Love after 25 itu beda.
Kamu sudah nggak lagi cari “spark” atau rasa yang meledak-ledak di awal.
Yang kamu cari sekarang lebih ke stability, kindness, dan shared goals.
Kamu sudah melewati fase yang penuh permainan, drama, dan butterfly yang cepat datang lalu hilang.
Sekarang yang kamu butuhkan lebih sederhana tapi lebih dalam:
peace, emotional safety, dan seseorang yang arah masa depannya sejalan dengan kamu.
Don’t be sad kalau harus kerja semalam, hari ini, atau bahkan besok. Having a career is also a privilege. Remember dulu waktu kamu pernah desperate banget berdoa cuma buat dapet kerjaan dan penghasilan tetap?
Dulu mungkin tiap hari bangun tidur langsung cek email, nunggu kabar interview, kirim CV ke banyak tempat, sampai overthinking takut ga kepanggil kerja. Ada banyak orang yang sekarang masih ada di fase itu masih berjuang buat dapet kesempatan yang mungkin sekarang udah kamu punya.
Makanya walaupun capek, lembur, atau kadang penat sama rutinitas, tetap coba disyukuri. Karena ga semua orang punya kesempatan buat berkembang, belajar banyak hal, ketemu pengalaman baru, atau punya penghasilan sendiri.
Having a career bukan cuma soal duit. Tapi juga tentang proses jadi lebih kuat, lebih mandiri, bisa bantu keluarga, beli kebutuhan sendiri, dan buktiin kalau diri sendiri mampu bertahan sejauh ini.
Capek itu normal. Ngeluh juga manusiawi. Tapi jangan sampai lupa kalau dulu kamu pernah minta banget ada di posisi yang sekarang.
So just be grateful, pelan-pelan nikmatin prosesnya, dan tetap semangat ya 🤍
🙏 DI USIA 65 TAHUN, BELIAU MASIH BERJUANG MENGAJAR…
Namanya Bapak Rudy Dermawan, pensiunan guru Bahasa Jepang lulusan UNISBA.
Di usia yang sudah tidak muda 65 tahun, beliau tetap memilih mengajar demi menyambung hidup.
📚 Beliau membuka kelas online Bahasa Jepang (level N5–N4) untuk siapa saja yang ingin belajar dari nol.
📖 Selain itu, beliau juga menjual E-book belajar Bahasa Jepang (PDF) seharga Rp50.000 saja.
💔 Bagi kita mungkin kecil…
Tapi bagi beliau, itu sangat berarti untuk kebutuhan sehari-hari.
Kalau kamu: ✅ Ingin belajar Bahasa Jepang
✅ Atau sekadar ingin membantu
Silakan hubungi nomor yang tertera 🙏
❤️ Mari kita saling bantu sesama anak bangsa.
Karena kebaikan kecil dari kita, bisa jadi harapan besar bagi orang lain.
(RT ke semua orang agar meluas)
#BantuSesama #BelajarBahasaJepang #KisahNyata #BerbagiItuIndah #IndonesiaSalingbantu
Indonesia may see its first interest-rate hike in two years as the rupiah’s slide to record lows this week intensifies pressure for the central bank to mount a stronger defense of the currency https://t.co/YwJRacSwv7
Man to women : jadilah centil seumur hidup, dandan yang cantik, berpakaian baik, wangi semerbak, dan kasih senyuman manjamu kepada dunia. Dunia boleh gonjang-ganjing asalkan kecentilanmu sepanjang masa
Indonesia's move to change banking rules unsettles private lenders
Financial authority wants more banks to support Prabowo's flagship programs
https://t.co/LnmD5sEaK7
Orang yang dasarnya emang baik, tapi temen deketnya dikit, biasanya punya vibe kayak gini...
1. Sering banget ngasih ke orang lain, tapi jarang ngerasa bener-bener dapet balik yang setara.
Mereka selalu ada, penuh empati dan support, tapi...
Jujur, aku kagum betul sama ini negara.
Ada rakyat mengkritisi program pemerintah dengan cara-cara baik dan memberikan saran baik, enggak didengar. Malah dicibir habis-habisan dalam setiap pidato presiden.
Giliran ada Ketua BEM salah satu Universitas di Indonesia mengkritisi dengan menyurati PBB dan menggalakkan istilah "Maling Berkedok Gizi" dalam panggung-panggung organisasi, eh malah mendapat teror sana sini sampai orang tuanya ketakutan.
Dan, yang bikin makin takjub, Istana malah merespon: makanya kalau kritik pakai etika.
Woi, itu rakyat lu kena terror karena kritis menyuarakan aspirasinya.
Malah ditanggepin begitu.
Jadi ya enggak heran kenapa orang kritis di negeri ini selalu diterror kepala babi, bangkai ayam, di lempar telur busuk, dan di lempar bom molotov, orang negaranya saja tidak bereaksi apa-apa terhadap pelaku terror pada mereka yang keras bersuara.
Katanya kritik sebagai vitamin, tapi nyatanya?