@ekowboy2 Ada ga siih yg bisa membuktikan itu di Papua ada penggundulan besar2an? Selain orang film selain orang pemerintah juga, jauh siih yaa dan tiket muahall.. Sedih liatnya pada cekcok sendiri
Rapat orang tua di TK Ponakan. Biasanya isinya soal SPP sama jadwal libur. Biasanya gak pernah dengerin.
Tapi hari itu, gurunya,Bu Sari, udah 12 tahun ngajar, bilang satu hal yang bikin semua orang tua di ruangan itu fokus dan berhenti scroll HP:
"Bapak-Ibu, saya mau cerita satu hal yang Bapak-Ibu GAK PERNAH tau."
"Anak yang paling kalem, paling nurut, paling 'gak bikin masalah' di kelas, dia BERUBAH dalam 30 detik begitu orang tuanya datang jemput."
@Widino Kalo makan di tempat dekat bang kalo mau nambah sedangkan kalo makan dirumah mau nambah jauh dan lagi kalo makan di rumah bisa makan bareng keluarga kan
Kasus Chromebook Nadiem ini sebenernya gimana sih, kok bisa dituntut 18 tahun?
Gue coba jelasin pake bahasa bayi, tanpa istilah hukum yang ribet, Versi Jaksa vs Pembelaan Nadiem ⬇️⬇️
Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu.
Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin).
Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi.
Berarti kemampuan teknisnya ada.
Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang.
Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi.
Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama.
Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada.
Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat.
Karena ternyata tombolnya memang ada.
Cuma rakyat sering kebagian tulisan:
“mohon menunggu”.
Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas.
Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan.
Paham kan ya..
cc:cakraadinegara
@fauzanmuhajir Kl sy kan suka bike to work yaa, pas mau berangkat kerja kena tabrak motor di kemayoran dan pernah pas pulker kena tabrak motor dkt di Jl lenteng agung raya timur dan kena tabrak bajaj di dekat rel kereta Senen..Efek semua itu bbrp th kemudian dinyatakan dokter HNP di L3 4 5 S1