Taufik hidayat jangan dimasukin penjara, suruh coba nginep sehari d rmh ibu ini aja bisa gak sih 😡
Biar ngerasain gmn itu di aniaya tapi gak masuk kategori penyiksaan🤬
TLDR Kasus Keji Penyekapan Perempuan di Bandung, Jabar.
> korban, perempuan inisial YTT (29) jalin hubungan dengan (diduga pelaku) TAUFIK HIDAYAT (30) DAHLAH gak usah sensor sensor.
> korban lost contact dengan keluarga sejak tahun 2023, lost contactnya gak lost banget, keterangan adiknya: masih bisa dihubungi cuma susah banget banget. keluarga cuma diinfo seadanya, sempat dikabarkan korban kerja di Pasteur, Bandung.
> Rabu 10 Juni 2026, keluarga (ayah korban) dapat telfon anonim yang mengabarkan YTT sedang dirawat di RSHS Bandung akibat kecelakaan motor.
> keluarga shock ketika sampai di RS, ditemui YTR kondisinya sudah parah:
> mata kanan infeksi, mata kiri mengecil & buta total, BIBIR bagian atas HILANG.
> sekujur kaki dan tangan banyak luka bekas bac*kan, sundutan rokok, pukulan, dan sayatan benda tajam, bagian kepala infeksi berat akibat sering dihantam helm.
FAQ:
"kok keluarga gak berusaha cari?!"
keluarga sempat coba cari korban melalui
unggahan medsos tapi pelaku diduga menggunakan ponsel korban untuk 'maksa' korban menghubungi keluarganya dan meminta unggahan tersebut untuk 'di-takedown' dengan dalih dirinya "baik-baik saja".
"motifnya apa?"
harta korban senilai 52 juta rupiah dilaporkan dikuras habis oleh pelaku.
"posisi pelakunya dimana sekarang?!"
masih dalam pencarian Polda Bandung.
(sumber: IDN Times & berbagai media)
https://t.co/mQLN6CogC3
woi plokis, kejar yang bener 🫵
tandain muka PELAKU:
UI Menciptakan Pengkritik melahirkan politisi, BINUS Menciptakan pengusaha Melahirkan Pencipta.
Tidak semua kampus mencetak lulusan dengan cara berpikir yang sama.
Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi politisi dan memegang jabatan dalam pemerintahan.
Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi pengusaha sukses melahirkan sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk rakyat.
Perbedaan itulah yang terlihat antara kultur yang berkembang di Universitas Indonesia (UI) dan BINUS.
UI sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat aktivisme mahasiswa terbesar di Indonesia. Mahasiswanya terbiasa berdiskusi tentang politik, demokrasi, kebijakan publik, ketimpangan sosial, dan berbagai isu kenegaraan.
Dari rahim UI lahir banyak politisi, aktivis, birokrat, menteri, anggota DPR, hingga tokoh pergerakan nasional.
Dari rahim BINUS lahir banyak pengusaha teknologi, bisnis, inovasi, kewirausahaan, startup, dan ekonomi digital.
Mahasiswa BINUS lebih sering berbicara tentang produk, aplikasi, investasi, kecerdasan buatan, dan peluang pasar dibandingkan dinamika politik praktis.
Mahasiswa UI lebih sering berbicara tentang kekuasaan, bagaimana cara menggapainya, bagaimana cara meraihnya agar masa depan mereka cemerlang, salah satunya adalah dgn berpura2 bela rakyat.
Perbedaan kultur tersebut terlihat jelas ketika menghadapi sebuah masalah.
Ketika harga pangan naik, mahasiswa UI :
Menuntut harga BBM jangan naik.
Menuntut penggunaan APBN tidak boros.
Menuntut harga sembako turun.
Menuntut harga hasil panen petani naik.
Menuntut Program Makan Bergizi Gratis dihentikan.
Jika harga gabah naik, harga beras berpotensi naik.
Jika harga beras turun, petani berpotensi menerima pendapatan lebih rendah.
Jika subsidi BBM diperbesar, anggaran negara harus bertambah artinya pemborosan.
Jika program MBG dihentikan, salah satu pasar terbesar bagi hasil pertanian, peternakan, dan UMKM pangan justru hilang.
