aku menolak konsep provider pas pacaran cause i have dignity & self-respect💗 i can make my own money & pay my own bills.
dibayarin sesekali gapapa tp gamau provide providean duh.
Temen gue, cewek, 27 tahun. Baru kenal cowok dari aplikasi, terus diajak makan malam.
Total bill-nya Rp486 ribu. Cowoknya langsung bayar tanpa nanya-nanya, nggak ngajak split bill, bahkan nggak nyebut nominalnya.
Temen gue pulang sambil mikir, “Ini dia emang sopan atau gue lagi dikasih sinyal?”
Dua hari kemudian, temen gue nolak buat ketemu lagi. Eh, cowoknya malah minta setengah uang makan dikembalikan. Alasannya karena waktunya jadi sia-sia.
Di situ gue baru ngeh. Kadang “gue traktir” itu bukan semata-mata karena seneng. Kadang bisa aja dianggap sebagai tanda jadi.
Yang bikin temen gue nggak tenang sebenarnya bukan soal duit. Dia sanggup balikin.
Yang bikin dia diem semalaman justru cara cowok itu ngetik pesannya.
Halus. Sopan. Tapi dingin. Kayak lagi nagih utang ke temen kantor yang kabur.
Padahal dua hari sebelumnya, orang yang sama bukain pintu restoran, geserin kursi, sambil senyum lebar.
Dari murah hati jadi nota. Cuma butuh waktu dua hari.
Cowok itu juga nggak ngamuk. Dia cuma bilang, “Kalau nggak ada lanjutannya, ya nggak fair kalau gue yang nanggung semua.”
Kalau dilihat sekilas, masuk akal. Bagi biaya memang wajar. Banyak orang juga berpikir begitu.
Tapi yang ditangkap temen gue cuma satu: “kalau nggak ada lanjutannya.”
Seolah-olah makan malam itu punya syarat tersembunyi.
Syarat yang nggak pernah dia setujui dan nggak pernah diomongin waktu bill datang ke meja.
Gue awalnya mikir, “Ah, paling cowoknya cuma kesel karena ditolak. Wajar.”
Sampai gue denger temen gue bilang,
“Gue nggak masalah bayar. Tapi gue ngerasa kemarin gue bukan makan bareng dia. Gue ngerasa kayak lagi diwawancara.”
Dia ketawa kecil setelah ngomong itu, terus ngunci layar HP.
Dia nggak nangis. Cuma diem lama banget.
Dan saat itu gue mulai ragu sama penilaian awal gue sendiri.
Temen gue ini tipe yang nggak suka ribet.
Dari dulu kalau ada cowok yang traktir, dia selalu nawar buat bagi. Sering kali cowoknya tetap bayar. Dia akhirnya diem karena nggak mau bikin suasana jadi kaku.
Ada yang bilang, “Ya syukur dong ditraktir.”
Tapi makin gue pikir, ternyata ada harga yang nggak kelihatan.
Selama ini dia dianggap “terima aja”, padahal yang dia lakukan sebenarnya cuma menghindari debat.
Bukan berarti dia murahan. Dia cuma nggak mau ribut.
Dan banyak juga kok cowok yang nggak kayak gini.
Yang bayar, selesai, lega, terus lanjut hidup tanpa menghitung-hitung lagi.
Jadi jangan bilang semua cowok begitu. Jangan juga bilang semua cewek ngarep ditraktir.
Masalahnya bukan gender.
Masalahnya ada di orang yang menganggap kebaikan sebagai semacam setoran.
Orang kayak gini bisa ada di dua sisi. Cewek yang traktir cowok lalu nagih balik ketika ditolak juga ada. Cowok yang begitu juga ada.
Tapi malam itu, yang kejadian ke temen gue spesifik.
Cowok itu, perempuan itu, dan Rp486 ribu.
Sore-sore dia chat gue,
“Gue balikin ya setengahnya. Biar clear.”
Gue tanya, “Lo yakin?”
Dia diem sebentar, terus bilang,
“Yang ganggu bukan duitnya. Yang ganggu gue ngerasa diperlakukan kayak investasi yang gagal. Kayak dia beli tiket buat nonton gue, terus filmnya nggak sesuai.”
Gue nggak langsung jawab.
Karena gue paham maksudnya.
Dan gue juga pernah hampir ada di posisi cowok itu. Pernah berharap sesuatu yang sebenarnya nggak pernah gue minta secara jelas.
Di satu sisi, cowok itu juga punya versinya sendiri.
Mungkin dia pernah kecewa. Mungkin dia capek kencan terus keluar duit. Mungkin dia memang mau lebih tegas soal batasan.
