Hari ini sangat macak kemaki. Yakali ga kemaki, kerja totalitas hasil maksimal😝. Mana gak tau nyacat, di rusuhi yo nggih monggo. Aduhhhh baik banget akuuuu
Lagi karnaval tema nya kerajaan. Tokoh agamanya budha. Udah bener pilih anak yg jadi bikhu dianya ga ada rambut. Udah benerrr banget cocok jadi bikhu. EEEHHH DIRIAS DITAMBAHIN KUMISSSSS😭😭. Gak habis thinking guwehhhhhhh😭😭
@fruitjoelly Kalo lost respect ke seseorang, mimik muka dan gestur tubuhku otomatis menyesuaikan.
Pengen bisa bermanis muka dan berpura2, tapi gak bisa.
Faktanya:
1. Titik baliknya tahun 2013. Waktu itu pengguna Android meledak, sementara BBM masih eksklusif buat HP BlackBerry. WA & Line lintas platform sejak awal, jadi pas orang pindah dari BB ke Android, mereka otomatis migrasi ke WA/Line juga bukan nunggu BBM nyusul.
2. BBM sebenarnya lama banget bertahan di RI. Sampai April 2016, BBM masih terinstall di 87,5% perangkat Android di Indonesia angka tertinggi di dunia, jauh di atas negara lain yang sudah meninggalkan BBM. Tapi begitu WA nyusul soal fitur & Line nawarin stiker, dominasi itu ambruk cepat. Oktober 2016, data App Annie sudah nempatin WA di posisi #1 messaging app RI, geser BBM ke posisi dua.
3. Kenapa bukan KakaoTalk/Snapchat?
Dua ini dari awal ga pernah masuk fase "critical mass" di RI.
KakaoTalk basis penggunanya nyaris seluruhnya Korea,
Snapchat fokusnya foto sekali-lihat (bukan chat utilitarian yang cocok buat kebutuhan orang Indonesia yang chat dan hemat kuota).
5. Sekarang? Indonesia jadi pasar WA terbesar ketiga di dunia dengan 112 juta pengguna, dengan penetrasi sekitar 65% dari total pengguna ponsel di Indonesia. Network effect udah kelewat kuat buat digoyang aplikasi lain.
✍️⚠️ yang menang bukan yang fiturnya paling canggih, tapi yang paling cepet capai critical mass dan paling cepet hilangin barrier (biaya , keterbatasan platform).
@blaugrana1O@Ruzbihan53 Kalo ngomongin “bisa jadi” bersrti bisajadi dia ngirim kenomer lain yg udh gak aktif. Soalnya itu gak ada tulisan ngirimnya ke siapa
apresiasi untuk gerak cepat dan dukungan Fakultas Hukum UGM, dalam merespons ancaman atas dosennya, Bu Nabiyla.
mengutip pernyataan seorang senior di FH:
bahwa jika kita dianggap, tidak diinginkan, atau dihajar oleh kekuasaan dan penguasa yang pongah, yakinlah kita “di posisi yang benar”.
panjang umur wahai mereka yang melawan!