menurut gw, ada faktor bahwa di Indonesia, sekadar jadi white collar, decent salary, kelas menengah, itu belum cukup untuk sejahtera.
harus jadi top 1% baru bisa sejahtera, bayar aparat, kemana2 dikawal, ada masalah tinggal bayar2
karena kita sadar, terlalu banyak uncotrollable factor dan sistem yang ada ga reliable untuk kasih fairness
jadi, semua terdorong hustling, cari cuan, ngolah sana sini
karena kita insecure, when shit happens, ga banyak yg bisa diandelin ini negara.
lu kerja tiba2 dipecat? pesangon belum tentu dapet, kalo ada dispute malah repot, unemployment benefit ga ada
safety net warga tuh ga banyak, kalo shit happens beneran bisa free fall
Dari duluuuu org org PHK tuh dikulik besaran pesangon bukan untuk mastin pesangonnya itu bener atau enggak sesuai normatifnya tapi nominalnya dipake buat bahasan begini. Tokped 2024 PHK jg bahasannya muncul begini
Lagian posisi gaji 50jt tuh ada berapa sih di sana? Kan ga semua. Yg staff2 jg ga mungkin dpt segitu. Masih harus kerja lagi.
Emg dpt duit 500jt di depan dengan kondisi pekerjaan tetap hilang ya ga happy juga. Ga financial freedom jg.
Kenapa Gol Penyelamat Kroasia di Menit Akhir Dianulir Wasit?
Gol penyama kedudukan Kroasia (90+13') dianulir karena Mario Pašalić terjebak offside tipis sebelum Josko Gvardiol mencetak gol. Drama dimulai saat umpan silang Ivan Perišić disundul oleh Igor Matanović, lalu bola mengenai punggung bek Portugal, Renato Veiga. Bola liar itu langsung disambar Pašalić dan berujung gol. Skuad Kroasia sempat protes keras karena mengira laga akan berlanjut ke babak perpanjangan waktu.
Namun, VAR menyatakan gol tersebut tidak sah karena bola yang mengenai Renato Veiga murni pantulan tidak sengaja (deflection). Berdasarkan aturan FIFA, hukum offside tetap dihitung sejak sundulan terakhir pemain Kroasia, yaitu Matanović. Karena Pašalić sudah berdiri lebih maju dari bek Portugal saat bola disundul, wasit membatalkan gol dan mengunci kemenangan 2-1 Portugal untuk lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Ini juga dijelasin di bukunya Malcolm Gladwell judulnya Outliers.
Bahwa sejatinya, KEBERUNTUNGAN / Privilege itu memegang peran super besar untuk menentukan masa depan seseorang.
- Kapan dia lahir, di era apa?
- Di mana dia lahir, negara mana, kota mana?
- Dari orangtua siapa dia lahir, background apa?
- Seberapa mampu keluarganya?
- Seberapa suportif / open minded keluarganya untuk anaknya terus berkembang?
Faktor2 di atas aja udah ngefek buangettt dibanding misal ada satu anak cowok sandwich generation di jaman penjajahan belanda dari kabupaten yang kemana2 ga ada transportasi umum harus jalan kaki dan ortu melaratnya berantem mulu ga mikirin pendidikan anak2nya.
Btw ini ya yang dimaksud Gladwell di bukunya Outliers soal lucky generation. Timing tuh pengaruhnya banyak banget.
Contoh gampangnya, CPNS 2024 itu formasinya banyak banget, bahkan banyak formasi kosong atau 1-1 alias ga belajar pun harusnya bisa lolos. Sementara taun ini belom tentu sebanyak itu dan saingannya pasti lebih banyak dr 2024.
Yang kebetulan fresh graduate pas formasi lagi banyak ya menang start duluan. Kadang bukan soal lebih pinter, tapi ya lucky krn kebagian kesempatan pas cpns bukaan gede.
Buku ini ngebongkar mitos “kerja keras = pasti sukses”. Gladwell ngangkat cerita Bill Gates buat contoh. Dia emang jenius, tapi dia juga kebetulan lahir di tahun yang pas. Bill Gates masih remaja pas komputer pribadi muncul, otomatis dia dapet exposure ke ngoding dan perkomputeran lebih awal di banding yg lain.
Ada juga case pemain hoki pro Kanada yang mayoritas lahir Januari-Maret doang. Liga junior ngelompokin anak per tahun kelahiran (1 Jan - 31 Des). Yang lahir Januari otomatis lebi matang dong dibanding yang lahir Desember walau sama-sama “seangkatan”. Karena keliatan paling jago, akhirnya dipilih masuk tim elite. Padahal gerbang awalnya cuma krn menang umur.
Makanya kalo ada yang masih bilang “yang penting usaha, rejeki gak kemana” ke generasi sekarang… boleh lah disuruh baca buku ini dulu biar ngerti big picturenya 🤣
kalo lo di final liga champions pernah unggul 3-0 di babak pertama, terus abis itu jadi kalah dan kegagalan lo itu selalu jadi cerita-cerita keajaiban di eropa
jadi dah orang sedingin ini, karena perasaannya di lapangan udah mati