Me : “Mau makan apa me?”
🧚🏻♀️ : “Mau makan 🐷 ce, aku hari minggu udh gabisa lg soale”
Me : “lahh knp?”
🧚🏻♀️ : “mualaf aku ce minggu”
Bjirrrrr langsung makan banyak” dan bahagia wkkwk
Membeli buku, dibaca, lalu dijual lagi, masih ditanya motifnya apa? Jelas-jelas kita butuh uang, uang itu diputer lagi untuk beli yang lain. Itu strategi biar kita masih bisa baca beragam buku dengan anggaran yang terbatas.
Yang perlu dipertanyakan itu apa motif pemerintah motong anggaran ipusnas, motong anggaran pendidikan, motong APBN, untuk bangun sppg, kopdes, dan sekolah rakyat?
alasan iqbal sekolah di luar negeri dulu:
- sadar mulai "sombong" di usia 15, takut kalau dibiarkan makin parah
- udah punya banyak hal yang teman sebaya nggak punya
- cari tempat yang nggak ada yang kenal dia
- ingin rebranding & mulai dari nol
- pilih sekolah isinya murid 90 negara, semua punya "titel" sendiri jadi setara, nggak ada gunanya flexing
- ingin merasakan jadi remaja biasa, lepas dari beban nama besar
Aku setuju banget sama ini. Mau sedikit berbagi juga dari perspektif translation studies.
Aku coba bandingkan “Akal Imitasi” dan “Kecerdasan Buatan” dengan memakai pendekatan teknik penerjemahan Molina & Albir (2002).
Menurutku, “Kecerdasan Buatan” jelas memakai dua teknik utama, yaitu calque dan literal translation.
Setiap unsur dari “Artificial Intelligence” diterjemahkan secara struktural dan harfiah, di mana “Artificial” jadi “Buatan”, lalu “Intelligence” jadi “Kecerdasan”. Teknik ini memang menjaga kesetiaan formal, tapi hasilnya terasa kaku dan masih membawa warna bahasa sumber.
Sementara itu, pada perjemahan “Akal Imitasi”, yang paling menonjol adalah teknik modulation.
Ada pergeseran sudut pandang yang jelas dari “kecerdasan yang dibuat” menjadi “akal yang meniru”. Pergeseran ini menurutku justru lebih tepat karena konsep AI sendiri sejak awal memang menekankan aspek imitasi.
Selain itu, aku juga menemukan adanya discursive creation, di mana frasa ini diciptakan sebagai padanan sementara yang belum baku, tapi dirancang supaya terdengar natural di telinga penutur Indonesia.
Ada sedikit borrowing juga pada kata “Imitasi”, sementara “Akal” dipilih karena jauh lebih mengakar dalam bahasa sehari-hari kita.
Dari hasil analisis menggunakan kerangka Molina & Albir ini, aku menyimpulkan bahwa “Akal Imitasi” ini lebih bagus dibandingkan “Kecerdasan Buatan”.
Teknik yang dipakai lebih mengutamakan kesepadanan fungsional daripada sekadar kesepadanan formal. Ia terasa lebih hidup, lebih mudah diterima, dan lebih selaras dengan cara berpikir penutur Indonesia.
Itulah sebabnya menurutku valid juga kalau orang-orang menganggap “Akal Imitasi” terasa lebih bagus dan berterima dibanding “Kecerdasan Buatan”.
Gara2 maganghub, liat kuota:pelamar 1: 5 aja udah pada keringat dingin, padahal selama ini lamar di job portal lain esp LinkedIn yang 1:100 aja biasa 😭
Plis lah jangan nakut2in gini
Gw tau job market lagi kacau dan requirement makin gila2an, apalagi IT
Tapi dengan spek menang hackathon, internship A B C, lomba ini itu, masih belum bisa lolos kayaknya gamungkin?
I assume beliau bohong, atau mungkin dia maunya gaji 30jt++ 😭
kok gw ngeri yaa ama tiktok, gw gaada search apapun, even di chrome atau google, tapi tiba" muncul fyp ttg font, which gw emg search tapi searchnya di laptop, dan pake edge, dan beda akun sm tiktok & default google gw di hp, creepy cuk