Kukira, obsesi pada Kota Bandung sudah usang seiring berjalannya waktu. Nyatanya tidak. Aku masih di sana, dengan perasaanku yang sama.
Karena banyak sekali yang kusimpan di kota itu. Terlalu banyak untuk kubawa pulang.
Gregoria Mariska Tunjung resmi mundur dari Pelatnas PP PBSI.
Salah satu tunggal putri Indonesia yg paling skillful, paling imajinatif, pemilik permainan paling indah di tur dunia.
Terima kasih atas semuanya, Jorji.
Bangsa Persia punya epos Shahnameh. Di Yunani ada Iliad. Sementara itu, kita di Indonesia punya epos La Galigo, asli Sulawesi Selatan. Setting ceritanya tidak hanya di darat & laut, namun jg di puncak langit & dasar samudera. Temanya perjalanan, pengabdian, cinta, persaudaraan 🫶🏻
1. podcast raditya dika adalah podcast yang bikin nambah ilmu baru buat yg gak sempet belajar karna udah sibuk sm kerjaan, krna beliau ngundang tamu kebanyakan dari rasa penasaran dia sendiri, jadi pertanyaan dia mewakili aku sbg orang biasa yg gak paham apa apa.
2. the catch up club podcast baruu yg sangat sangat membahagiakan untuk didengar, karna pembahasannya ringan, ada kocaknya juga, jadi cocok didengerin pas lagi kerja biar merasa ada temennya.
3. ABG sinear, podcast yg lucu juga, pembahasannya sangat relate dikehidupan sehari hari. terus mereka lucu tanpa berkata kasar, itu sih yg paling penting.
Inilah cenayangnya bulu tangkis: MORTEN FROST.
Sebagai eks pebulutangkis, sudah jelas bahwa komentar2 Morten amat berbau teknis. Ia bisa dengan cermat menjelaskan dan menganalisis berbagai situasi di lapangan, mengapa pemain A melakukan sesuatu, bagaimana kondisi X terjadi, dsb dsb.
Tak heran jika tiap kali ia memandu laga sebagai komentator, ucapan-ucapan Morten ibarat daging semua. Terlebih, selain pemahaman teknisnya yang jelas luar biasa, Morten juga punya kemampuan retorika dan variasi kata yang kaya.
Satu hal lain yang menarik dari Morten Frost: Kemampuannya memprediksi berbagai hal yang terjadi di dalam pertandingan secara akurat.
Mi camino acaba aquí. Gracias a todos, porque también habéis formado parte de ello. En esta nueva aventura llevaré conmigo los valores que me han acompañado hasta ahora e intentaré devolver a la sociedad todo lo que me ha dado en este tiempo. Ha sido un viaje maravilloso ♥️
Bulu tangkis Carolina Marin adalah tentang upaya meruntuhkan tembok besar bernama ketidakmungkinan.
1️⃣2️⃣ Baru mulai serius menekuni bulu tangkis di usia 12 tahun, tetapi berhasil menjadi atlet pro dan bersaing dengan nama2 top di kemudian hari
🇪🇸🇪🇸 Berasal dari Spanyol yang sama sekali bukan negara bulu tangkis, tetapi berhasil mencatatkan prestasi yang bahkan tidak sanggup diraih negara2 tradisional
💪💪 Sebelum ACL ketiganya di semifinal Olimpiade Paris, Marin sudah 2 kali mengalami cedera serupa tetapi bisa bangkit dan masih sanggup bersaing di jajaran elit.
Highlight pencapaiannya tidak main-main: 3 gelar juara dunia, lebih banyak dari Malaysia, dan 1 emas Olimpiade, yang tidak sanggup diraih Malaysia. Sudah lebih dari cukup untuk mensejajarkannya sebagai salah satu tunggal putri terbaik yang pernah ada.
Selamat pensiun Marin!
Hormat banyak banyak 🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡🫡
Saya kali pertama tahu kutipan ini dari bahasa Arab, tapi enggak pernah tahu siapa penulis aslinya dan memang sangat romantis.
ثُمّ أتمنى أن تجد شخصًا يتحدث بلُغتك، لئلّا تُمضي عمرًا كاملًا في ترجمة روحك
(Tsum 'atamanaa 'an tajida syakhshan yatahadatsu bilughotik, li allatum di a umran kamilan fi tarjamati ruhik.)
May you find someone who speaks your language, so you don't have to spend a lifetime translating your soul.
Gw punya temen yang kalau libur panjang atau weekend dia menghilang total.
Bukan pergi ke mana-mana.
Tapi literally tidak kemana-mana.
Di kos.
Sendiri.
Kasur + Netflix+ GoFood Dan jadi combo hibernasi buat dia.
Tidak ada interaksi sama siapa pun.
Tidak ada chat yang dibalas kecuali yang penting. Tidak ada nongkrong.
Tidak ada janjian.
Bahkan untuk makan dia tidak mau kelur GoFood saja supaya tidak perlu ketemu orang.
