Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Bapak Slamet Suradio (Mbah Slamet), masinis legendaris dari KA 225.
Sejarah takkan pernah melupakan Tragedi Bintaro 1987 yang kelam, di mana beliau merasa tidak pernah mendapatkan keadilan yang semestinya sebagai masinis selama hidupnya.
Kini, biarkanlah beliau beristirahat dengan tenang. Semoga beliau mendapatkan keadilan sejati di hadapan Tuhan Yang Maha Adil. Terima kasih atas segala dedikasi dan pengabdian panjang Bapak di dunia perkeretaapian Indonesia. Doa terbaik kami menyertai almarhum dan keluarga yang ditinggalkan, amin ๐๐ป ๐ฅ๐๏ธ
โ ๏ธInfo terkini updateโ ๏ธ
Pihak perusahaan PT Murni Nusantara Mandiri, datangi kediaman keluarga Kwipalo.
Keluarga Kwipalo tetap mempertahankan Tanah adat dan
hutan adat mereka yang saat ini dikuasai oleh pihak perusahaan PT Murni Nusantara Mandiri di distrik Jagebob 10.
UFO di Batua, Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan
27 Mei 2026
17:46 WITA
Direkam oleh Asmin
via Samsung Galaxy A16
"Objek ketika dilihat oleh mata telanjang berbentuk lonjong/kapsul,
dan berukuran sebesar toren/tandon air,"
Guys, lu pada tau gak?
Ketua BGN baru aja klarifikasi soal anggaran makan gratis,
tapi jujur ya,
denger penjelasannya
malah bikin gue makin pengen nanya:
Ini Mau Ngasih Makan Anak Sekolah
Atau Mau Buka Toko Elektronik?
Gue beneran gagal paham sama logikanya.
Dia bilang datanya meluruskan tapi buat gue ini mah malah makin bengkok.
Nih, kita pretelin satu-satu biar lu tau yang dia bilang:
1. Laptop 5.000 Unit:
Klarifikasi Dia:
Bukan 32.000 unit kok,
cuma 5.000 unit doang di tahun 2025.
Logika: Woy, Pak! 5.000 unit itu kalau satu laptop harganya 10 juta (standar kantor),
totalnya 50 miliar
Itu baru urusan administrasi doang.
Pertanyaannya:
Ini Badan Gizi atau Call Center?
Emang anak-anak di pelosok kalau laper mau disuapin motherboard?
2. Alat Masak 245 Miliar:
Klarifikasi Dia:
Pagu alat dapur cuma Rp 252 Miliar,
realisasinya Rp 245 Miliar buat 315 titik.
Logikanya:
Berarti satu dapur jatahnya sekitar 780 juta
Lu bayangin,
modal 780 juta cuma buat beli alat masak di satu lokasi?
Itu mah udah bisa buka resto
fine dining di Jakarta Pusat
Rakyat itu pengen liat dapurnya ngebul pake bahan makanan lokal,
bukan liat perabotan dapur seharga mobil mewah yang ujung-ujungnya mungkin cuma dipake buat masak mie instan kalau anggarannya bocor.
3. Bayar EO 113 Miliar
Klarifikasi Dia:
BGN ngaku butuh EO karena internal belum siap.
Logikanya :
Ini paling ngeri.
Lu bikin badan baru
dapet duit triliunan
tapi lu bilang Gue gak siap kerja,
makanya gue sewa orang lain?
Terus gaji lu buat apa?
Rp 113 Miliar cuma buat bayar EO itu pemborosan
Itu duit bisa buat gaji ribuan Ibu-ibu PKK di desa buat masakin anak-anak mereka sendiri.
Kenapa duitnya malah lari ke pengusaha EO di Jakarta?
Bau-bau bagi-bagi jatah proyeknya kenceng banget di sini
4. Drama Kaos Kaki
Klarifikasi Dia:
Itu pengadaan Universitas Pertahanan, bukan BGN.
Logikanya:
Saling lempar tanggung jawab??
klasik Mau Unhan, mau BGN,
itu semua pake DUIT APBN,
duit pajak gue dan lu semua
Publik nanya kenapa program makan gratis ada bau-bau belanja kaos kaki lewat kampus militer?