Itu bisa dipahami.
Masalahnya bukan karena dia minta gantian bayar.
Masalahnya, permintaan itu baru muncul setelah dia ditolak.
Bukan waktu duduk. Bukan waktu makan. Tapi setelah dia tahu nggak ada babak kedua.
Itu yang bikin beda antara bagi bill dan nagih.
Yang satu dibicarakan dari awal. Yang satu muncul belakangan karena kecewa.
Kalau keramahan cuma berlaku selama masih ada harapan, itu jadi terasa bukan sekadar keramahan.
Tapi taruhan.
Dan taruhan biasanya pengen balik modal.
Kalau menang, lo bisa pura-pura baik. Kalau kalah, lo minta refund.
Yang akhirnya jadi korban bukan cuma orang yang ditolak.
Tapi rasa percaya.
Karena orang jadi mulai mikir, “Siapa lagi yang baik sama gue tanpa diam-diam menghitung?”
Akhirnya temen gue tetap transfer setengahnya.
Nggak ribut. Nggak posting. Nggak nyindir.
Dia cuma bilang,
“Gue simpen pelajarannya.”
Coba cek diri sendiri.
Kalau lo pernah bayar, pernah nraktir, pernah repot-repot buat orang, apakah lo siap kalau semua itu ternyata nggak dibalas?
Karena kalau nggak siap, mungkin itu bukan benar-benar murah hati.
Itu seperti bayar di muka dengan syarat yang nggak pernah lo bilang dari awal.
MAKASIH BANYAK MBAK UDAH NGASIH TAU ADA OVEN MULTIFUNGSI 😭😭
jujur sih ini membantu banget karena multifungsi bisa dipake buat baking, air fyer dll jadi beneran lebih hemat yaa 🥹
Ada yang tertarik jadi animal keeper orangutan & kerja bareng aku?
Yuk yuk kirim surat lamaran & CV ke [email protected]
Penempatan di Berau, Kalimantan Timur
Adik-adik yang baru nikah, sini saya spill sedikit hasil 10 tahun pernikahan ya 😭
Seks mayoritas akhirnya cuma jadi rutinitas. Habis HB ya udah, mandi, bersih-bersih, terus lanjut lagi ke kehidupan masing-masing. Cuddling juga jarang.
Kalian berdua pasti punya banyak salah, jadi mau nggak mau harus belajar banyak memaafkan.
Kamu nggak bisa terus jadi versi dirimu yang sekarang. Harus sama-sama upgrade dan ketemu di tengah, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.
Mau nggak mau, pihak yang lebih dominan biasanya bakal lebih banyak menentukan tradisi keluarga kalian nantinya. Nggak bisa satu kapal tapi arahnya beda.
Soal ekonomi pasti jadi ujian seumur hidup, bahkan kalau kalian sudah kaya raya.
Tanah kosong bapak gue di Bandung, 3 bulan nggak ditengok. Pas ditengok, udah berubah jadi parkiran motor berbayar Rp10 ribu 😭
Gue tanya, “Izin siapa?”
Jawabnya, “Udah lama di sini, Pak.”
Gue tunjukin sertifikat. Eh, malah dibilang, “Kalau mau dipakai, bayar uang keamanan aja Rp200 ribu sebulan.”
Lah, tanah sendiri kok malah disuruh bayar ke orang yang nyerobot 😭 Logika parkir liar emang kebalik.
Gue mau lapor, tapi bingung juga. Mau lapor ke siapa? Bukti apa? Kan awalnya cuma omongan. Takutnya malah ditanya polisi, “Ada rekamannya? Ada bukti dia pungut?” Kalau nggak ada bukti, kita yang malah dianggap fitnah.
Akhirnya gue coba cara halus dulu. Gue pasang plang kecil tulisan tangan:
“TANAH PRIBADI – DILARANG PARKIR”
Besoknya plangnya hilang. Dibuang ke selokan 💀
Ternyata bukan cuma tanah gue. Dua tetangga sebelah juga tanahnya jadi parkiran liar pas mudik Lebaran.
Modusnya sama: tanah kosong dibiarin → awalnya cuma 1 motor → lama-lama jadi 20 motor → terus mulai dipatok tarif.
Kalau dibiarin terus, orang bisa mulai merasa itu tanah yang mereka kelola. Ini yang katanya dalam hukum agraria bisa jadi celah penguasaan liar.
Gue konsultasi ke temen yang ngerti agraria. Katanya, tanah kosong yang nggak dijaga secara fisik harus tetap dikasih tanda dan bukti kepemilikannya juga harus disiapin.
Jaga fisik: kasih tanda yang jelas kalau itu tanah lo.
