nanti deh gue maki-maki anies kalau anies gak becus jadi presiden. gue juga bakal maki-maki ganjar kalau kerjanya gak bener atau bikin program aneh-aneh.
tapi berhubung yang jadi presiden prabowo dan kerjanya lelet banget, gak ngerti skala prioritas, npd, tone deaf, denial, ya yang gue maki-maki prabowo lah. 😭
Kalau si doi lagi pidato tuh predictable banget ga sih, yang dibahasnya gitu-gitu terus. Patriot, hitung-hitung ga jelas, kasih informasi yang membakar IHSG dll.
Eh kalau bikin kebijakan malah unpredictable, bikin kebijakan dulu, dasar hukum dan analisanya belakangan. Lucu🤌
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Ada orang yang ga pernah naik KRL, nyaranin gerbong wanita pindah ke tengah? Coba lu naik KRL dulu deh😩
Sistemnya noh lu perbaikin anjir, kereta nya dipisah antara kereta jarak jauh sama KRL kek, nertibin gerbang kereta api yang ada kek, masih banyak yang perlu di improved!🤌
Guys gw mau fokus ke satu kalimat Prabowo yang kalau dipikir dalam-dalam implikasinya sangat besar.
'Daripada uang dikorupsi lebih baik rakyat saya bisa makan.'
Kalimat itu terdengar heroik. Tapi coba bongkar artinya.
Prabowo secara tidak langsung mengakui bahwa kalau MBG tidak jalan uang itu kemungkinan besar akan dikorupsi.
Itu bukan asumsi yang dia buat. Itu keyakinan yang dia pegang cukup kuat untuk dijadikan justifikasi program senilai Rp335 triliun.
Dan ini yang perlu ditanyakan langsung.
Pak kalau Bapak tahu uang itu akan dikorupsi kalau tidak dipakai MBG berarti Bapak tahu di mana korupsinya terjadi. Berarti Bapak tahu sistemnya yang rusak. Berarti Bapak tahu siapa yang main.
Kenapa jawabannya adalah alihkan uangnya ke MBG bukan berantas korupsinya?
Itu bukan solusi. Itu workaround. Itu cara bypass masalah tanpa menyelesaikan masalahnya.
Ibarat rumah bocor bukan diperbaiki atapnya tapi diletakkan ember di bawah tetesan air. Embernya berguna. Tapi atapnya masih bocor.
Dan ini yang lebih mengkhawatirkan.
Kalau logikanya adalah 'daripada dikorupsi lebih baik untuk rakyat' maka logika yang sama bisa dipakai untuk program apapun. Bikin program X daripada uangnya dikorupsi. Bikin program Y daripada uangnya dikorupsi.
Tanpa pernah benar-benar menjawab pertanyaan dasarnya kenapa sistemnya masih memungkinkan korupsi sebesar itu terjadi? Dan siapa yang bertanggung jawab?
Prabowo sudah 1,5 tahun menjabat. Dia punya kekuasaan eksekutif penuh. Dia punya mayoritas di DPR. Dia punya mandat rakyat yang besar.
Kalau dia tahu di mana korupsinya kenapa itu belum diberantas sampai ke akarnya?
Dan ini yang paling ngeri.
Kalau setelah 1,5 tahun jawaban terbaiknya masih 'lebih baik untuk rakyat daripada dikorupsi' itu artinya korupsi itu masih ada. Masih berjalan. Masih menggerogoti.
Dan MBG dengan 1.000 lebih dapur bermasalah jangan-jangan juga sudah mulai dimasuki oleh sistem yang sama yang selama ini dia khawatirkan.
Solusi untuk korupsi bukan mengalihkan uangnya.
Solusinya adalah memberantas korupsinya.
Kalau setiap kritik pada pemerintah langsung dibalas dengan label “anak abah”, berarti yang diperdebatkan bukan lagi kebijakan, tapi identitas. Demokrasi menjelma layaknya fans club, yang tak tepuk tangan dianggap musuh. Kritik akhirnya kalah oleh stempel politik.
Di reply, cukup banyak yang denial terhadap hasil survei ini. Kalau saya pribadi yakin hasil survei Indikator ini bisa dipertanggungjawabkan.
Di lapangan, 72% masyarakat memang puas dengan MBG (setidaknya menurut hasil survei Indikator ini). Tapi, perlu digarisbawahi, puas bukan berarti baik. Itu dua hal yang berbeda.
Puas dan tidak puas, suka dan tidak suka, itu urusan persepsi. Sedangkan baik atau tidak, itu urusan analisis.
Sebagai contoh, masyarakat kita suka dengan amplop serangan fajar jelang pemilu karena memang politik uang dalam iklim pemilu kita sangat kental. Lantas, hanya karena banyak masyarakat suka dan senang saat menerimanya, apakah kemudian serangan fajar itu menjadi baik? Tentu saja tidak.
Ini sama seandainya masyarakat kelompok pengangguran diberikan dua pilihan, antara dikasih duit 500 ribu atau kursus pelatihan vokasi. Niscaya akan lebih banyak yang memilih 500 ribu alih-alih kursus pelatihan vokasi. (Fenomena ini dikenal dengan istilah diskon hiperbolik).
