Tanggal 9 Oktober 2024, di Universitas Indonesia, dua orang naik ke panggung yang sama. Satu membawa jutaan penonton di YouTube. Satu membawa tumpukan referensi dari Cairo.
Sebelum debat selesai, sudah terlihat siapa yang datang dengan ilmu dan siapa yang datang dengan keyakinan diri.
.
Muhammad Nuruddin bukan sekadar menang debat. Ia sedang memperagakan isi bukunya sendiri, Logical Fallacy, secara langsung di depan publik.
Guru Gembul tanpa sadar melakukan red herring, mengalihkan topik ke mana-mana ketika argumen utamanya mulai tak bisa dipertahankan. Ini bukan soal siapa yang lebih pintar. Ini soal siapa yang tahu cara berpikir.
.
Dalam Logical Fallacy, Nuruddin menjelaskan bahwa salah satu jebakan paling berbahaya adalah ketika seseorang berbicara dengan penuh percaya diri tentang sesuatu yang tidak ia kuasai. Guru Gembul datang ke forum itu tanpa satu pun referensi di tangannya.
Sementara lawannya sudah siap dengan teks-teks filsafat, ilmu kalam, dan logika formal. Percaya diri tanpa fondasi bukan keberanian, itu kesesatan berpikir yang punya nama.
.
Ada momen paling jujur dalam debat itu. Ketika Nuruddin bertanya, apa argumen ilmiah di balik klaim bahwa akidah tidak bisa diilmiahkan, Guru Gembul tidak bisa menjawab dengan argumen, ia mengalihkan dengan cerita.
Buku Logical Fallacy menyebut ini strawman sekaligus red herring, menyerang versi argumen yang tidak pernah diajukan, lalu kabur ke pembahasan lain.
.
Banyak orang kalah bukan karena kurang berani bicara, tapi karena tidak tahu cara berpikir yang benar. Buku Logical Fallacy karya Muhammad Nuruddin bukan buku filsafat yang berat
Ini panduan agar kamu tidak mudah dibodohi, dan tidak tanpa sadar membodohi orang lain.
Mahasiswa Universitas Trisakti dan Esa Unggul longmarch untuk menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR, Jumat (19/06/2026).
Kreatif: Rega Almuhtada
Produser: Akhdi Martin Pratama
#Demo#UniversitasTrisakti#DPR#cut
Foto para pemuda yang ikut memburu anggota PKI di wilayah Gunung Merapi, November 1965.
Kebencian Ansor kepada PKI bukan tanpa alasan. Hal ini bermula dari disahkannya UU Pokok Agraria tahun 1960.
UUPA tersebut memuat reforma agraria untuk kepemilikan lahan yang lebih merata.
Namun, pelaksanaan UUPA ini berjalan sangat lambat di lapangan.
Melihat kelambatan tersebut, PKI dan organisasi sayapnya Barisan Tani Indonesia (BTI) tidak sabar.
Pada tahun 1964, D.N. Aidit menyerukan strategi radikal. BTI diperintahkan untuk bergerak sendiri melaksanakan UUPA tanpa menunggu keputusan resmi dari pengadilan atau panitia landreform pemerintah.
Kaum tani diminta mengganyang setan-setan desa, yaitu tuan tanah jahat, lintah darat, tukang ijon, tengkulak, bandit desa, pejabat korup, dan kapitalis birokrat. Ini dikenal sebagai aksi sepihak PKI/BTI dalam menerapkan UUPA.
BTI mengerahkan ribuan anggotanya untuk turun langsung ke sawah dan ladang guna melakukan tindakan-tindakan penyitaan, pendudukan lahan, dan perlawanan kepada tuan tanah.
Hal ini menimbulkan gesekan dan konflik horizontal di akar rumput. Termasuk dengan kiai dan pesantren NU yang mengelola tanah-tanah wakaf. Juga dengan Angkatan Darat yang menguasai lahan-lahan perkebunan.
Kebencian ini ibarat api dalam sekam. Maka, ketika G30S meletus tidak sulit untuk memantik aksi massa untuk melawan PKI.