17 Januari 1961, 65 tahun lalu, Patrice Lumumba dibunuh dengan brutal. Lumumba adalah tokoh Pan-Afrikanisme yang berhasil memerdekakan Kongo. Setelah kematiannya, namanya diabadikan jadi toponimi.
Infografik oleh @MRPradana1973#Lumumba#Kongo#Insulinde#InsulindeSejarah
17 Januari 1961, 65 tahun lalu, Patrice Lumumba dibunuh dengan brutal. Lumumba adalah tokoh Pan-Afrikanisme yang berhasil memerdekakan Kongo. Setelah kematiannya, namanya diabadikan jadi toponimi.
Infografik oleh @MRPradana1973#Lumumba#Kongo#Insulinde#InsulindeSejarah
Cikal bakal kalender yang kita kenal sekarang, dapat dirunut hingga masa Romawi Kuno. Kala itu, satu tahun berisi sepuluh, bukan duabelas bulan seperti saat ini. Ada masalah dengan kalender sepuluh bulan. Bagaimana sistem itu kemudian bisa berubah menjadi kalender duabelas bulan?
Cikal bakal kalender yang kita kenal sekarang, dapat dirunut hingga masa Romawi Kuno. Kala itu, satu tahun berisi sepuluh, bukan duabelas bulan seperti saat ini. Ada masalah dengan kalender sepuluh bulan. Bagaimana sistem itu kemudian bisa berubah menjadi kalender duabelas bulan?
Polemik penyematan Soeharto sebagai 'Pahlawan Nasional' sudah lama digaungkan sejak tahun 2010 dan 2015. Kala itu, wacana ditolak lantaran dinilai terlalu cepat dengan waktu kematian Soeharto.
Polemik penyematan Soeharto sebagai 'Pahlawan Nasional' sudah lama digaungkan sejak tahun 2010 dan 2015. Kala itu, wacana ditolak lantaran dinilai terlalu cepat dengan waktu kematian Soeharto.
Besok lusa kalo kamu luang, kami sedang bikin acara diskusi di Omah Tua Library. Berawal dari keresahan kami menyoal gelar pahlawan thd dua nama penjagal. Barangkali tertarik daftar, segera isi form krn kami cuma menyanggupi 10-15 audiens 🥺🥲 Sampai jumpa di Omtu! 🥳
Polemik penyematan Soeharto sebagai 'Pahlawan Nasional' sudah lama digaungkan sejak tahun 2010 dan 2015. Kala itu, wacana ditolak lantaran dinilai terlalu cepat dengan waktu kematian Soeharto.
Si Jagal Kemusuk nampaknya bangga terhadap kroni yang ia besarkan. Tak hanya meninggalkan luka mendalam bagi korban, penyematan pahlawan membalikkan logika. Kalau Soeharto pahlawan, maka yang melengserkannya pada 1998 adalah penjahat? Sungguh logika terbalik!
Bukan tanpa sebab, pak Hwie-lah yang memiliki koleksi kliping koran-koran lama, salah satu sumber sejarah yang dibutuhkan mahasiswa. Belum lagi, ia punya andil dalam menyelamatkan naskah asli milik Pramoedya Ananta Toer.
Selamat jalan, pak Hwie. Sungguh sangat besar jasamu.
Kita kehilangan sosok penting dalam perjalanan literasi dan pelestarian sejarah di Surabaya, bahkan Indonesia. Oei Hiem Hwie (1935-2025), pendiri perpustakaan partikelir Medayu Agung. Salah satu perpustakaan populer di antara mahasiswa Sejarah & pegiat literasi di Kota Pahlawan.
Waktu berjalan terus, kini September menyambut. Sudah banyak kekerasan yang terjadi pada rakyat. Negara seolah tutup mata dan telinga. Kita hidup di negara sonder keadilan. [1]
Pelanggaran HAM terus terjadi. Seolah tak pernah belajar dari sejarah, sebagai negara yang cukup lama berdiri, negara tak pernah hadir dalam rekonsiliasi dengan rakyat. Sejarah tak cuma pengingat masa lalu yang kelam, kita dipaksa untuk belajar itu agar tak mengulanginya. [2]