Teruntuk mereka-mereka yang membawa dan mengibarkan bendera Palestina itu, dan mereka yang menyuarakannya, selalu ingat.. in joy and in sorrow, #FREEPALESTİNE.
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
Seorang guru honorer bernama Reza Sudrajat menggugat Undang-undang APBN tahun 2026 ke Mahkamah Konstitusi (MK) gara-gara program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya berimbas dipangkasnya anggaran pendidikan.
Baca selengkapnya: https://t.co/FMYBX2HPse.
~SN #MBG #GuruHonorer #MK #AnggaranDipangkas