BENTUK TONE DEAF PEMERINTAH
-94 ORG YG MENINGGAL DI PENGUNGSIAN
-3 ORG ASN DITEMBAK KKN
-42 ORG MENINGGAL DI DALAM KM VIRGO TRANSPORT
-4 ORG MENINGGAL SAAT ANTRI BENSIN
-3000 ORG KERACUNAN DALAM WAKTU SATU BULAN
INI WOW* GAMAU SPEAK UP?????
EMPATI NYA DIMANA?
Bedain menjilat sama “ngolah”.
Pramono Anung sengaja nyebut:
“LRT mulai sekarang setelah diresmikan Bapak Presiden, selama 8 hari tarifnya 8 rupiah, Pak.”
“Kalau Bapak izinkan sebenarnya tinggal dibantu sedikit dengan Danantara.”
Tujuannya jelas, biar Danantara masuk buat lanjutin LRT sampai beres tanpa APBD.
Pramono tahu betul cara ngangkat egonya Prabowo sekaligus ngeredam egonya sendiri.
Trik yang sama yang bikin Trump mesam-mesem sama Mamdani.
This trick worked well against a megalomania 🧐
- Ga ngucapin maaf ke korban bencana
- Ga ngucapin maaf ke siswa keracunan mbg
- Ga ngucapin maaf ke pengungsi meninggal
- Ga ngucapin maaf ke negara tetangga
Tapi ngucapin maaf aku lupa bales chat ted
Surat yang dibacakan di depan muka beliau.
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.” (QS Al Ahzab: 72)
SATU SURAT.
SATU KATA: TIDAK.
Ia bukan pejabat yang sering muncul di panggung nasional.
Namanya mungkin tidak banyak dikenal orang Indonesia.
Ia hanya Wakil Bupati Kepulauan Sangihe.
Sebuah wilayah kepulauan di ujung utara Sulawesi.
Namun ketika rencana tambang emas PT Tambang Mas Sangihe menjadi polemik, ia memilih bersuara.
Bukan sekadar bicara.
28 April 2021, Helmud Hontong mengirim surat kepada Menteri ESDM.
Isinya meminta agar izin operasi pertambangan PT Tambang Mas Sangihe dipertimbangkan untuk dibatalkan.
ESDM membenarkan surat tersebut memang mereka terima.
Alasannya berkaitan dengan kekhawatiran terhadap lingkungan, wilayah pulau kecil, serta dampak pertambangan terhadap masyarakat Sangihe.
Lalu...
9 Juni 2021.
Helmud Hontong melakukan perjalanan dari Denpasar menuju Makassar.
Di dalam pesawat, ia tiba-tiba mengalami kondisi medis.
Ia dilaporkan mengalami batuk dan mengeluarkan darah dari hidung serta mulut.
Pilot kemudian melakukan pendaratan di Makassar.
Namun nyawanya tidak tertolong.
Helmud meninggal di pesawat.
Usianya 58 tahun.
Dan sejak saat itu, kematiannya menjadi sorotan.
Bukan semata karena ia meninggal secara mendadak.
Tetapi karena hanya sekitar enam minggu sebelumnya, ia mengirim surat penolakan terhadap proyek tambang yang sedang menjadi polemik.
Kebetulan?
Publik tentu bertanya.
Apalagi kematian tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi.
Tetapi di sinilah kita harus membedakan antara pertanyaan publik dan fakta hukum.
Polisi melakukan autopsi.
Hasil yang disampaikan saat itu:
Tidak ditemukan racun.
Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
Dan hasil forensik menyebut kematian berkaitan dengan komplikasi penyakit menahun.
Jadi, sampai pada hasil penyelidikan yang diumumkan tersebut, tidak ada bukti forensik yang menunjukkan Helmud Hontong dibunuh atau diracun.
Namun kisahnya tetap meninggalkan satu pertanyaan penting tentang keberanian seorang pejabat daerah.
Ketika kepentingan investasi berhadapan dengan kekhawatiran terhadap lingkungan dan masa depan wilayahnya...
Helmud memilih bersuara.
Ia tahu surat itu mungkin tidak mengubah semuanya.
Tetapi ia tetap mengirimkannya.
Karena kadang-kadang keberanian seorang pejabat bukan diukur dari berapa banyak proyek yang berhasil masuk.
Tetapi dari keberaniannya mengatakan:
TIDAK.
Tidak pada sesuatu yang menurutnya dapat membahayakan daerah yang ia wakili.
Hari ini Helmud Hontong sudah tiada.
Tambang, izin, dan segala polemiknya terus menjadi bagian dari sejarah Sangihe.
Tetapi satu hal tetap tercatat
28 April 2021, seorang Wakil Bupati mengirim surat kepada pemerintah pusat dan meminta izin tambang itu dipertimbangkan untuk dibatalkan.
Dan enam minggu kemudian, ia meninggal dunia.
Kita tidak perlu mengarang cerita tentang penyebab kematiannya.
Tidak perlu menuduh siapa pun tanpa bukti.
Cukup hormati fakta.
Cukup ingat keberaniannya.
Karena sejarah mungkin lupa banyak nama pejabat.
Tetapi sejarah tidak selalu lupa kepada orang yang berani mengatakan TIDAK ketika banyak orang memilih diam.
KETAWA GILANYA MIRIP KARYAWAN BIASA ABIS KENA PHK
Purbaya ditanya setelah ini mau ngapain pak ?
MAU MANCING DIBELAKANG RUMAH
SAMBIL NGELAMUN KENAPA DIPECAT
The Real Kagak bisa di setir nih koboy 👏
Sebuah perbedaan:
- Purbaya tidak menyelesaikan pidatonya dan langsung pamit. Sebelum dipecat setujui utang Whoosh 80 thn dan gesekan dgn Danantara
- Sri Mulyani menyelesaikan pidato dan berpesan hargai ruang pribadinya. Sebelum dipecat ngerem APBN dan rumahnya dijarah