#BeerLens
LDR + ๐ sakit
Jadi ceritanya ๐ฅ๐ sebelum pacaran, mereka tinggal di negara berbeda. Awal pertama bertemu saat bermain game online, dan yang jatuh cinta lebih dulu adalah ๐ฅ.
Mereka berhubungan dekat selama tiga tahun sebelum akhirnya ๐ฅ memberanikan diri menyatakan cinta kepada ๐ lewat video call... dan diterima! /gimana engga, di online aja banyak yang pdkt sama ๐, apalagi di kehidupan nyatanya. Mana kebanyakan rubah tua lagi/
Sejak resmi berpacaran, mereka rutin melakukan video call dua hari sekali. Jadwalnya selalu diatur oleh ๐ฅ, sementara ๐ tinggal mengikuti saja.
---
๐ฅ : Na? /memperhatikan ๐ yang terlihat lebih pucat dari biasanya. Pelipisnya dipenuhi keringat, sementara matanya tampak sayu/
๐ : Apa...? Uhuk!
๐ฅ : Udah minum obat?
/nada suaranya mulai terdengar khawatir./
๐ : ...Belum /melihat ๐ฅ mulai mendelik/
๐ : Iya, iya. Nggak usah mendelik gitu! Awas copot itu mata!
๐ฅ : Ayo makan dulu, habis itu minum obat. Sekalian ambil cuti kerja. Badanmu masih belum fit
๐ : /mengambil roti dan mulai makan pelan/ nomnom... Ih, marah-marah mulu, kuning! /cemberut/
๐ฅ : /diam sebentar, lalu membuka ponselnya/
๐ : Lagi ngapain?
๐ฅ : Booking tiket pesawat
๐ : Hah?
๐ฅ : Besok aku ke sana
๐ : /menatap ๐ฅ beberapa saat, takut salah dengar/ ...Kesini?
๐ฅ : Ya iya lah, sayangku.
๐ : Ke rumah aku?
๐ฅ : Iyaa, cantiknya mas~
๐ : Nggak apa-apa gitu? Hachu! Ugh... meler. Ingusnya keluar. Iuh!
/mengambil tisu lalu membuang ingusnya/
๐ฅ : /semakin khawatir melihat kondisi ๐/ ngga papa. Aku juga udah ambil cuti.
๐ : Maaf ya... kamu datang pertama kali malah pas akunya sakit. Nggak bisa jalan-jalan deh
๐ฅ : Lain kali masih bisa, kok. Berdua sama kamu itu yang penting. Soal jalan-jalan mah bonus
๐ : Mas, besok kalau udah datang langsung masuk aja ya. Kunci cadangannya tak taruh di pot kuning depan pintu. Takutnya aku nggak denger suara bel
๐ฅ : Iya. Sekarang minum obatnya dulu
๐ : /menelan obat dengan wajah meringis/ udah aku minum obatnya
๐ฅ : Nah, pinter. Bisa tidur sekarang?
๐ : Belum ngantuk~
๐ฅ : Mas temenin kamu sampai tidur
๐ : Uhm... besok bawain oleh-oleh
๐ฅ : Mau apa? Makanan atau barang?
๐ : Makanan aja. Yang asli dari sana gituu. /Hachu!/
๐ฅ : Oke. Besok mas bawain yang banyak. Sekarang kamu pindah ke tempat tidur. Nggak nyaman kalau kamu ketiduran di situ.
๐ : Iyaa. Kalau aku ketiduran, matiin video call-nya ya
๐ฅ : Okee
---
#Keesokan harinya, sore
Suara dentingan mangkuk dan sendok membuat ๐ perlahan terbangun.
Piyamanya basah oleh keringat. Plester penurun demam masih menempel di dahinya.
Dengan mata yang masih sedikit buram, ia menoleh ke arah suara itu.
๐ฅ berdiri di dekat meja makan dengan kemeja kuning-hitam yang dikenakannya. Saat menyadari ๐ sudah bangun, ia berjalan mendekat lalu mengusap pelan kepalanya.
๐ : Mas?
๐ฅ : Iya. Mas di sini
๐ : /tersenyum kecil, lalu memeluk ๐ฅ sambil membenamkan wajahnya di perut sang kekasih. Aroma parfum yang menempel di pakaiannya terasa begitu menenangkan/
Selamat datang~
๐ฅ : /membalas pelukan itu sambil mengusap pinggang ๐ perlahan./
Hmm... mas datang.
๐ : Aku laper.
๐ฅ : Buburnya udah jadi. Masih panas. Ayo ganti baju dulu, habis itu kita seka badanmu.
๐ : iyaa /mengangguk patuh/
Dan selama beberapa hari berikutnya, ๐ฅ merawat ๐ dengan penuh perhatian.
Mulai dari memastikan obatnya diminum tepat waktu, memasakkan makanan hangat, menyeka tubuhnya saat demam kembali naik, hingga menemani tidur tiap malam.
Rumah yang biasanya terasa sepi kini dipenuhi obrolan kecil dan kehangatan yang sederhana.
Untuk pertama kalinya sejak menjalani LDR, ๐ฅ๐ bisa menikmati keseharian bersama... meski pertemuan itu diawali dengan sakitnya ๐.