Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
Saya sudah menonton lengkap ceramah/pidato pak Jusuf Kalla (JK).
1) Kalau kita menonton video tersebut secara keseluruhan dan meletakkan pidato tersebut pada konteks yang ingin dituju dan disampaikan: sebagai Kristen saya tidak melihat ada ucapan pak JK yang menyinggung.
Berikut penjelasannya:
2) Dalam video tersebut pak JK sedang berbicara dari sudut tokoh atau orang yang mendamaikan konflik Poso dan Ambon, selaku pelaku sejarahnya langsung.
3) Pak JK menjelaskan realitas dan fakta di lapangan ketika itu — yang beliau lihat, alami dan dengar sendiri — dimana “sentimen” agamalah yang membuat konflik tersebut jadi berkepanjangan, berdarah-darah dan memakan banyak korban. Karena kedua belah pihak sama-sama meyakini sedang “berjuang bahkan berperang dijalan suci”.
4) Gaya komunikasi Pak JK dalam ceramah tersebut aku melihat: memang berfokus pada pendekatan historis, sebagai pelaku sejarah langsung. Daripada sekadar menyebutkan istilah agama tertentu secara benar dan tepat. Karena memang ini bukan ceramah “akademik” tentang perbandingan agama.
5) Kalau mau tepatnya, kalau di Islam ada “mati syahid", kalau di kita Kristen mungkin lebih kurang disebut “mati sebagai Martir”. Itulah yang mungkin pak JK lihat ada di benak dan dipusaran 2 kelompok yang bertikai saat itu. Sama saja sebenarnya keduanya. Karena iman dan keyakinan-nya, masing-masing pihak rela menantang maut bahkan mati mengorbakan nyawanya untuk konflik ini.
6) Melalui pidatonya ini aku melihat, pak JK malah sedang mengingatkan kita kembali — generasi sekarang — tentang bahayanya radikalisme dan konflik berlatarbelakang agama. Inilah inti pidato pak JK.
7) Jadi menurutku, tidak perlulah kita umat Kristen tersinggung karena pidato pak JK tersebut. Karena pidato tersebut bukan mau menyerang ajaran agama kita. Pidato itu bukan ceramah yang mau membedah ada tidaknya “mati syahid” dalam ajaran Kristen? Bukan itu.
8) Fakta yang tidak bisa dibantah, konflik Ambon itu memang nyata dan benar ada. Poso juga. Dan yang bertikai sama-sama membawa keyakinan Agamanya ke pusaran konflik. Itulah yang membuat 2 kelompok yang bertikai jadi sama-sama teradikalisasi dan “ganas” (kalau istilahku). Berbeda dengan konflik dan kerusuhan umumnya.
9) Dan faktanya juga, yang mendamaikan konflik itu ya pak JK. Logikanya, kalau beliau mau menyerang agama tertentu, tidak mungkin dia dipercaya kedua belah pihak dan akhirnya bisa mendamaikan konflik tersebut.
10) Terakhir: sebagai penutup, mari kita lihat bagian lain dari pidato itu — yang satu kesatuan juga sebenarnya dengan video yang viral — dimana pak JK menegaskan bahwa tidak ada agama, baik itu Islam ataupun Kristen yang mengajarkan membunuh orang masuk surga.
Berikut saya kutip ucapan pak JK:
“Tunjukkan ke saya, agama Islam dan Kristen yang mengatakan membunuh orang tidak bersalah masuk surga? Di Islam tidak ada, di Kristen tidak ada.”
11) Ucapan diataslah sebenarnya inti dari pidato/ceramah pak JK. Mau agama apapun, tidak ada itu masuk surga kalau membunuh. Apalagi membunuh saudara sebangsanya sendiri. Baik di Islam atau Kristen, tidak ada namanya mati syahid kalau membunuh orang tak bersalah!
12) Terkait laporan polisi yang sudah masuk, menurutku tidak perlu dilanjutkan dan diperpanjang. Karena memang dari ucapan pak JK tidak ada “mens rea” nya. Tidak ada kandungan niat jahatnya untuk memojokkan, menjelekkan apalagi menista agama Kristen. Karena pidato itu memang bukan tentang agama atau ajaran agama tertentu. Tapi tentang konflik berlatarbelakang agama yang tidak boleh lagi terulang di bangsa ini.
