bottom, tdk sama dengan updated sample
6. STRUKTUR TAS BEDA! hasil produksi pipingnya di luar terus sambungannya tidak rapih while sample itu dijahit di dalam! harusnya reject bukannya dikirim ke customer
that's 6 points based on one photo only, and it's safe to say this is a completely different bag from the sample. shame on you for not doing proper QC, padahal you claim to do this out of love!
mau kalian udah operasi atau gmn pun, secara biologis transpuan itu laki.
secara biologis ga bisa diubah, kalau kalian lebih seneng dipanggil perempuan yaudah, tapi tolong sadar dan menempatkan diri sesuai dengan kondisi biologis pas kalian lahir.
Kalau orang ngerjain tugas kuliah harus sampai bawa printer ke cafe, artinya ada sesuatu yg salah di sini.
Saya punya beberapa pertanyaan:
- Kampus jaman sekarang UKT nya selangit, tapi kenapa tidak ada infrastruktur & layanan bagi mahasiswa untuk mengerjakan tugas di dalam kampus? Kenapa musti ke cafe? Kalau saya punya cafe, saya akan tanya kenapa kamu sampai kayak gitu? Terus kalau cafe nya tutup jam 10 malam, terus mereka pada ke mana? ke McDonald's 24 jam?
- Perguruan tinggi apalagi yg masuk rangking ini itu harusnya punya layanan untuk mahasiswa begadang mengerjakan tugas, serta laboratorium komputer utk mahasiswa bisa mengerjakan tugas spesifik keilmuan. Agak aneh kalau mahasiswa teknik musti punya laptop gaming pakai GPU dan beratnya ampun-ampunan hanya utk jalankan software teknik yg harusnya bisa disharing di lab komputer. Ada teknologi namanya remote desktop & remote GPU. Kenapa fasilitas kritikal begini nggak pernah jadi iklan sebuah kampus?
- Proses pengerjaan tugas itu kan dibikin di komputer dulu, ya kalau belum final ngapain diprint? Kan sekarang kampus pada langganan Microsoft 365, ya mestinya koreksi dokumen & komentar kan bisa dilakukan secara online? Diketik di Word, disimpan di OneDrive, dosen & mahasiswa nya punya akun, kan itu bisa dipakai kolaborasi? atau nggak ngerti caranya gimana?
Coba saya ingin lihat komentar anda melihat hal yang aneh ini. Atau bawa printer ke cafe itu sekarang dianggap tidak aneh?
i remember that one reels that a man saying kalian kalau didekatin laki2 buat ngobrol/kenalan jangan anggap kita serem or smth and then i just wow gmn ya hidup berpikir seperti itu... such a privilege take. kalau di tempat umum, aku milih buat duduk/beraktivitas dekat perempuan
agree. mahasiswa itb yg aku tau lumayan vokal, apapun isunya. tentang palestine, isu lingkungan, ekonomi, dsb. masing² himpunan, ukm, dan kelompok lainnya suka bahas isu yg berkaitan di ranah masing². even nggak serame aksi 17 jun.
Controversial take tapi kayaknya gak perlu deh meromantisasi pergerakan mahasiswa yang cuma angkat suara di isu-isu tertentu dan lebih sering “anyep” di kondisi politik lain. Kaderisasi sekeras itu kalau gak dipakai untuk menyuarakan keresehan rakyat buat apa ://