“Kamu dari TVRI harusnya enggak boleh bertanya seperti itu,” kata Teddy. “Siapa yang nyuruh kamu?”
Bagaimana Seskab Teddy mengatur arus informasi Istana dan mengancam wartawan plus petinggi media. Artikel lanjutan dari serial 'Dead Press Society", baca: https://t.co/arK81yQJNS
Pidato Hari Buruh 2026.
Kiri (Singapore): PM Lawrence Wong bilang "Saat AI mendisrupsi seluruh industri, pemerintah mungkin tidak bisa melindungi setiap pekerjaan, tapi kami akan melindungi setiap pekerja. Singapore akan scale up company training committees (CTCs) di setiap sektor dan perusahaan"
Kanan (Wakanda): Banner acara May Day dibikin pake AI gede2 wkwkw. Nasib buruh kreatif gimana? wait bentar dulu... yang penting "MBG bermanfaat atau tidak?" dan "tarif aplikator ojol turun!"
Ada tiga orang yg saya kagumi yg kencang menyuarakan ini lewat riset2nya. Mas Burhan Muhtadi, Mas Yoes Kenawas dan Uda Media Askar.
Rasa2nya permasalahan dinasti ini bukan cuma ttg bagaimana masyarakat lebih memilih yg dikenal atau money politics, tapi sistem politik yg di-design sedemikian rupa seolah-olah rakyat punya hak pilih tapi bukan untuk hal-hal yg sifatnya struktural.
Kita lebih suka memilih 5 tahun sekali, berharap ada NABI yg ditunjuk Tuhan yg bisa menyelamatkan Indonesia.
Padahal kehidupan kita sehari-hari dibentuknya ya oleh dinasti-dinasti seperti ini, mulai dari daerah hingga pusat.
Ujung agar semua ini bisa dirombak cuma satu. PARPOL.
Pendidikan politik udah gak bisa lagi cuma fokus pemilu. Pendidikan politik sudah harus meminta warga paham bahwa sesungguhnya PARPOL bukan cuma alat memilih Presiden. PARPOL itu sarana bagi warga untuk menuntut perbaikan sistem.
Jadi kalo Parpol dinasti & ketum-nya itu-itu aja, warga harus sadar Parpol tersebut gak layak dipilih, sebagus apapun kandidatnya.
Parpol should be the bare minimum.
gue bukan type orang yang suka minta tolong karena gue ngerasa gue dilahirkan untuk menjadi perempuan gacor dan mantap yang bisa nge handle semua hal yang ada di dunia ini sendirian.
jadi kalau sampe gue minta tolong, GUE BENERAN BUTUH DI TOLONGGG
apalagi kalau udah ngeluarin kalimat “doain gue ya” itu berarti gue udah ada di titik terendah hidup gue
Pada pidato pembukaan acara Alumni AS, Prof. Stella (Wamendiktisaintek) mengatakan bahwa dirinya kagum dengan liberal arts education di Amerika Serikat.
Bahkan beliau sempat humblebrag tentang dirinya yang pernah menjadi tukang bersih-bersih toilet di Harvard dan temenan dengan Natalie Portman.
Ironisnya, beberapa minggu setelah acara ini, malah ada berita kayak gini.
"Pinjol kenapa ga dibubarkan? Korban banyak yg bund*r, bahkan terakhir ada nasabah yg diorder fiktif damkar & ambulance sama DC."
Kamu tau AFPI? Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia. Organisasi resmi yg ditunjuk dari OJK.
Susunan Pengurus AFPI siapa aja? Mostly hampir anggota pengurus AFPI dari pihak PINJOL tersebut.
Jadi no wonder ya, kalo ada bbrp laporan terkadang dibalas dengan template — dan ketika pihak "pinjol" ngeles kalau DC itu bukan dr pihak mereka. AFPI dan OJK langsung ngga ngelanjutin lg casenya 🤪
Berikut list Susunan Pengurus AFPI yg merupakan mereka employee dr Pinjol ⬇️⬇️⬇️
Surat yang ditulis siswa SMK ini jernih dan kalem, tapi justru menghantam tepat sasaran.
Ia menulis kepada Presiden Prabowo Subianto bukan untuk mengeluh, melainkan untuk mengoreksi arah. Ia melihat sesuatu yang justru luput dilihat Prabowo: di tengah program besar seperti Makan Bergizi Gratis, guru, yang menjadi fondasi pendidikan, masih belum sejahtera. Dan ia berani mengatakan itu, dengan jernih.
Yang membuat surat ini kuat bukan hanya kritiknya, tetapi sikapnya. Ia bahkan rela menolak haknya sendiri demi dialihkan untuk guru. Ini posisi moral. Ia menunjukkan bahwa kebijakan publik seharusnya tidak berhenti pada “terlihat baik”, tapi benar-benar tepat sasaran.
Di sini, pertanyaan penting muncul: mengapa seorang siswa harus sampai mengorbankan haknya untuk menutup kekurangan sistem? Bukankah negara seharusnya mampu memastikan keduanya berjalan gizi siswa terpenuhi, dan guru hidup layak?
Surat ini membuka celah dalam logika pembangunan kita: banyak program, tapi sering salah prioritas. Karena itu, suara seperti ini perlu dijaga, bukan dicurigai. Ini adalah bentuk kewargaan yang sehat, kritik yang lahir dari pengalaman, bukan kepentingan.
Kita patut mengapresiasi keberanian pelajar ini. Dan lebih dari itu, kita perlu menyatakan dukungan: semoga ia tidak mengalami intimidasi dalam bentuk apa pun karena menyuarakan kebenaran. Ia juga menyampaikan sikap moralnya secara baik-baik.
Sebab ketika suara jujur seperti ini ditekan, yang hilang bukan sekadar kritik tetapi masa depan anak-anak yang berani berpikir.