Jaga bukti: dokumentasikan siapa yang masuk tanpa izin.
Akhirnya gue pasang plang yang proper, bukan kertas. Tulisannya:
“TANAH PRIBADI – DILARANG PARKIR – AREA CCTV 24 JAM”
Plangnya gue baut ke tembok biar nggak gampang dicabut kayak plang kertas.
Sejak plang itu dipasang, parkiran liar berkurang drastis karena kelihatan kalau tanahnya memang dijaga dan bukan tanah terlantar.
Tapi masih ada 1–2 orang yang bandel parkir malam-malam. Akhirnya gue pasang CCTV yang mengarah ke tanah. Jadi setiap ada motor masuk, kejadian bisa terekam lengkap dengan tanggal dan jam. Lampu sensor juga nyala kalau ada gerakan.
Dari situ gue punya bukti kalau mereka masih masuk dan bahkan narik uang parkir.
Baru setelah punya bukti lengkap, gue berani lapor. Gue bawa ke RT, terus ke Polsek.
Gue tunjukin sertifikat tanah, bukti plang udah dipasang, sama rekaman kalau mereka masih masuk dan narik uang parkir.
Nggak perlu ribut, nggak perlu otot-ototan. Polisi langsung tindak karena buktinya jelas. Tiga hari kemudian tanahnya udah kosong lagi.
Buat kalian yang punya tanah kosong atau ruko yang lagi tutup dan sering dijadiin parkiran liar, jangan cuma ngamuk di Threads 😭
Kalau bisa, mulai dari:
Pasang tanda fisik yang jelas dan permanen.
Siapin bukti rekaman, jangan cuma mengandalkan cerita.
Kalau dua hal itu udah ada, baru lebih enak kalau mau laporan karena punya bukti yang jelas.
RULES NO 1:
JANGAN BIARIN CEWEK LU SAMPE NGODE, APALAGI BILANG BERKALI KALI AND STILL DON'T GET IT. SEDIH TAU WHEN YA DALAM KEADAAN PUNYA PASANGAN TUH.. 😔
Sejak ada Whoosh, gue jadi males bawa mobil kalau ke Jakarta 😭
Sebulan bisa 1–3x PP Jakarta, jadi gue mau kasih tahu beberapa tips kalau kalian mau naik Whoosh.
Lebih nyaman langsung berangkat dari stasiun KCIC, yaitu Padalarang atau Tegalluar. Tapi kalau kalian dari area pusat Kota Bandung, bisa berangkat dari Stasiun Bandung terus naik kereta feeder. Feeder ini udah free dan termasuk dalam tiket Whoosh.
Kalau pakai feeder, spare waktu sekitar 1 jam sebelum jadwal keberangkatan. Kalau langsung ke stasiun KCIC, 20 menit sebelum jadwal masih aman. Bahkan gue sering banget mepet 😂
Kalau mau deket eskalator, pilih Coach 6/7 kalau dari Tegalluar ke Halim, dan Coach 2/3 kalau dari Halim ke Tegalluar. Keluar coach langsung ketemu eskalator, jadi gercep.
Kalau dari Bandung, pilih seat nomor genap. Kalau dari Jakarta, pilih seat nomor ganjil biar dapat full view.
Kalau masih ada tips lainnya, tambahin di kolom komentar yaa!
Gw urutin ye, pas banget udah coba semuanya, nomer 1 artinya gw repuechase berkali2
1 - gentle gen (bjir ini wangi sekalii, nempel dibaju lama, kek rinso antinoda. Murah tapi sayang bgt yang sering promo versi botolnya, bikin sampah botol makin banyak)
2 - so klin (murah tapi juga yg promo lebih murah yang versi botol, jadi sayang gak bisa refill terus malah banyak sampah botol)
3 - rinso quick wash yang difoto aja (versi mahalnya so soft. Kalo rinso cair yg anti noda, semua wangi ya tapi jarang promo aja jadi males beli)
4 - so soft (murah doang, gak wangi, cukup gw beli sekali)
Gw pake mesin cuci top loading. Jadi semakin wangi sabunnya, pelembut pakaiannya gak perlu over pakai. Balance aja gitu jadinya takarannya
faktanya :
“kalau dia lebih fokus ke cara kamu ber-reaksi daripada nyadar apa yang udah dia lakuin sampai kamu ber-reaksi seperti itu, itu tandanya manipulasi”
Waktu main ke Rumah Atsiri, gue numpang salat terus pakai mukena travel (kayaknya) dengan logo merek itu. Tapi gue gak nemu brand apa 😭
Warga ada yang tahu gak itu brand apa?