Orang tua lo nggak akan melihat lo sampai tua. Pasangan lo nggak pernah kenal lo waktu masih kecil. Anak-anak lo nanti mungkin cuma ingat sedikit tentang masa muda lo. bahkan sahabat terdekat lo pun cuma tahu sebagian dari cerita hidup lo.
yang benar-benar menjalani setiap bab dalam hidup lo dari awal sampai akhir cuma satu orang.
lo sendiri.
jadi, coba lebih baik sama diri lo yang udah nemenin lo melewati semuanya.
Hari ini suamiku ga sengaja jatuhin galon 19 liter, dapur langsung banjir. Anehnya, aku ga marah sama sekali. Aku bilang ke dia "Ga apa-apa aku beresin. Papa kalau masih banyak kerjaan ini ditinggal aja". Fyi suamiku kerja remote. Kejadian kecil ini justru membawaku kembali ke masa kecil. Dulu, setiap aku ceroboh, yang datang lebih dulu bukan pertolongan, melainkan bentakan, omelan, bahkan pukulan. Lama-lama aku tumbuh dengan perasaan bahwa melakukan kesalahan berarti aku pantas dimarahi.
Setelah menikah, aku mengenal sesuatu yang asing bagiku. Setiap kali aku melakukan kesalahan, suamiku ga pernah membentak atau membuatku merasa bodoh. Dia selalu bilang, "Nggak apa-apa, bisa diberesin." Kalimat itu terdengar sederhana, tapi buatku rasanya seperti menyembuhkan sesuatu yang udah lama terluka. Sedikit demi sedikit aku belajar bahwa kesalahan tidak selalu harus dibayar dengan kemarahan. Bahwa rumah bisa menjadi tempat yang aman, bukan tempat untuk takut.
mama said:
“cowo kasar ga bakal tiba-tiba lembut karena nikah. cowo mokondo juga ga auto jadi rajin kerja, yang immature ga mendadak mature cuma karena akad.”
marry the character, not the potential. life’s too short buat nikahin seseorang dengan harapan bisa mengubah dia.
Buat abang Gojek yang tadi belanja di warung emak gue, lu bangsat sih. 😭
Orang tua gue gaptek, tapi kalau sampai dimanfaatin karena mereka nggak paham teknologi, ya anjir banget
I once asked my mom why she divorced my dad. She told me, “I was sick all week, and one morning your dad woke me up asking what I was making for breakfast. I told him I felt awful and needed sleep. He made breakfast for himself and never asked if I wanted anything.” It wasn’t the breakfast, she said. It was realizing that if she didn’t take care of herself, nobody would notice. That stayed with me. I realized people rarely leave because of one terrible moment. Sometimes they leave because of a thousand tiny moments that quietly convince them they’re alone.
demi Allah aku kaget banget pas baru turun dari ambulan yang nganterin jenazah ayahku dari RS, aku sempet pingsan terus dipaksa bangun, dan langsung ditodong pin atm buat keperluan ini itu kayak yaAllah gue lagi sedih anjir bisa nanti dulu gak
Dibaca satu-satu biar ga nanya lagi.
- Perempuan wajib ngurus rumah, masak, bersih-bersih, dan ngurus anak, bahkan ketika perempuan jg kerja.
- Cuma laki-laki yg berhak memutuskan keputusan2 penting di rumah karna dianggap kepala keluarga.
- Perempuan dituntut melayani suami, termasuk secara seksual, seolah tubuh dan akses seksual perempuan adalah hak pasangan ga peduli persetujuan perempuan.
- Perempuan yg nolak seks dibilang istri durhaka, sementara consentnya malah diabaikan.
- Perempuan dibebani kontrasepsi dan konsekuensi reproduksi, tp keputusan2 soal tubuhnya sendiri sering ikut dicampuri orang lain.
- Perempuan yg gamau punya anak dianggap egois, ga feminin, dianggap belum lengkap sebagai perempuan.
- Motherhood dianggap kewajiban kodrati perempuan, sdgkn fatherhood dianggap sebagai pilihan atau sekedar bantu istri.
- Perempuan dituntut jaga virginitas, reputasi, cara berpakaian, berat badan, rambut, makeup, dll sementara standar yang sama ga diberlakukan ke laki-laki.
- Victim blaming dlm kasus KS kyk “pakaiannya apa?”, “kenapa keluar malem2?”, “kenapa mau aja diajak?”, bukannya fokus ke pelakunya.
- Kekerasan terhadap perempuan dlm rumah tangga dinormalisasi sebagai “urusan rumah tangga.”
- Laki-laki yg dominan dianggap tegas, perempuan yg dominan malah dibilang galak, judes, atau ga feminin.
- Perempuan yg ambisius dianggap terlalu agresif, sementara laki-laki dg sifat yg sama dianggap punya jiwa leadership.
- Perempuan yg punya karir tp ga mau nikah/beranak dianggap egois, seolah tujuan pendidikan perempuan ujung-ujungnya ttp di kasur sumur dapur.
- Pekerjaan domestik dan mental load sering ga dianggap pekerjaan, padahal ngabisin waktu dan tenaga juga.
- Perempuan diharapkan ngalah, jaga perasaan, dan jadi emotional caretaker dlm hubungan berumah tangga.
- Laki-laki yg ga bisa ngontrol emosi disebut “manusiawi”, tp perempuan yg marah atau shock langsung dicap histeris/emosional.
- Perempuan sering dibatasi soal mobilitas, jam keluar, pergaulan, dan keamanan, trs pas terjadi kekerasan malah perempuan yg ditanya2 dan disuruh belajar.
- Profesi tertentu dianggap “pekerjaan laki-laki”, jd perempuan yg mau masuk hrs buktiin kompetensinya lebih keras.
- Perempuan yg sukses dianggap mengintimidasi laki-laki, sementara keberhasilan laki-laki justru dianggap nilai plus.
- Laki-laki dianggap punya hak buat nentuin seperti apa “perempuan yg baik”, mulai dari pakaian, fisik, perilaku, dll.
- Bahkan ketika perempuan jd pencari nafkah utama, dia ttp dituntut menjalankan peran domestik.
Ini fenomena yang menarik untuk dipikirkan dan didiskusikan: Kenapa ya kalau ditegur mengenai tingkah lakunya terhadap perempuan, laki-laki cenderung berfantasi mengenai perempuan mengalami kekerasan, cedera, dan/atau musibah lainnya?
Man touches a stranger in a pink hoodie and helmet thinking he’s a woman, only to realize he’s a man.
Then immediately apologizes: “I thought you were a girl.” 😭😭
Kebanyakan laki-laki emang nikah tujuannya buat nyari pengganti ibunya, data statistik mengatakan pernikahan meningkatkan kesehatan yang signifikan, umur panjang, dan keuntungan finansial bagi pria, pernikahan sering kali lebih bermanfaat bagi laki-laki daripada perempuan.