Begitu kelas dibubarkan, Daisy lantas mengayunkan kedua tungkainya keluar dari ruang pembelajaran. Diliriknya sekilas penanda waktu yang melingkar di tangan kirinya sebelum mempercepat langkahnya kembali ke asrama.
Christian kembali ke mejanya, mengetuk pelan toples kaca tempat hama itu merayap lambat. “Satu pesan dari saya, jika kalian melihat siput ini di kebun, jangan pernah memungutnya dengan tangan kosong. Unless, of course, you dislike having all ten fingers.”
“Sebagai siswa yang mengambil kelas Herbology, mata kalian harus jeli. Daun yang melepuh dengan tepian hangus, serta jejak lendir yang berdesis membakar tanah adalah alarm alam. Jangan menunda penanganan, atau kalian hanya akan menemukan sisa batang mati di keesokan paginya.”
Sepatunya mengetuk lantai berirama santai saat Christian mulai mengitari meja depan. “Kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa makhluk ini justru dibahas di kelas Herbology,” ujarnya tersenyum. “Sederhana. Mereka adalah ancaman paling senyap, tetapi amat fatal bagi kebun kita.”
“Pemandangan kala itu cukup ironis. Para penyihir bersusah payah merapalkan Knockback Jinx guna merobohkan monster sebesar Troll, hanya demi membebaskan dan mengembalikan makhluk mungil berlendir ini ke ladang sayur Hogwarts.”
“Kalian tahu The Calamity di akhir 2010-an?” Christian bersedekap, mengedarkan pandangan jenaka ke penjuru kelas. “Siput ini sempat bermunculan sebagai Foundables. Lucunya, mereka justru dijaga ketat oleh rombongan Troll Confoundables. Benar-benar pengawal yang aneh.”
“Lalu bagaimana cara mengusirnya?” Ia mengangkat alisnya, sengaja menampilkan raut penuh tanya. “Satu-satunya cara adalah memakai Flesh-Eating Slug Repellent yang sayangnya hanya dijual bebas di Knockturn Alley. Bukan tempat yang ramah untuk tamasya malam-malam.”
“Di tahun 1992, Hagrid nyaris putus asa karena seluruh ladang kubis Hogwarts hancur lebur tak bersisa.” Christian tersenyum miring. “And it didn’t stop there... Pada Halloween 2010, kawanan rakus ini kembali menginvasi dan merusak ladang labu tepat sebelum perayaan.”
“Flesh-Eating Slug bahkan meninggalkan trauma,” gumam Christian. “Pasalnya, pernah ada penyihir seumuran kalian yang saking takutnya, Boggart miliknya berubah menjadi hama ini. It shows how a tiny creature can leave such a massive, terrifying impact on someone.”
“A wise choice, Mr. Shinzaki.” Senyum Christian mengembang bangga. “Faktanya, hama ini berafiliasi erat dengan Dark Arts. Bill Weasley bahkan khusus mengajarkannya di sesi tutor Defence Against the Dark Arts tahun 1989.” https://t.co/ZoO6Ieq1QC
“Nah, sebelum saya lanjutkan...” Christian melipat tangan, menatap teduh siswa-siswinya. “Jika kalian melihat hama ini di kebun asrama, tanpa alat pelindung, apa insting pertama kalian? Lari, lapor, atau mencoba menyingkirkannya?”
“Jangan tertipu dengan ukurannya. Mereka merupakan omnivora yang rakus akan daging,” kekehnya pelan. “Sekresi ludah mereka sangat korosif. Setetes saja jatuh, daun segar akan hangus berdesis, dan kulit kalian melepuh parah. So, keep your hands safe.”
“Secara fisik, mereka nyaris tak bisa dibedakan dari siput biasa.” Christian mengetuk pelan dinding toples kaca di mejanya. “Kulit hijau pucat, mata hitam pekat. Makhluk ini berasal dari Britania Raya dan masih berstatus extant atau masih eksis sampai sekarang.”
CW / Slugs
Ia bersandar santai di tepi meja kerjanya. “Malam ini kita membahas sesuatu yang ... well, bentuknya sama sekali tidak mengintimidasi, tapi percayalah, kalian takkan ingin memeliharanya. Mari berkenalan dengan Flesh-Eating Slug.”