“Setelah punya rumah,
apa cita-citamu?
Kecil saja: Ingin sampai rumah saat senja,
supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela...”
[ Joko Pinurbo ]
Ibu Annette Mau dari Aliansi Ibu Indonesia ke Komisi IX DPR 🔥🔥🔥
***
Betapa hinanya anak-anak kita di mata negara, diberi makan sampai keracunan.
Dan apa tindakan negara? Adakah kompensasi? Adakah permintaan maaf? Adakah ganti rugi secara sosial?
Bapak Ibu yang tidak punya BPJS, ke rumah sakit merawat anaknya, berhari-hari, tanpa kompensasi.
Dan kita berkata kita sedang membela orang miskin?
HOW DARE YOU!!!!
Bagaimana mungkin? Mereka bahkan tidak bisa bayar iuran BPJS.
Anaknya keracunan, diracuni oleh negara, dan tidak ada kompensasi apa pun.
Yang kelimpungan Pemda, bukan pemerintah pusat.
Jadi sebenernya kita harus bertanya, Bapak Ibu Dewan yang terhormat,
BAGAIMANA SIH CARA KITA MENJALANKAN NEGARA INI
Negaramu telah kehilangan masa depan saat aparat penegak hukum korup tanpa henti. Negaramu telah usai saat mereka saling melindungi atas nama hukum. Dan, sebenarnya, kamu tak lagi memiliki negara saat hukum itu hanya berlaku buat rakyat kecil yang lemah.
Sudah mengirim somasi ke nomor yang mengancam, saya lampirkan juga somasinya secara terbuka melalui twit ini, agar bisa dijadikan periksa oleh pihak terkait.
Silahkan bagi warganet yg mau menggunakan substansi somasinya bila mengalami situasi serupa. Bisa dikirim secara pribadi.
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
Silakan disimak penjelasan saya mengenai seberapa kering musim kemarau 2026 di Indonesia? Data-data yang digunakan berasal dari model yang dikembangkan oleh tim di BRIN.
https://t.co/0wCPWTbLAQ
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Banyak yang ngira krisis 1998 itu cuma karena Rupiah nyungsep dari Rp2.500 ke Rp16.000.
Kenyataannya, ada satu faktor pembunuh yang jarang dibahas yaitu El Nino 1997. Kekeringan ekstrem di tahun itu bikin gagal panen masal, stok beras menipis, dan harga pangan meroket gila-gilaan tepat di saat nilai uang lagi hancur-hancurnya dan PHK massal terjadi.
Kombinasi mematikan antara perut lapar (krisis pangan) dan dompet kosong (krisis moneter) inilah yang memicu people power dan meruntuhkan Orde Baru setelah 32 tahun berkuasa.
Skenario Prof. Ferry soal Juli-Agustus 2026 itu nyeremin karena polanya plek-ketiplek sama 1997-1998.
https://t.co/hlcgRbdc1g
https://t.co/LemS7T2ZZ8
Guys!
Wakaf itu GA MELULU soal masjid dan kuburan.
Bisa juga buat hutan.. ini yang mau diinisiasi Muhammadiyah
Gini caranya
Orang kaya atau perusahaan bisa wakafin tanah. Nanti, masyarakat pun bisa nyumbang pohon atau biaya perawatan.
Atau negara memfasilitasi lahan2 bekas hutan atau lahan2 kosong di pedesaan dan tengah kota untuk jadikan hutan wakaf.
Kenapa ini menarik?
Karena ketika hutan jadi wakaf, hutannya ga boleh dijual, diambil alih, dikurangi nilainya apalagi dirusak!
Dalam agama, hukumnya dosa besar!
Jadinya hutannya akan dipertahankan sampai kapanpun. Tinggal diarahkan, apakah jadi hutan edukasi, hutan konservasi atau hutan lainnya,
Ini menarik untuk bisa diterapkan di Indo. Mayoritas rakyat Indo itu muslim dan percaya dengan konsep amal jariyah dari wakaf.
Karena sesuatu yang bermanfaat dari wakaf itu akan bernilai pahala bahkan setelah si pemberi wakaf meninggal dunia.
Tinggal ulama2 ajakin aja agar umat mau berbondong-bondong sumbangkan harta dan lahannya untuk wakaf hutan.
Dan disisi lain, karena wakaf adalah hal yang sensitif dalam agama..
Hal ini juga memberikan legitimasi agama untuk mencegah perusahaan2 merusak dan menguasai hutan demi tambang dan sawit.
Ini juga meringankan biaya pemerintah untuh melakukan konservasi hutan.
Gimana menurut kalian?
Kemarin, @TheEconomist mempublikasikan dua artikel soal Indonesia
Judul artikel pertama: Presiden Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi
Subjudulnya: Prabowo Subianto terlalu boros dan terlalu otoriter
Perlu diketahui, Spendthrift artinya orang yang menghamburkan uang secara tidak bijak. Diksi ini lebih keras dari sekadar “boros”. Dalam konteks negara, ada kesan ceroboh dan tidak bertanggung jawab secara fiskal.
========
Judul artikel kedua: Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar, sedang menempuh jalur yang berisiko
Subjudulnya: Prabowo Subianto sedang menggerogoti keuangan negara—dan demokrasinya.
Di artikel ini, pemilihan diksi “Eroding” rasanya memperkuat artikel lainnya. Jeopardising (membahayakan) masih bicara soal risiko ke depan. Eroding (menggerogoti) berarti prosesnya sudah berlangsung. Rasanya pelan, diam-diam, tapi nyata. Bagaikan batu yang berlubang oleh tetesan air.
day kesekian warga aceh ini demo.
kali ini selain water cannon, ada gas air mata dan ada INTERVENSI HAK PERS UNTUK MEREKAM 💁♀️
aku sempat dicegat, dikejar dan ditahan.
“hapus, gaada pers2 disini.”—katanya.