"Dok, saya capek terus."
Kalimat yang hampir setiap hari saya dengar di RS.
Biasanya saya tidak langsung meresepkan apa-apa.
Saya perhatikan dulu.
Matanya lelah. Cara duduknya seperti menahan beban di punggung.
Pegal, katanya. Sudah lama. Sudah berobat. Sudah mencoba macam-macam.
Tapi keluhannya berulang terus.
Indonesia itu terang.
Matahari datang pagi-pagi, bertahan sampai sore, dan kadang senja pun seperti enggan pergi.
Tapi di rs, saya sering menemukan hal yang sama:
Kadar vitamin D yang rendah.
Pada pasien yang tinggal di negeri paling yang mataharinya bisa sepanjang tahun sekalipun.
Melihat matahari dan disentuh matahari adalah dua hal yang berbeda.
Vitamin D terproduksi dari kulit yang disapa cahaya.
Lalu ia berjalan jauh, diolah di hati, diaktifkan di ginjal, sebelum akhirnya bekerja.
Membantu kalsium duduk rapi di tulang.
Menjaga otot agar tidak terlalu cepat mengeluh.
Menopang tubuh yang kita pakai setiap hari, tanpa pernah kita ucapkan terima kasih.
Ketika kadarnya kurang, tubuh mulai mengirim 'surat.'
Pegal yang datang tanpa sebab.
Lelah yang tidak sembuh oleh tidur.
Otot yang terasa berat padahal tidak mengangkat apa-apa.
Nyeri tulang yang tersirat, seperti bisikan yang tidak mau hilang.
Surat-surat itu sering kita abaikan.
Kita sering berangkat saat langit masih gelap.
Pulang saat matahari sudah pamit.
Duduk di Ruangan ber-AC. Jendela tertutup. Tirai tebal.
Kulit yang tidak pernah disentuh matahari, tidak pernah punya kesempatan membentuk vitamin D.
Matahari melimpah tetapi tidak sampai ke kita.
Anjuran asupan harian vitamin D cukup sederhana.
*600 IU per hari.*
Angka yang IDAI anjurkan sejak usia 1 tahun.
Kecil. Tapi baiknya setiap hari.
Dan di situlah banyak orang tidak berhasil.
Bukan karena tidak mau, tetapi karena konsistensi memang seni yang tidak banyak orang kuasai.
Saya sering menyarankan bentuk yang tidak membuat orang menyerah di minggu kedua.
Vitamin D yang dalam bentuk gummy, satu butir sehari, rasa yang bersahabat, tanpa drama menelan.
Opsi bentuk lain ada,
Tapi yang paling baik adalah yang benar-benar kita minum. Bukan yg dibeli lalu diletakkan begitu saja.
Tubuh kita jarang berteriak.
Ia hanya berbisik, lewat pegal yang pulang-pergi, lewat lelah yang tidak masuk akal.
Dan yang ia minta bukan obat yang rumit.
Hanya fondasi kecil yang kita jaga konsistensinya setiap hari.
Bismillaah
Suatu ketika sy kedatangan seorang pasien gadis umur sekitar 27 tahunan pekerjaan pegawai kantor korporat, tp bukan di SCBD lho, karena d Lombok. Nah keluhan dia adalah kencing berdarah dan anyang2an sejak 2 hari yang lalu. Pasien tdk demam. Nyeri saat kencing.
Untuk adik2 GP dan dokter muda --> Keterangan lain yang harus saya gali dari dia adalah kencing berdarahnya baru skrg atau sudah berkali2, dijawab baru kali ini. Ada keputihan tdk, dijwb tdk ada. Tdk ada pemakaian KB, ya karena masih gadis, tentu tdk perlu ditanyakan, kecuali sudah menikah. Bagaimana pola minumnya, karena pegawai kantor sehari2 duduk berjam2 di ruang AC kadang malas minum karena gak mau sering kencing. Sehingga sering satu paket dengan kebiasaan menahan kencing. Perlu tanya juga pakai pantyliner gak, sering diganti gak.
Nah pada kasus ini si kakak dah cemas. Akhirnya sy berikan obat antibiotik, saat itu ciprofloxacin 500 mg 2x1 selama 5 hr (karena pasien tdk ada sakit maag) dan anti nyeri pakai meloxicam 7.5 mg diminum kalau nyeri saja.
Sy tdk usg dan cek urine. Kenapa? Karena 99 % insha Allah ini kasus cystitis (infeksi kandung kemih). Meskipun ada kencing darah. Kenapa yakin ? Karena br 2 hari dan nyeri. Kecil kemungkinan batu apalagi tumor.
Ciri2 lain adalah anyang2an tersebut.
Bs gak itu batu dari ginjal yg tiba2 turun k kandung kemih, gak mungkin, karena pasti ada nyeri di salah satu pinggang sebelumnya saat batu turun.
Sehingga kelak ketika teman2 sejawat temukan kasus seperti ini di klinik, dan gak punya USG, gak masalah. Karena penegakan diagnosis ISK insha Allah lebih dr 90% bs ditegakkan dgn anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Wallahu a'lam bisawwab
Btw. Ini gambar citra kandung kemih yang hiperemis (memerah) karena ada pelebaran pembuluh darah yg mengakibatkan terjadinya kencing berdarah. Gambar sy ambil dr Internet dr researchgate.
Hati2 buat yg perutnya seperti pada gambar! Soalnya lebih berbahaya dibanding obesitas biasa.
Coba bercermin dan perhatikan badan kamu, terutama usia awal 30an atau mas2 akhir 20an nih biasanya perutnya udah maju duluan.
Kenapa bisa lebih berisiko/berbahaya? 🤔
Obgyn tuh memang antreannya bikin males 😂 makanya kupilih obgyn yg gak populer di medsos, mau jelasin detail, mau diajak janjian, dan di RS yg sepi wkwk
Bahkan dokternya yg ingetin kontrol via WA hahaha
Paling konsekuensinya sih biayanya lebih mahal dan ‘gambling’ di awal dokternya gmn karena gak bisa keprediksi dari medsos.
Ada yg bisa relate kaaah? 😂