Ini gila. Pidato diawali dengan permintaan maaf kepada rakyat.
Kemudian membuat gebrakan baru di mana tenda VVIP ada di rakyat, bukan pejabat. Lalu mengapresiasi para pelajar yang berprestasi, setelah itu kinerja para buruh kasar. Kemudian dilanjutkan dengan pengakuan bahwa negara merdeka hanya berdasarkan de jure, sedangkan secara de facto, rakyat kita masih belum sepenuhnya merdeka.
Bukannya membahas pencapaian, beliau malah memilih membahas masalah yang belum terselesaikan oleh jajaran kepemerintahannya. Bahkan mengakui bahwa masih ada kejahatan kolonialisme dan imperialisme di tanah air kita. Bukan berasal dari bangsa asing, melainkan dari bangsa sendiri. Feodalisme juga disinggung bahwa pejabat masih suka dihormati, disanjung-sanjung, dikawal, dan dimuliakan.
Siapa beliau ini?
Tidak, pertanyaan saya bukan tentang KDM.
Tapi siapa pemimpin negarawan ini?
Terakhir, pidato yang membakar semangat yang saya dengar adalah pidato Bung Tomo.
Menjadi pejabat yang dicintai oleh rakyatnya di negeri ini sebenarnya cukup sederhana. PEKA terhadap keadaan. Anehnya, formula sederhana ini masih belum juga bisa dipraktikkan oleh mayoritas pejabat di negara ini.
Kita tahu bahwa Indonesia masih jauh dari negara maju.
Kita tahu bahwa Indonesia masih memiliki banyak kekurangan.
Kita tahu bahwa Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka.
Kita tahu bahwa membangun negeri ini tidak cukup hanya 1 atau 2 periode.
Masyarakat cuma ingin dimengerti. Sesimpel itu kok.
Percayalah, jika semua pejabat di negeri ini punya kepekaan yang tajam seperti KDM. Nggak perlu pencitraan sana-sini, masyarakat juga akan otomatis berbaris di belakangnya. Biaya kampanye jadi semakin murah.
Source fb : Cakra Adi Negara
upacara hut ke 81 ri di kulon progo digelar tanpa tenda vip:
- pejabat ikut berdiri sama kayak peserta lain
- konsepnya namanya satu rasa satu jiwa
- bupati kulon progo agung setyawan ikut berdiri kena panas juga
- tujuannya biar pejabat rasain yang biasa dirasain rakyat terutama anak sekolah
- katanya biar semua peserta ngerasa setara dan kompak nggak ada sekat
Peter Dinklage pernah bagi pesan yang simpel tapi nampol banget: secara hitungan aerodinamika, badan lebah terlalu berat buat sayapnya.
Kalau ikutin "hukum fisika," lebah HARUSNYA gak bisa terbang.
Tapi lebah gak baca text book.
Dia tetep terbang.
Bukan karena dia ngelanggar hukum alam, tapi karena dia gak pernah tau ada "hukum" yang bilang dia gak bisa.
Ini nyerempet konsep self-fulfilling prophecy dalam psikologi: begitu lo internalize batasan yang orang lain kasih ke lo , soal fisik, latar belakang, ekspektasi sosial, batasan itu jadi nyata cuma karena lo percaya.
Padahal batasan itu sering kali cuma angka statistik, bukan hukum mutlak.
Dinklage sendiri hidup buktinya , dari sering ditolak industri film karena kondisi fisiknya, sampe jadi salah satu aktor paling dihormati di Hollywood.
Mulai pekan depan, kantor kami akan ada suasana baru. Yang biasanya hanya ada wajah-wajah keriput, nantinya akan ada balita usia tiga tahun.
Salah seorang karyawan kami tengah berduka. Istrinya, meninggal dunia selepas melahirkan anak keduanya. Sewaktu tadi kami datang ke rumah duka, wajah anak pertamanya (yang berusia tiga tahun) terlihat bingung.
Melihat ke sekeliling, ramai. Melihat wajah Ayahnya, bingung, karena tatapan mata Ayahnya kosong dan sesekali menangis.
Kenapa harus dibawa ke kantor? Jika keduanya dititipkan kepada Neneknya, kasihan Neneknya. Sampun sepuh, sudah seharusnya beristirahat. Untuk dititipkan ke day care, masih ragu karena banyaknya kasus kekerasan pada anak.
Puji Tuhan tidak ada protes dari para karyawan. Justru semuanya senang, bahkan ada yang sampai berinisiatif untuk meminta ruangan baca dijadikan ruang istirahat. Dan bagi yang merokok diperingatkan untuk tidak mendekat kepada balita tersebut.
Semoga kami selalu terberkati 🤍✨️