@WarungClip@d3ndes@PT_Transjakarta dulu pernah tanya2 supir jaklingko kalo mereka dibayar per km. jadi mereka ngejar 1 hari bisa berapa kali trip gitu. mungkin itu sebabnya mereka grusa grusu di jalan. tetep harus ada evaluasi dan solusi yang adil dan ga bahayain orang sih ya
gue suka banget kalimat ini:
“Orang yang gak terbiasa komunikasi sehat, tiap masukan kerasa kayak sindiran.
Orang yang kurang tanggung jawab, tiap kritik kerasa kayak disudutkan.”
Ego itu harus dikontrol, bukan diturutin.
Karena kalau ego yang selalu pegang kendali, semua hal bakal diputer jadi soal harga diri.
Dikit-dikit ngerasa diserang, dikit-dikit pengen ngebela diri, padahal belum tentu orang lain punya niat seburuk itu.
Ego bikin kita susah denger, susah nerima, dan akhirnya susah berkembang.
Padahal gak semua masukan itu jatuhin kadang itu cara orang lain biar kita bisa jadi versi yang lebih baik.
Kalau ego terus diturutin, yang ada kita bakal stuck di situ-situ aja.
Gak belajar, gak berubah, cuma makin pinter ngehindar dan nyalahin keadaan.
after break up, yang setia akan butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka dan merenung.
sedangkan yang narsistik, dengan cepat mencari pengganti hanya untuk mengisi kekosongan dan memuaskan egonya.
Last night we did OpenClaw Meetup #2 in Jakarta! Huge Crowd, learn so much from the speaker! Hope we can have @steipete in one of our meetup in the future~
Jawaban pendeknya: ada banyak.
Jawaban jujurnya: pertanyaannya kurang tepat.
Karena 45jt/bulan itu bukan milik satu profesi tertentu. Jawabannya bukan cuma "dokter spesialis", "senior software engineer", "banker", atau "manager di big company".
Yes, profesi2 itu memang banyak yang bisa sampai segitu, bahkan lebih.
Tapi angka itu biasanya bukan datang dari label pekerjaannya.
Yang bikin orang digaji segitu adalah seberapa besar value yang dia ciptakan, seberapa besar risiko yang dia tangani, dan seberapa besar leverage yang dia punya.
In other words, itu adalah market value untuk problem tertentu, di sistem ekonomi tertentu, dengan level tanggung jawab tertentu.
Dan yang dibayar mahal sebenarnya bukan "kerjaannya", tapi kombinasi dari hal-hal ini:
→ masalah yang lo selesaikan
→ seberapa mahal masalah itu
→ seberapa langka orang yang bisa menyelesaikannya
→ dan seberapa jelas value hasil kerja lo
Itu sebabnya dua orang yang sama-sama pintar, sama-sama rajin, sama-sama lulusan bagus, bisa punya jarak penghasilan yang sangat jauh. Karena mereka bermain di economic game yang beda.
Ada kerja yang secara sosial kelihatan keren dan terhormat, tapi secara bisnis margin-nya kecil.
Ada juga kerja yang dari luar kelihatan biasa aja, tapi ternyata dekat banget ke revenue, efisiensi, atau keputusan berisiko tinggi. Dan itu yang bikin dibayar mahal.
Karena pada akhirnya, job market nggak membayar niat baik, kerja keras, atau kepintaran dalam bentuk abstrak. Market membayar leverage.
Leverage itu apa?
Simpelnya: ketika satu keputusan lo, satu skill lo, atau satu output lo bisa ngasih hasil dalam skala besar.
Contohnya:
✅ seorang software engineer bisa menulis sistem yang dipakai ribuan atau jutaan orang
✅ seorang salesperson enterprise bisa close deal bernilai ratusan juta atau miliaran
✅ seorang operator yang oke bisa bikin perusahaan hemat biaya besar setiap bulan
✅ seorang legal lead bisa mencegah kerugian yang jauh lebih mahal daripada gajinya
✅ seorang manager yang bagus bisa membuat 20 orang kerja lebih efektif
Di situlah angka seperti 45jt ke atas jadi makes sense.
Karena secara matematis, kehadiran orang itu menghasilkan atau melindungi value yang jauh lebih besar dari kompensasinya.
Jadi, kalau mau naik income, jangan cuma upgrade diri.
Upgrade juga market tempat lo menjual skill lo.
Ini berlaku untuk banyak hal:
- pindah dari industri margin tipis ke margin besar
- pindah dari perusahaan lokal kecil ke perusahaan global
- pindah dari role support ke role dengan ownership
- pindah dari kerja yang output-nya susah diukur ke kerja yang impact-nya kelihatan jelas
- pindah dari "dikerjakan manual terus-menerus" ke "membangun sistem yang bisa diulang"
Lompatan penghasilan terbesar most likely bukan datang dari lo jadi 2x lebih hebat.
Tapi dari lo masuk ke arena yang menghargai skill lo 2x lebih tinggi.
Semakin mahal masalah yang bisa lo tangani dengan tenang, semakin mahal market value lo.
orang no 1 di negara2 yang ngadain election tahun 2024 sampai sekarang kenapa pada lucu2 dah. ada aja gebrakan bikin geleng2 kepala. ga indo, jepang, us, hmm thailand?
Sampe hari ini masih belum faham sama konsep lapor pajak.
Kita yang kerja, lembur, dikejar deadline, digibahin temen sekantor, umpel-umpelan dikereta, kita yang bayar, kita juga yang disuruh laporan.
Harusnya kan kita yang dikasih laporan dikemanain aja itu duit pajaknya.
it’s official - Anthropic just refused the Pentagon’s demands, dario’s statement is doesn’t fuck around:
- “these threats do not change our position: we cannot in good conscience accede to their request.” - dario
- he described the pentagons efforts to force him to enable claude for mass surveillance and autonomous killing weapons
- dario’s response: mass surveillance is not democratic and Claude isn’t good enough to enable autonomous weapons - we won’t cave
- dario will help governmenr transition to a NEW provider if they choose to blacklist anthropic.
fucking wild - fair play for sticking by their code of honor.