Mana yang akan lebih membuat masyarakat puas? Jelas duit 500 ribu. Tetapi secara analisis sederhana, mana yang jauh lebih baik dan efektif untuk mengatasi pengangguran? Tentu saja kursus pelatihan vokasi.
Sikap itu pula yg saya yakini sampai sekarang. MBG saat ini adalah program yang pasti membuat banyak orang puas. Baik penerima, pekerjanya, maupun siapa saja yang kebagian proyeknya. Tetapi, apakah MBG adalah program yang baik? Di mata saya, setelah membaca banyak berita dan pendapat orang-orang yg saya percayai dan saya yakini keilmuannya, saya masih yakin, MBG adalah program yang bukan hanya buruk dan tidak tepat prioritas, tetapi juga politis.
Namun, kalau ada yang menganggap MBG sebagai program yang bagus, oke, keren, luar biasa, ya silakan. Pemikiran orang kan beda-beda. 😅
ORANG LUAR NEGERI KE INDONESIA
"Hello, where are you from?"
"I am from the US."
"What are you going to do here?"
"Vacation."
"Great, you just need to pay IDR 500,000 for a Visa on Arrival."
"Here."
"Have a nice vacation."
***
"Hi, you're late to the online meeting."
"Sorry, it's 2 AM here. I have to adjust my schedule."
"Where are you now?"
"I stay in Bali now. It's cheap, the living cost is only a tiny fraction of my salary. I can save A LOT, and by A LOT I mean A LOOOOT."
"Wow, you don't need a work visa for that?"
"I just stay in my room. No one knows that I am working. As long as the internet works."
"Local tax?"
"No, I am on a tourist visa."
***
"Having a nice vacation? You stayed a whole two months."
"Yeah, my visa is almost expired, so I have to leave."
"Kuala Lumpur? Must be another vacation."
"Yes, only for three days, I will be back again after that."
***
"Hello, where are you from?"
"I am from the US."
"What are you going to do here?"
"Vacation."
"Great, you just need to pay IDR 500,000 for the Visa on Arrival."
"Here."
"Have a nice vacation."
***
"Having a nice vacation? You stayed a whole two months."
"Yeah, my visa is almost expired, so I have to leave."
"Bangkok? Must be another vacation."
"Yes, only for three days, I will be back again after that."
***
"Hello, where are you from?"
"I am from the US."
"What are you going to do here?"
"Vacation."
"Great, you just need to pay IDR 500,000 for the Visa on Arrival."
"Here."
"Have a nice vacation."
***
"It's been almost two years since you stayed in Bali, how is it?"
"Amazing, cheap, and tax-free!"
ORANG INDONESIA KE LUAR NEGERI
"Halo mbak, saya perlu urus visa Schengen buat ke Belanda."
"Untuk keperluan apa?"
"Saya ada konferensi ilmiah di Rotterdam. Buat S3 saya, wajib hadir presentasi biar papernya bisa terbit."
"Oke ini jadwal yang tersedia."
"Mesti nunggu 2 bulan?"
"Iya mas, penuh soalnya."
"Aduh, mepet ya."
"Coba dulu aja mas. Ini syarat dokumennya."
***
"Kenapa uang tabungannya cuma segini? Mas perlu sekian ratus juta mengendap."
"Saya adanya cuma segini."
"Mas perlu surat pernyataan gak akan kerja di sana."
"Lah, itu surat undangan dari konferensi gak cukup?"
"Gak cukup, harus ada tabungan sama pernyataan."
"..."
***
"Ini tiket pulang pergi juga udah harus ada."
"Jadi tiket PP udah harus saya beli, tapi visa belum tentu keluar?"
"Iya"
"Hah?"
"Memang aturannya begitu."
"Kalau nanti abis visa keluar gimana?"
"Visanya bisa gak keluar."
***
"Halo, visa Anda ditolak."
"Hah kenapa?"
"Kami gak bisa kasih tahu alasannya."
"Haduh, terus paper konferensi saya gimana?"
"Maaf ya Mas. Saya harus layani antrian selanjutnya."
Walaupun gak(belum) semua
#YTTA
Tapi ane setuju sepenuhnya sama ente
Satu hal yg pasti soal BUMN, makin kesini udah bukan tempat yang "secure"
Makanya sebel bgt kalo denger celoteh abang2an bumn glorifikasi dulu hidupnya lebih berat
Enggak bang, sekarang lebih berat
@shitlicious 1,2 triliun perhari. Libur dua minggu jadinya sekitar 16 triliun. Katakanlah 14 triliun untuk bencana, masih ada sisa 2 triliun utk beli Mbappe
Kalau ada pemilihan pemimpin lagi di masa depan, tolong jangan kufur nikmat. Dikaruniai Tuhan akal sama hati nurani tolong dipakai. Itu kan, yang buat kita berbeda dengan hewan?
Kebodohan dan tidak kompeten sudah membunuh banyak orang.