Kuliah biaya sendiri
Kerja nyari sendiri
Ambil spesialis-sub biaya lagi sendiri
Kembangin skill ama reputasi puluhan tahun malah kena recok π
Padahal kalo RS swastanya mau bayar gaji+jasmednya gede, pasien banyak ngejar2 dan mau bayar mahal ya udah
Urus aja dulu obat TB π
Dia punya posisi utk memperbaiki gaji/ jasa medis yang ada di kuartil bawah, eh malah sibuk curhat di publik dan nge-highlight yang di kuartil atas dari hasil skema pasar bebas. Di saat yg bersamaan, ybs juga yang buka dokter asing praktik di sini dengan jasmed fantastis. π
Fatimah: "Bisa mencontoh Pak Habibie"
BJ Habibie: "Orang antri, makanan susah, phk banyak, itukan lebih penting dari pesawat terbang. Saya dahulukan ini dulu jadi saya ngalah untuk menang.
Jadi yang menang siapa? Rakyat"
Ada pun itu berapa gelintir pak men wkwkwk
Haduh haduh.. Liat deh itu dokter2 di klinik BPJS dibayar 3 rb per pasien, di IGD kasus gawat 10 rb per pasien.
Kan itu ya tugas anda sebagai pemerintah advocating keadilan sosial kan, dokter juga bagian dari warga negara kan ?
Selama ada dokter yang sistem dan nominal bayarnya gajauh beda dari kang parkir, ya jelas lah ada yang ngeluh.
gue 17 tahun jadi actor juga gabakal bisa kayaknya acting dengan muka setenang ini kalo denger ocehan lawan bicaranya gitu, pasti muka gue MERENGUTTTTT
Pak Darmadi menanyakan Kulifikasi yg dibutuhkan Manajer KDMP.
Darmadi : "Ini manajer yg dicari ini manajer umum atau ada spesialisasinya"
KemenKop : "umum"
Darmadi : " berarti harus menguasai, FINANCE, ACCOUNTING, MARKETING dan STM(Sains Teknologi dan Masyatakat)."
"Kalo cari qualified menguasai semua, saya nggak yakin 3bln, you kasih 1bln pelatihan pun nggak mempean dan nggak efektif pak"
Ya gimana pak...diajarinya Kicau Maniaπ
"saya baru saja meresmikan 1.151 km jalan memakan anggaran 5,4 triliun"
"bayangkan kalau 20 triliun. berapa ribu jalan yg bisa kita bangun, berapa puluh ribu sekolah yg bisa kita perbaiki"
nah itu tau
55.000 buruh terancam PHK.
Solusi DPR RI tahun 2026:
Telepon Dirut Pertamina : live, pakai speaker, di depan kerumunan.
Jawaban Dirut Pertamina:
"Kita tentunya lakukan yang terbaik, Pak Dasco."
Tidak ada angka.
Tidak ada tenggat.
Tidak ada komitmen tertulis.
Yang ada: tepuk tangan.
Padahal DPR punya hak pengawasan atas BUMN. Bisa panggil, bisa paksa hadir, bisa bentuk Panja.
Tapi yang dipilih: telepon di acara hotel, diperdengarkan lewat pengeras suara.
Selama 45 tahun rakyat nonton wayang, sekarang nonton sinetron.
Nasib 55.000 kepala keluarga , diselesaikan pakai gaya konten kreator.
Nahkan bener ada yg unik, tapi hari ini bukan tentang kasus pemeriksaan. Mumpung masih anget, coba kuceritain disini ya.. Jadi begini ceritanya:
π΄π»: "Mas, mau daftar rontgen."
π¨π»βπ»: "Iya Pak, sudah ada surat pengantar? Saya sekalian pinjam KTP buat daftar ya."
(Pasien nyodorin surat + KTP, terus ngeluarin kartu BPJS)
π΄π»: "Ini Mas, sama ini kartu BPJS-nya."