Gw tanya lu tidak kesepian?
Dia bilang tidak.
Ini justru yang gw tunggu-tunggu seharian kerja.
Dan gw mulai paham.
Dia bukan pendiam.
Di kantor dia normal.
Diajak ngobrol nyambung.
Diajak nongkrong mau.
Tidak ada yang curiga dia tipe yang suka menyendiri.
Tapi ternyata semua interaksi sosial itu buat dia ada harganya.
Setiap meeting.
Setiap small talk di pantry.
Setiap zoom call.
Setiap 'eh lu sudah makan belum' dari rekan kerja itu semua menguras energi dia secara diam-diam.
Dan weekend adalah waktu dia bayar semua utang energi itu kembali.
Kata dia kalau Senin gw belum rebahan cukup di weekend, gw masuk kantor pasti susah fokus.
Ini yang psikologi menyebutnya introvert bukan dalam artian pemalu atau antisosial.
Tapi orang yang recharge energinya bukan dari keramaian tapi justru dari kesendirian.
Dan yang menarik dia tidak merasa ada yang salah dengan dirinya.
Tidak merasa harus diperbaiki.
Tidak merasa harus dipaksa lebih sosial.
Dia tahu persis cara kerjanya sendiri dan dia desain hidupnya sesuai itu.
Gw rasa banyak orang yang sebenarnya sama kayak dia tapi selama ini merasa bersalah karena tidak mau keluar di weekend.
Merasa ada yang aneh karena lebih pilih kasur daripada cafe.
Tidak ada yang aneh.
Lu mungkin cuma belum sadar bahwa diam itu bukan kesepian.
Kadang itu justru cara paling efisien untuk jadi manusia yang berfungsi normal keesokan harinya.
Kalau ada satu laga badminton yang harus ditonton dalam hidup ini, maka salah satu pilihan yang paling layak adalah duel Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Xu Chen/Ma Jin di final Kejuaraan Dunia 2013.
Saat itu, Tontowi/Liliyana tertinggal 18-20 di gim ketiga. Suasana arena di Guangzhou sudah gegap gempita. Penonton tentu saja bersiap menyambut keberhasilan Xu/Ma juara dunia.
Dalam pikiran Tontowi saat itu, doa sang ayah di Tanah Suci Mekkah sepertinya tidak akan kembali terwujud.
Sedikit mundur ke belakang, saat Tontowi mulai merantau ke Tangerang, sang Ibu menitipkan pesan pada Tontowi. Pesan itu diucapkan sang ibu disertai harapan agar Tontowi benar-benar sungguh-sungguh setelah memutuskan karier sebagai pemain badminton.
"Wi, ingat, bapak itu dulu di Mekkah, tiap malam selalu mendoakan kamu jadi juara dunia."
Begitu pesan sang Ibu. Makanya ketika skor menunjukkan angka 18-20, sempat terbersit di pikiran Tontowi bahwa mungkin saja kali ini doa sang bapak belum waktunya terwujud.
"Tapi kalau bukan sekarang, kapan lagi?"
Tekad itulah yang membuat Tontowi dan juga Liliyana tidak menyerah begitu saja meski mereka di batas garis hidup-mati di laga ini.
Bermain dengan penuh tekanan, permainan berikutnya benar-benar mencekam. Liliyana Natsir sudah ditarik ke belakang. Bola selalu diarahkan ke belakang untu Liliyana.
Kondisi itu jelas tidak menguntungkan karena Liliyana seharusnya ada di area depan net untuk mengatur permainan.
Tontowi terlihat penuh waspada di depan net karena ia tak bisa begitu saja melakukan rotasi dengan Liliyana.
Ada momen ketika smes ke arah Tontowi baru bisa dibalikkan saat shuttlecock benar-benar sudah berada di posisi bawah.
Dalam posisi tertekan itu, Tontowi/Liliyana bisa menyerang balik saat pengembalian Ma Jin terlalu lemah sehingga bisa di-smash langsung oleh Tontowi. Skor berubah jadi 19-20.
Penonton masih bergemuruh. Permainan berikutnya, kembali menegangkan dengan pukulan-pukulan tipis di depan net. Ma Jin yang mengangkat shuttlecock terlalu tinggi langsung dipotong oleh Tontowi. Skor 20-20.
Dalam kondisi 20-20, situasi sudah berbeda. Tontowi/Liliyana makin percaya diri sedangkan Xu Chen/Ma Jin makin tertekan.
Rotasi Xu Chen dan Ma Jin tidak berjalan semestinya. Dorongan shuttlecock yang diarahkan Tontowi ke baseline tidak bisa dikembalikan oleh Ma Jin dengan baik. 21-20 untuk Tontowi/Liliyana.
Suara-suara penonton di arena tidak lagi sebising sebelumnya. Dalam permainan berikutnya, Tontowi/Liliyana hanya butuh empat pukulan untuk memastikan gelar juara dunia.
