“Maaf saya sempat salah sangka. Rupanya kalian. Di mana Evelyn sekarang?”
Terkikis atensi terhadap polaroid bertabur presensi diri, Ardenn justru lebih mengingat soal Evelyn dibandingkan sang tuan rumah. Bukankah ini tak sopan?
@numericonit
Layaknya berkisah melalui visual yang dihadirkan, di sana, ada ia, Zach, dan Evelyn.
Oh, Evelyn.
Ia mengingatnya sekarang.
Mereka adalah sekawan semenjak kecil sebelum Ardenn mengikuti kepindahan orang tuanya ke luar kota.
“Zach?”
Ia mengingatnya.
Ia mengingat mereka. —
Menghela napas, Ardenn menegakkan postur dan siap bertandang masuk jikalau nanti hadirnya masih diterima baik. Toh, alasannya pasti bisa dimaklumi. Ia baru saja selesai 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢.
@numericonit
Dengan sepucuk invitasi dan busana putih menyelimuti raga, Ardenn menekan bel selaku isyarat presensinya telah mendekat. Menanti datangnya si tuan rumah untuk menyambutnya.
Ia yakin, di dalam sudah ramai oleh tamu lainnya. Sang pranaja terlambat lima belas menit. —
you are the summer sun and i am a winter storm that hasn't known warmth in years. you've shine so bright, i begin to melt. you've brought spring to me.