SEBUAH SEKS EDUKESYEN
Laki-laki hidung belang manipulatif senang sekali melihat perempuan memperjuangkan aborsi tanpa indikasi medis 🥰🥰🥰🥰🥰
Mereka jadi berpikir, "oh gakpapa nih celap celup, kalo dia hamil kan sekarang bisa suruh gugurin aja, toh cewek2 pada mau2 aja nih aborsi."
NONONO YA DEK YA!!! 🫵😡
Ada alasan kenapa aborsi terbatas cuma dilakukan dengan indikasi medis atau kepada korban pemerkosaan!
Yaitu karena ABORSI (abortus provokatus) adalah sebuah tindakan medis dengan risiko yang besar:
perdarahan,
infeksi rahim hingga sepsis,
abortus imperfektus (masih ada jaringan yang tertinggal di rahim),
perforasi rahim (rahim sobek atau berlubang),
bahkan kematian.
Lalu cara agar perempuan tidak perlu aborsi gimana? Caranya ya JANGAN HAMIL ✋😩
- Tidak melakukan zina
- Untuk pasangan suami istri yg udah nggak pengen punya anak, pilih metode kontrasepsi yg paling sesuai
Gitu ya, adik-adik.
Jadilah perempuan cerdas!
Cara untuk mencintai tubuh kalian bukanlah dengan memperjuangkan aborsi tanpa indikasi, tapi dengan menjauhkan diri dari mokondo manipulatif.
Betul, my body my choice, itulah mengapa kita berhak melakukan pencegahan atas kehamilan yg tidak diinginkan.
Cetas! 👍
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
Culture shock teraweh di singapore, ke masjid naik bus.
Karna biasanya di indonesia selalu jalan gt aja krn masjid dkt rmh. Sdgkan di sg masjid lumayan jauh jrg ada perdistik gt
If you're still supporting Prabowo (02) after he states:
-Palestina itu ditindas karena mereka lemah
-Rohingya itu tidak usah diurus, Indonesia saja masih kesulitan. (Di hari mereka diusir di Aceh)
-Sistem hukum di Indonesia sudah baik
Sincerely, FUCK YOU. APA YANG LO BELA?
tiap kali denger berita org yg gue tau meninggal, jantung gue selalu lgsg nyut2an & merinding apalg kalo yg meninggal gen Z/ masih muda.
gakenal sm lula in personal, tp udah tau dia dari jaman askfm, dari dia suka bikin2 meme. rest in peace lul, makasih udh sempet survive. 🥹🤍
Resmi!
Presiden Prabowo menandatangani Piagam Dewan Perdamaian untuk Gaza di sela-sela WEF 2026.
Menurut Prabowo ini sebagai wujud komitmen Indonesia dalam memperjuangkan solusi dua negara bagi Palestina.
Aku chatan sm kawan aku yg tinggal di eropa lagi war tiket BTS pdhal katanya sinyal disna udh kenceng bgt dan tetep kepental gilaaaaaa se war apa lagi nnti di asean😭😭😭😭