Komen juga ah.
Suami berbagi beban dgn istri adlh sdh layak & spantasnya.
Suami yg sukarela ambil sbagian beban reproduksi (yg selama ini oleh social-norm ditimpakan ke tubuh perempuan) adlh suami berani & hebat.
Mereka berdua pun ambil kputusan scr sadar & bahagia.
Dah gtu aja.
Konservatif begitu gigih mengharamkan suami yg peduli dengan kesehatan pasangannya daripada mengharamkan bapak yg menelantarkan keluarganya. Beragama tapi cuma untuk membatasi bukan untuk melindungi.
ini buat laki hetero ya, sebenarnya kl ga capable buat berkeluarga ga usah dan jangan dipaksa buat menuhin tuntutan sosial menikah, sendiri aja, sama kayak perempuan ada tuntutan nikah tp gamau, laki2 jg bisa. gausah dipaksa kl emg di masa depan ga kebayang jadi ayah.
Dulu sempat berfikir bahwa kontrak rumah lebih menguntungkan. Sampai suatu saat, pas lagi enak dan betah-betahnya di rumah kontrakan, "diusir secara halus" oleh yang punya rumah.
Sejak saat itu memutuskan untuk punya rumah sendiri.
Karena di rumah sendiri, kita punya kuasa penuh atas rumah kita.
Menurut gw, having a child itu keputusan yang paling sakral dalam hidup manusia. Bahkan daripada menikah.
Karena kita menghadirkan satu jiwa baru lagi di dunia yang seperti ini. Yang one day kita akan lepasin gitu aja, sementara kita jg akan dimintai pertanggungjawaban.
Sayangnya, banyak orang mikir punya anak sekadar ngelahirin, ngasih makan, udah.
Padahal tiap manusia punya kebutuhan dasar dan banyak hak, sampai aspirasi dan cita2 yang menurutku parents musti turut bertanggungjawab.
Pantes aja orang tiktok & ig ngatain orang twitter khayal. Emang banyak yg gak napak tanah. Dunia twitter tuh dunia ide, kalo mau lihat realitas dunia lewat sosmed masih mending ke tiktok aja. Aplikasi yg kalian bilang kandang monyet itu, will slowly making you understand how complex being a human, and how cruel life could be.
Sejak dulu saya paham kalo memperkerjakan anak di bawah umur itu ilegal. Sampe skrg saya punya stance yg sama. Tulisan ini pun bukan sebagai pembenaran eksploitasi anak. Tapi tahu gak? Dunia gak akan langsung bisa menjadi lebih baik hanya karena kamu punya kompas moral diatas orang lain.
Saya ngajar di lereng gunung dengan profil sosioekonomi masyarakat yg rentan miskin. Murid SMP saya banyak yg gak lanjut ke SMA/SMK karena mereka harus berjuang hidup. Lulus SMP di usia 15-16 tahun mereka udah kerja.
Gak perlu nunggu lulus. Tiap musim tani, para guru sering dapat izin "bu, besok saya izin gak masuk karena bantu ayah ponjo kubis." Atau bikin lanjaran, atau ikut borongan nebas tebu. Bangun sebelum subuh jadi kuli panggul di pasar. Ikut kerja di pabrik kerupuk rumahan. Any kind of job that they can find. Akhirnya di sekolah ngantuk, gak semangat, sering izin.
Mau marahin pemilik modal karena memperkerjakan murid saya yg umurnya 12-15thn jg gak bisa. Di mata roda ekonomi, pemilik modal dan murid saya memang saling membutuhkan.
Marahin keluarga murid karena membiarkan anaknya di bawah umur bekerja? It's actually not simple as you think guys. Banyak orang tua yg deep down gak rela ngelihat anaknya bekerja, tapi mereka jg gak bisa berbuat banyak karena impitan ekonomi.
Anak umur 13 tahun yg bangun jam 4 pagi buat bantu di pasar itu mungkin di timeline kalian keliatan kayak korban sistem. Tapi di rumahnya, murid saya mungkin merasa sedang jadi bagian dari solusi keluarga. Banyak dari mereka sebenarnya bukan dipaksa. Mereka tahu kondisi keluarganya sampe ikut turun tangan sebisanya.
Kadang orang di internet ngomongnya gampang banget “eksploitasi anak nih”
That's actually a very valid reason to be angry. Secara hukum dan secara moral, memang salah.
Tapi ketika kamu benar-benar hidup di lingkungan seperti ini, kamu mulai sadar kalau realitas itu gak hitam-putih.
Apakah itu ideal? Tentu tidak.
Apakah itu seharusnya terjadi? Juga tidak.
Tapi dunia nyata seringkali berjalan jauh lebih kompleks dari sekadar benar dan salah versi timeline. Makanya hati-hati sebelum nunjuk siapa yang harus disalahin. Di rantai ini semua orang sebenarnya sama-sama terjepit. Orang tua terjepit ekonomi. Anak terjepit keadaan.
Satu-satunya pihak yang benar-benar punya kapasitas mengubah keadaan itu sistem yang lebih besar: akses pendidikan, lapangan kerja yang layak, perlindungan sosial yang benar-benar jalan. Selama itu belum kuat, realitas di bawah akan terus seperti ini bukan karena orang-orangnya gak punya moral tapi karena hidup tetap harus berjalan.
seringkali, yang bikin saya bersabar setiap melihat kenyataan bahwa penguasa berbuat seenaknya dan kita gak berdaya atas ulah mereka, adalah keyakinan bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan semua akan dapat ganjaran sesuai perbuatan.