π¨π»βπ»: "Oh, kartu BPJS-nya ndak usah Pak, saya daftarnya pakai KTP saja."
π΄π»: "Iya Mas, tapi ini nanti saya rontgennya mau pakai BPJS."
π¨π»βπ»: "Maaf Pak, untuk rontgen dengan pengantar dari klinik luar tidak bisa memakai BPJS," (berusaha tetap lembut).
π΄π»: "Loh kenapa nggak bisa? Kan saya punya BPJS, masa nggak boleh dipakai periksa?" (nada mulai tinggi).
π¨π»βπ»: "Boleh saja Pak pakai BPJS, tapi harus sesuai alurnya. Tidak bisa digunakan kalau Bapak langsung bawa pengantar dari klinik luar."
π΄π»: "Loh nggak bisa gimana?! Kemarin saya lihat di TikTok katanya periksa foto rontgen gigi bisa pakai BPJS!"
π¨π»βπ»: "Iya Pak, benar bisa. Tapi alurnya harus sesuai. Bapak periksa dulu ke PPK 1 atau dokter gigi keluarga. Nah, kalau dokter merasa Bapak perlu dirujuk, nanti Bapak dirujuk ke RS sini untuk periksa di poli gigi. Nanti dokter poli gigi RS ini yang kasih pengantar buat rontgen gigi kalau memang dibutuhkan."
π΄π»: "Alah ribet banget. Orang sakit mau periksa aja harus bolak-balik!"
π¨π»βπ»: (Dalam hati: Iya Pak, emang ribet sebenernya... π) "Iya Pak, memang aturan dari BPJS-nya seperti itu."
π΄π»: "Yaudah ini kalau bayar berapa?"
π¨π»βπ»: (Menyebutkan nominal tarif panoramik)
π΄π»: "Yaudah saya bayar aja, ribet banget mau pakai BPJS aja dipersulit gini!"
π¨π»βπ»: "Baik Bapak, silakan duduk dulu ya, saya proses pendaftarannya."
---
Fast forward akhirnya pasien selesai saya foto, dan langsung ke kasir buat bayar. Sambil nunggu, saya cuma bisa narik napas panjang.
Jujur, capek banget harus terus-terusan jadi "penjahat" di mata pasien. Bukan petugasnya yang mempersulit, tapi sistemnya memang begitu.
Keresahan saya: kenapa ya dari pihak BPJS sendiri maupun karyawan2nya jarang banget kelihatan aktif di medsos buat meluruskan misinformasi atau konten-konten clickbait yang menyesatkan?
Selama ini, yang mati-matian meluruskan info di X atau TikTok justru teman-teman nakes dokter, perawat, bidan, sampai rekam medis. Kami yang di lapangan yang harus "berhadapan" langsung sama pasien marah-marah gara-gara termakan konten TikTok yang infonya setengah-setengah.
Yuk, teman-teman BPJS, lebih aktif lagi dong buat edukasi publik secara langsung di medsos. Kasihan masyarakatnya bingung, dan kami di lapangan juga kelelahan harus selalu klarifikasi tiap hari. Semoga kedepannya bisa lebih sinergis ya! π«
Sistem "war ticket" ini sudah tidak sehat dan menjadikan masyarakat kita terlalu kapitalistis dan konsumeristis. Dikondisikan untuk FOMO.
Kita tak bisa lagi menghabiskan uang dengan tenang untuk mendapatkan hiburan berupa konser musik. Kita dibuat panik. Kita dibuat takut. Lalu kita dibuat membeli tiket dengan harga yang tak murah.
Entah sampai kapan sistem war ticket ini akan bertahan. Tapi selama masih ada, rasanya gw akan tetap menjaga jarak dengan konser musik. Gw pribadi cuma hanya akan menonton konser musik yang tiketnya bisa dibeli langsung tanpa harus antri. Ibu Dibjo, we miss you.