Ironisnya, kontradiksi seperti ini jarang dibahas di atas mobil komando.
Sementara mahasiswa BINUS :
Ketika melihat harga pangan mahal, mereka berpikir bagaimana memangkas rantai distribusi.
Ketika melihat produktivitas petani rendah, mereka berpikir bagaimana menerapkan teknologi pertanian.
Ketika melihat lapangan kerja kurang, mereka berpikir bagaimana menciptakan perusahaan baru.
Ketika ada persoalan ekonomi, mahasiswa UI memilih cara kekerasan dengan turun ke jalan membawa tuntutan.
Kelompok kedua justru membuka laptop dan mencoba membangun solusi.
Tentu tidak semua mahasiswa UI seperti itu dan tidak semua mahasiswa BINUS seperti ini. Namun secara umum, kultur yang berkembang memang mengarah ke sana.
Akibatnya, tidak mengherankan jika demonstrasi mahasiswa yang menuntut harga BBM tidak naik, harga sembako turun, harga hasil panen petani naik, dan Program Makan Bergizi Gratis dihapus lebih sering lahir dari lingkungan yang kultur politiknya kuat dibanding kultur kewirausahaan dan teknologi.
Masalahnya, ekonomi tidak berjalan berdasarkan slogan.
Tidak mungkin harga hasil panen petani naik sementara harga pangan terus turun tanpa ada peningkatan produktivitas.
Tidak mungkin subsidi terus diperbesar tanpa memikirkan sumber anggaran.
Tidak mungkin APBN hemat jika subsidi di perbesar.
Tidak mungkin kesejahteraan petani meningkat jika pasar yang menyerap hasil pertanian justru dikurangi.
Di sinilah terlihat perbedaan cara berpikir yang dibentuk oleh kultur kampus.
Kultur aktivisme menghasilkan amarah dan kemampuan mengkritik tanpa solusi.
Kultur inovasi menghasilkan kemampuan memecahkan masalah dengan solusi.
Kultur politik melahirkan demonstran dan politisi.
Kultur kewirausahaan melahirkan pencipta lapangan kerja.
Kultur perlawanan melahirkan tuntutan.
Kultur teknologi melahirkan solusi.
Indonesia membutuhkan keduanya. Namun yang perlu diingat, negara tidak bisa dibangun hanya dengan kritik dan tuntutan.
Jalan raya tidak dibangun oleh demonstrasi.
Pabrik tidak dibangun oleh spanduk.
Lapangan kerja tidak lahir dari pengeras suara.
Kemajuan bangsa lahir dari inovasi, investasi, produktivitas, dan keberanian menciptakan sesuatu yang baru.
Mungkin karena itulah kita jarang mendengar lulusan startup sukses berkata, "Mari turun ke jalan."
Mereka biasanya berkata, "Mari kita bangun solusinya."
Dan dalam jangka panjang, sejarah sering kali lebih mengingat para pencipta solusi dibanding para penyampai tuntutan.
Aku malah pernahnya beli susu nasional waktu harganya 3000. Aku tanya berapaan, bapaknya jawab 3000, kalo beli 3 jadi 10ribu. Terus aku ngeluarin duit 10ribu, yaudah pak beli 3.
Pas jalan ke parkiran kok agak janggal yaaa 🤣🤣🤣
Kemarin2 beliin susu murni nasional ini buat bocil tetangga..
Ambil lah bocil tuh 2 rasa.
Nah, pas mau bayar..si mamangnya langsung bilang:
“Udah gapapa 7rb aja”
Saya heran dong. Kok ada kata “aja”. Blm juga saya tanya harganya. Langsung saya tanya dong:
“Emng satunya berapa?”
“Satunya 4rb, tpi gapapa buat anak kecil 7rb aja”
“Jangan pak, saya bayar sesuai harga aja. Jadi 8rb yaa..”
Harusnya kan bilang aja 8rb. Apa karena si mamang sering ditawar2 gtu yaa sama bocil2 sini makanya nurunin harga, padahal gak di tawar.
In this economy, semoga diberi kelancaran rezeki buat para pejuang nafkah. Apalagi yg harus menerjang panas dan debu…