Jawabannya malah teknis "swakelola".
intinya mah sama aja:
Duit rakyat diputer-puter di antara mereka sendiri sampe kita pusing ngelacaknya
Jangan mau dibego-begoin pake istilah Paguatau Realisasi"
Intinya simpel:
Anggaran makan gratis ini rawan banget lumer di jalan buat beli barang-barang yang gak ada hubungannya sama perut anak sekolah.
Mereka lebih sibuk belanja laptop dan bayar EO daripada mastiin peternak ayam dan petani lokal dapet orderan.
Klarifikasi ini cuma strategi "pemadam kebakaran" biar rakyat bisa tenang sementara, padahal lubang boroknya makin kelihatan.
Gimana menurut lu, Guys?
Masih percaya sama klarifikasi gajelas kayak gini, atau lu ngerasa ada yang lagi pesta pora pake duit makan siang anak-anak?
anggota brimop Maluku (Kota Tual) Melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang Anak dibawah umur hingga tewas mengenaskan ๐ก
cc @DivHumas_Polri ini yang dinamakan penganyomi Rakyat
Berdiri Berjam-jam Hadang Bus Tahanan usai Sidang Ditunda
Hampir tiga jam lamanya, Anik Sriningsih berdiri kaku di depan bus tahanan Kejaksaan Negeri Pati, Senin (2/2/2026). Di bawah terik siang, di tengah bujukan aparat dan tatapan ratusan orang, istri Supriyono alias Botok itu memilih bertahan demi satu tuntutan: keadilan bagi sang suami.
Aksi tersebut terjadi di depan Pengadilan Negeri (PN) Pati usai majelis hakim kembali menunda persidangan perkara blokade Jalan Pantura yang menjerat Botok dan Teguh Istiyanto.
Sejak sekitar pukul 10.25 WIB, Anik berdiri tepat di depan kendaraan tahanan yang hendak membawa suaminya kembali ke penjara.
Waktu berjalan pelan. Menit berganti jam, namun langkah Anik tak bergeser hingga sekitar pukul 11.55 WIB.
Dengan suara parau dan mata berkaca-kaca, Anik meluapkan kekecewaannya di hadapan Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Pati, Tri Yulianto.
Ia menegaskan bahwa penundaan demi penundaan persidangan telah mengikis harapannya sebagai seorang istri.
Petugas kejaksaan dan kepolisian berulang kali membujuk Anik agar menjauh dari kendaraan. Keluarga dan simpatisan juga sempat menarik lengannya dengan pelan, namun Anik kembali berdiri diposisi semula.
Di sisi lain halaman pengadilan, istri Teguh Istiyanto, Siti Khodijah, bersama ibunda Teguh, Rusmiyati, hanya bisa menyaksikan dengan air mata. Kekecewaan mereka sama: persidangan kembali ditunda karena Jaksa Penuntut Umum (JPU) belum menghadirkan tiga orang saksi ahli.
Situasi semakin emosional ketika massa pendukung Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menyuarakan protes melalui orasi di halaman PN Pati.
Baca selengkapnya https://t.co/NLJKGz111c
Ada anak kecil di kampung saya, Ngada, Flores, meninggal bunuh diri. Anaknya dikenal cerdas dan ramah di sekolah. Dia meninggal karena putus asa. Sebelum pergi, dia cuma minta satu ke mamanya.
'Mama, saya minta buku dan pena'
Mamanya ga bs kasi dua hal itu lantaran kondisi ekonomi memburuk.
Mungkin buat penguasa dan media massa, anak ini cuma satu angka di dalam statistik. Bahkan bs jadi mudah dilupakan.
Tapi buat saya, anak ini jadi bukti nyata bahwa kita semua gagal bukan karena pengaruh asing. Kebanyakan kita semua gagal karena kita ga mau berbenah. Kita tetap memilih pemimpin yg itu2 aja. Kita tetap mempertahankan institusi yg diisi oleh orang2 itu aja.
Kita sibuk mencari kesalahan org lain, tp kita ga pernah mau sama-sama berjuang sebagai anak bangsa.
Pak Presiden, bapak selalu bilang kalo Bapak adalah presiden semua orang. Saya gak minta Bapak jadi NABI.
Saya minta bapak tidak membiarkan sistem yg uda bobrok ini semakin bobrok.
Belum pernah sesakit hati ini nulis postingan di media sosial.