Dulu juga ada yg berpikir seperti Om @fajarnugros... 🤔
Memahami Keberadaan Alun-alun Utara, Sri Sultan Hamengku Buwono X- Gubernur DIY dalam rubrik Opini Publik , Harian Kedaulatan Rakyat, 7 Desember 2005
AKHIR-AKHIR ini orang seringkali merancukan antara “wacana” dan “realita”. Padahal, bukankah antara keduanya sangat jauh berbeda? [...] Sejarah sepertinya berjalan di tempat. Karena disadari atau tidak, ternyata cara berpikir kita masih mirip dengan sistem pengetahuan nenek-moyang kita: lebih mengedepankan mitos daripada realita yang nyata-nyata di depan kita. Apalagi jika cara berpikir mistis ini juga melupakan dimensi spiritual-filosofis yang mendasari mengapa mitos itu diyakini oleh masyarakat.
Lebih gamblangnya dalam konteks “wacana” tentang parkir bawah tanah yang menyangkut keberadaan Alun-alun Utara, kebanyakan pakar, budayawan dan pelestari pusaka budaya, bahkan kerabat Kraton sendiri, terkesan melupakan “realita” yang kita hadapi sehari-hari tentang parkir “di atas” Alun-alun yang kumuh dan kotor.
Mereka beramai-ramai membangun opini yang dibantu secara gencar oleh media massa — karena memang isu yang laku dijual —bahwa membangun “parkir di bawah Alun-alun Utara” jelas-jelas menyalahi konsep filosofis yang mendasari awal pembangunan kota Yogyakarta yang diletakkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, leluhur yang amat saya hormati dan saya ikuti petunjuknya. Bahwa pembangunan “parkir bawah tanah” akan mengurangi, bahkan menghilangkan makna kesakralan poros filosofis-imajiner Kraton-Tugu.
Sebaliknya terhadap keberadaan Alun-alun Utara yang kumuh dan kotor sekarang ini, mereka lupa melihatnya sebagai hal yang mengganggu kesakralan itu. Pertanyaan yang sederhana ingin saya ajukan: Apa bedanya keberadaan “parkir di atas Alun-alun Utara yang kumuh dan kotor” dengan “parkir bawah tanah” terhadap tatanan makrokosmos dan mikrokosmos Kraton dan kota Yogyakarta? Mereka juga seakan lupa, bahwa jalan kereta api yang melintang dan membelah jalan Malioboro dan jalan Pangeran Mangkubumi, sesungguhnya juga “mengganggu” poros Kraton-Tugu. [...]
Sesungguhnya ”wacana” parkir bawah tanah di Alun-alun Utara sangat sederhana bagi yang paham dan mengerti (atau mangerteni” dengan makna yang lebih dalam), tetapi menjadi demikian kompleks yang menimbulkan isu kontra produktif, emosional dan tidak proporsional bagi mereka yang tidak memahami permasalahannya.[...]
Dalam hal ini, dapat diambil contoh yang amat sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana perasaan kita, jika sekiranya halaman rumah kita digunakan oleh orang lain tanpa seizin pemilik, bahkan menjadi kumuh dan kotor? Di mana kekumuhan itu nyaris setiap hari kita temui pada saat kita berangkat dan pulang kerja. Mungkin mempersoalkan bagaimana perasaan seseorang tidaklah penting, tetapi yang lebih diperlukan adalah bagaimana memikirkan solusinya tanpa mengganggu hubungan harmoni antar tetangga, atau pun mematikan nafkah kehidupan orang lain. [...]
Yogyakarta yang menganut filosofi Hamemayu Hayuning Bawana di mana Dharmaning Satriya bertumpu pada kearifan dan rasa kemanusiaan, maka strategi kebudayaan dalam pembangunan bumi Yogyakarta harus mendahulukan kesejahteraan sosial budaya rakyat dengan nilai keutamaan pada harmonisasi kehidupan, dengan tetap menghargai proses demokratisasi komunikasi bermasyarakat.
Catatan pendek ini adalah refleksi dari bekerjanya kebijakan pembangunan yang mengandung strategi kebudayaan komprehensif, yang mengejawantah dalam cara bereaksi, berpikir dan bertindak suatu masyarakat bangsa.[...]
Migrasi dari Windows ke MacOS untuk pertama kalinya
Ini thread isinya struggle, penemuan, tips & trick, atau apapun dalam masa migrasi ke MacOS.
Siapa tau dari teman-teman ada yg mau migrasi juga, semoga bermanfaat
Device : Macbook Pro M1 (2020)
MacOS: Ventura
Afirmasi Pagi: Alhamdulillah lingkunganku positif, ucapan, tindakan, pikiran dan hatiku positif, bersih, dijauhkan dari orang2 toxic dan negative vibes. Aku sehat, ortuku sehat. Aku sejahtera, makmur, melimpah ruah, bahagia. Aku mencintai smua orang dan smua orang mencintaiku🤍