13) Kedua pelapor aku kenal baik. Sahat dan Gusma, keduanya orang baik, terpelajar, generasi terbaik dan pemimpin muda yang ada di Kristen Protestan & Katholik saat ini. Aku yakin akan ada penyelesaian yang baik terkait masalah ini.
14) Sekali lagi: inti keseluruhan pidato pak JK bukan tentang menyerang ajaran agama, dalam hal ini Kristen. Tapi tentang konflik yang tidak boleh lagi terulang.
Demikian sikapku
Hormatku,
JANSEN SITINDAON
Kisah Menteri Paling Miskin, Menguasai 9 Bahasa Dunia tapi Hidup Mengontrak Dari Gang ke Gang Sampai Akhir Hayatnya
Dunia mengenalnya sbg "The Grand Old Man" Diplomat jenius yg menguasai 9 bahasa asing.
Pria yg disegani lawan debatnya di Liga Bangsa Bangsa (sekarang PBB). Dialah H. Agus Salim
Tapi dibalik jas mentareng dan rokok kreteknya tersimpan kehidupan asli yg jauh dari kata mewah, bahkan bisa dibilang sangat melarat untuk ukuran seorang pejabat Negara.
Di balik keteguhan Agus Salim ada seorang wanita hebat bernama Zainatun Nahar. Beliau bukan sosok isteri pejabat yg sibuk arisan atau pamer kemewahan, Zainatun adalah wanita yg rela hidup Nomaden. Selama mendampingi suaminya mereka tidak pernah memiliki rumah pribadi, mereka selalu berpindah dari kontrakan sempit ke kontrakan lain di gang-gang becek Jakarta (Tanah Abang, Jatinegara, Karet)
Gaji Agus Salim sebagai pejabat sering kali habis untuk perjuangan dan sedekah. Saking sulitnya ekonomi mereka, Zainatun sering memutar otak agar anak2nya bisa makan. Pernah suatu hari tidak ada uang belanja tapi Zainatun tidak mengeluh, ia mengolah apa yg ada, ia tetap tersenyum menyambut suaminya pulang meski di meja makan hanya ada nasi dan kecap.
Kisah paling legendaris terjadi saat mereka mengontrak di gang sempit Tanah Abang, saat itu hujan deras dan rumah mereka bocor parah, air masuk ke ruang tamu. Kebetulan ada tamu penting (Tokoh Pergerakan) yg datang berkunjung.
Apakah Agus Salim malu? Tidak, ia justru mengajak isterinya bernyanyi sambil menaruh ember2 di bawah bocoran air.
Dengan jenaka Agus Salim berkata kpd tamunya "Maaf, nyonya (Zainatun) sedang sibuk mengatur bendungan, sebentar lg kita akan punya kolam renang di dalam rumah".
Mereka tertawa bersama, Zainatun tidak merasa hina ia justru bangga. Bahwa kemiskinan harta tidak bisa merampas kebahagiaan dan harga diri keluarga mereka.
Sebenarnya mudah saja bagi Agus Salim untuk menerima "hadiah" rumah atau uang dari kawan2nya, tapi ia dan Zainatun sepakat menolaknya. Mereka memegang prinsip "Leiden is Lijdn" Memimpin itu menderita. Mereka tidak mau hidup enak dari fasilitas Negara sementara Rakyatnya masih sengsara.
Hingga Agus Salim wafat pada 4 November 1954 ia tetap tidak punya rumah sendiri.
Ia mewariskan nama besar tapi tidak harta benda.
Zainatun melepas kepergian suaminya dgn tegar. Ia tahu suaminya adalah mutiara yg tak perlu dibungkus kotak emas untuk bersinar
Semoga saja kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi pejabat kita
terutama para petinggi BGN yg beli mtr listrik tanpa izin DPR
Diujung thn 2025, sy sampaikan 4 kritik (dan saran) utk @Menlu_RI Sugiono. Semoga beliau tidak defensif menerimanya karena yg saya sampaikan ini mewakili pandangan sebagian besar masyarakat pecinta politik luar negeri kita. Semoga pula dapat menjadi bahan renungan yang bermanfaat u/ para eksekutor diplomasi🇮🇩. Silahkan disimak & dikomentari & dikutip. Salam diplomasi, Dr. Dino Patti Djalal
Selamat weekend Kawan @GNFI, saat santap siang hari ini @GNFI akan mengenalkan salah satu pulau di Australia yang ternyata ada hubungan kuat dengan Indonesia, di mana itu?
Ya, Kepulauan Cocos, pernah dengar?