Niat Xu Chen melakukan drive tak berbuah manis. Bola terlalu datar dan memanjang. Tontowi dan Liliyana sama-sama hanya memandang shuttlecock yang melintas karena yakin shuttlecock jatuh di luar lapangan.
Begitu shuttlecock benar-benar dipastikan jatuh di luar lapangan, keduanya bergelimpangan di lapangan merayakan kemenangan.
Salah satu final kejuaraan dunia yang layak dikenang sepanjang masa.
Setelah pertandingan, Tontowi menelepon sang ayah. Di momen itu, sang ayah memberikan pujian pada Tontowi.
Menurut Tontowi, itu adalah kali pertama sang ayah memberikan pujian saat Tontowi jadi juara. Karena sebelumnya, respons sang ayah lebih sering ke arah candaan.
Tontowi sukses mewujudkan harapan orang tua untuk jadi juara dunia. Dan doa sang ayah yang diucapkan saat Tontowi kecil, hari itu, di Guangzhou, terjawab sudah.
NB: Kalau mau langsung nonton bagian menegangkannya langsung bisa mulai di: 1 jam 15 menit.
T.Ahmad/L.Natsir v Xu C./Ma J.|XD-F| Wang Lao Ji BWF World Champ. 2013 https://t.co/bSu7gfvENj via @YouTube
Mari Mengingat Marcus Gideon.
Dalam suatu pertandingan, Oma Gill (atau Steen, mohon dikoreksi kalau salah), pernah bilang: “Sukamuljo doesn’t need his racket to win rallies as long as he has Marcus Gideon."
Kalimat ringkas yang menurut kami super akurat untuk menggambarkan kontribusi Gideon yang sepanjang kariernya bersama Kevin kerap disepelekan.
Dengan sudut pandang paling umum, agaknya sebagian dari kita juga akan menyepelekan, sebab memang amat sulit menilai Gideon sebagai seorang backcourt player top dunia. Posturnya terbatas, powernya, yang lazimnya jadi kelebihan utama pemain belakang, tidak menonjol.
Perannya kian terkesan remeh karena Kevin Sanjaya yang jadi pasangannya begitu bersinar lewat refleks, kecepatan, kemampuan playmaking, gerakan-gerakan tak terduga, bahkan sikap nyeleneh.
Namun, jika melihat secara keseluruhan, Gideon sebetulnya punya kontribusi yang tak kalah spesial dari Kevin.
Jika Kevin menonjol lewat manuver ajaibnya, Gideon berperan sebagai--meminjam istilah sepakbola--"pengangkut air".
Melihat Gideon pontang-panting mengcover bola dari sudut satu ke sudut lain, bergerak cepat dari depan ke belakang, sudah jadi hal biasa.
Karena postur yang terbatas, beban sebagai pengangkut air itu makin besar. Bahwa Gideon masih mampu menjangkau hampir semua bola yang datang jadi bukti sahih kerja keras yang ia tunjukkan di semua laga.
Determinasi serupa juga kerap terlihat dalam situasi menyerang. Karena powernya tidak sedominan banyak pemain lain, ia mesti melepaskan smash beruntun dari beragam posisi, berulang-ulang, hanya untuk mematikan bola di lapangan lawan.
Kalaupun tak langsung berujung poin, smash2 itu masih sama pentingnya. Sebab tak jarang itu berhasil memancing lawan mengarahkan bola ke area depan dan tengah, seperti yg sering kita lihat, dan dari situ tinggal Kevin yang mengamalkan sihirnya.
Bulu tangkis adalah salah satu olahraga dengan risiko cedera tertinggi, begitu kata seorang dokter di twit viral beberapa tahun lalu. Dengan kondisi seperti itu, ditambah beban kerja seberat Gideon, potensi cedera bisa saja bertambah besar.
Kita sudah melihat buktinya di masa-masa akhir karier Gideon. Tak terhitung berapa banyak turnamen yang ia lewatkan karena cedera. Bukan sekali ia memutuskan mundur di tengah jalannya laga. Salah satunya di gelaran World Tour Finals 2018 saat Gideon mengalami cedera leher yang sedikit berefek pada matanya.
Dengan determinasi dahsyat yang bahkan membuatnya berulang kali menderita cedera, menyebut Gideon tak punya kontribusi adalah seburuk-buruknya opini. Seperti Kevin, Gideon juga sama pentingnya.
Jika Kevin ibarat fantasista, Gideon adalah sosok yang memungkinkan segala fantasi itu bisa terjadi. Silakan si pembuat fantasi bersenang-senang semaunya, Gideon hanya perlu melakukan cara apapun agar bola tak jatuh di lapangan sendiri.
Dengah cara itu Gideon berkontribusi. Dengan cara itu Gideon bisa mengimbangi bakat besar yang Kevin miliki.
Tentu tidak sembarang orang sanggup memerankannya. Untungnya, Gideon punya daya juang luar biasa, yang bahkan sudah terlihat sejak dulu saat dia berjibaku di luar pelatnas.