Teruntuk ayah ayah di luar sana, yang harus kerja jauh buat anak dan istrinyaa. Semoga selalu diberikan kesehatan dan ketenangan di hatinya, kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kenalin aku lifehack alpukat "disiksa" tusuk gigi.
Benar dan terbukti secara sains ya, Kak. Buat kalian yang kebelet makan alpukat mentah, melukai kulit buahnya bikin dia "stres" dan langsung ngegas produksi gas etilen (hormon pematang). Jadi, cara ini emang valid bikin buah lekas mateng.
TAPI, ada efek sampingnya doong. Alpukat yang matengnya "dipaksa" lewat luka tusuk ini seringkali teksturnya jadi kurang creamy (agak kesat/ngapas) dan matengnya nggak rata. Plus, lubang tusukan itu jadi pintu masuk bakteri, makanya rawan busuk duluan dan warnanya jadi nggak cantik.
Kalau mau hasil best quality, mending pakai cara peram alami. Di foto Kak Fitri itu kan alpukatnya ditaruh di kantong plastik, nah itu langkah yang udah bener buat menjebak gas etilen alaminya biar nggak menguap.
Biar matengnya makin cepet tanpa perlu disiksa tusuk gigi, kalian cukup tambahin satu buah pisang matang ke dalam plastiknya. Kenapa tiba-tiba bawa pisang? Karena pisang matang itu ibarat "pabrik" gas etilen alami yang bakal ngebantu alpukat mateng lebih ngebut.
Dengan diperam tertutup bareng pisang, profil rasa legit dan tekstur buttery (mentega) dari alpukat bakal keluar 100% paripurna.
Melihat baliho raksasa "UNIQLO HIJAB" di jalanan itu rasanya menggelitik nalar kita. Yang dipampang nyata-nyata adalah kain turban yang dililit ketat membungkus kepala, tapi dilabeli secara sepihak dengan nama besar "Hijab".
Kenapa brand global bisa sampai "salah" mendefinisikan pakaian ibadah kita?
Pertama, kita harus sadar bahwa bagi industri fast fashion sekelas Uniqlo, hijab itu bukan urusan ketaatan syariat, melainkan pasar komoditas. Mereka melihat ceruk pasar muslim yang nilainya triliunan. Masalahnya, kacamata yang mereka pakai adalah standar Barat soal modest fashion (pakaian sopan).
Bagi kapitalisme, asalkan rambut tertutup, itu sudah bisa dijual dengan label "Hijab". Mereka mereduksi nilai ibadah dan syariat menjadi sekadar estetika fashion atau aksesoris penutup kepala (headpiece).
Secara kebahasaan, industri ini merampas istilah "Hijab" (yang aslinya berarti tabir/penghalang) dan menyamakannya dengan kain lilit. Padahal, kalau kita kembali ke literatur asli, kain penutup kepala perempuan dalam Islam itu namanya Khimar atau kerudung.
Model lilitan ketat di atas kepala seperti di iklan itu secara historis lebih tepat disebut 'imamah (turban), gaya berpakaian yang murni urusan budaya, bukan syariat.
Sebagai warga Muhammadiyah, cara kita memandang masalah ini sudah dipagari dengan sangat jelas oleh Majelis Tarjih. Dalam memahami teks agama (Bayani), Tuntunan Tarjih menetapkan bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Nah, gaya turban lilit di iklan tersebut jelas gagal total memenuhi kriteria ini. Kenapa?
Pertama, lilitan turban mengekspos area leher dan telinga secara rawan.
Kedua (ini yang paling krusial), Al-Qur'an dalam QS. An-Nur ayat 31 memberikan instruksi sangat spesifik, "…dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung (khumur) ke dadanya…". Turban ditarik ke atas, sehingga sama sekali tidak ada helaian kain yang diulurkan untuk melindungi dada sebagaimana perintah ayat tersebut.
Kita tentu tidak antikritik atau anti dengan brand luar yang mencoba merangkul umat Muslim. Tapi, sebagai konsumen Muslim yang teredukasi, kita tidak boleh membiarkan standar ibadah kita didikte oleh raksasa kapitalis.
Yang dijual Uniqlo di baliho itu adalah penutup kepala modis (turban), BUKAN hijab dalam esensi syariat Islam. Pakaian adalah identitas, dan identitas kita bersandar pada wahyu, bukan pada tren musim panas.
Gimana perpustakaan mo diliat keren, kalo lagi ada kegiatan gini lu semua pada bodo amat, ga peduli acara mo berjalan bener apa kagakkk.
Kan kita udh pada bagi-bagi kerjaan taikk lahh