kalau kamu tumbuh di rumah yang setiap habis berantem cuma diakhiri dengan silent treatment lalu ga lama kamu harus langsung switch ke “nothing happened” mode, pura-pura semua baik-baik aja tanpa closure, tanpa maaf, tanpa ngobrolin, perasaan sama sekali, maka itu bukan cuma “kebiasaan keluarga”. itu adalah pelajaran paling awal yang kamu dapat soal perasaan, bahwa emosi itu mengganggu, berbahaya, dan lebih baik dipendam sendiri daripada diungkapin, dari kecil kamu diajarkan bahwa vulnerability = risiko, jadi otak kamu sekarang otomatis memilih emotional shutdown setiap kali mau open up, makanya susah banget buat bilang “aku sedih”, “aku marah”, atau bahkan “aku butuh kamu”, bukan karena kamu ga punya perasaan, tapi karena inner child kamu masih takut kalau mengungkapkan apa yang ada di hati, rumah akan hening lagi dan kamu harus sendirian dengan luka itu, ini warisan yang ga kamu pilih, tapi sekarang kamu bisa ubah.
Jujur bingung banget
Negara mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Rupiah menguat, pasar merespons positif, koruptor mulai ditangkap, reshuffle disiapkan. Tapi masih ada yang ngotot demo 12 Juni.
Jadi sebenarnya yang dicari solusi atau memang ingin bikin gaduh?
Nah ini contoh twit buzzer ya ges, biasanya harganya 1 twit begini 3000-5000 rupiah.
Kalau ditawarin begini, jangan mau ya. Masa bayarannya kalah sama pertamax 1 liter
@KapudS640 Kalo ada yg bilang " biar ada yg doain ketika lo udah meninggal"
Aku mau ketawain n bilang "bunda Aisyah r.a saja tidak punya keturunan. G galau beliau masalah didoakan. Istri nabi lo ituuu"
Mending banyakin sedekah jariyah.. kenapa cuma fokus ke satu saja buat bekal akhirat?
@KapudS640 "Menikahlah untuk tujuan hidup bersama, beribadah karena yang diatas, menjaga satu sama lain, dan menghabiskan sisa hidup berdua, maka inshallah tidak akan ada rasa kecewa tentang ketidakpunyaan akan sesuatu"
Kata siapa? Kata gue🫰🏼
Gua gak paham deh, tujuan menikah tuh sebenernya apaan sih? Tadi sempet ada obrolan kecil sama temen. Cowo. Intinya, istrinya udah beberapa kali keguguran dan pernah operasi karena janinnya berkembang di saluran tuba.
Btw mereka berdua kerja. Sampai si istri ini pernah bilang, "Udah, kalau emang lu mau punya anak, nikah lagi aja gapapa. Gue bisa cari duit sendiri." Terus gua bilang dong, "Lagian kalau gak punya anak juga gapapa sih."
Terus temen gua yang cowo jawab, "Ya kan mau punya keturunan, memperpanjang keturunan." Gua mikir, tapi emang tujuan menikah cuma buat itu? Terus dia lanjut, "Nanti kalau lu udah tua, nenek-nenek, siapa yang ngurusin?" Gua jawab, "Panti jompo wkwk.
Punya anak juga harusnya biar anaknya bahagia sama hidup dan keluarganya, bukan karena dari awal dipersiapin buat ngurus orang tuanya." Dia bilang lagi, "Bukannya ngerepotin, seenggaknya kalau lu udah meninggal ada yang doain."
Gua jawab lagi, "Ya kan didoain banyak cara, gak harus anak juga wkwk." Terus dia bilang, "Kan ada hadis, kalau manusia mati terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."
Nah di sini gua cuma kepikiran satu hal. "Gak semua orang dikasih rezeki anak. Terus kalau gak punya anak, emangnya hidup mereka jadi kurang? Pernikahan mereka jadi gagal? Menurut gua enggak. Anak itu anugerah. Tapi anak juga ujian buat orang tuanya".
"Dan tujuan menikah menurut gua gak melulu soal punya anak. Ada yang menikah untuk punya teman hidup, saling menemani, saling menjaga, tumbuh bersama, dan menjalani susah senang bareng sampai tua. Kalau dikasih anak, alhamdulillah.
Kalau belum atau bahkan gak punya anak, bukan berarti hidupnya gak lengkap. Makanya gua kadang heran kenapa tujuan menikah sering banget direduksi jadi cuma: punya anak. Padahal hidup dan pernikahan itu jauh lebih luas dari itu". Abis itu dia diem.
cc:threaditembukanputih
orang orang LGBT cuman peduli sama hal hal yg bisa mendukung perilaku mereka doang.
ga usah lah teriak teriak HAM, kaum LGBT aja ga peduli sama hak perempuan yg toiletnya dimasukin trans alias laki. Hak beragama orang diinjek injek, intoleran, tafsir semaunya.