Average pengendara motor kita tuh emang begini, bisa nyetir doang tapi adab & nalar logika berkendaranya gada
Kenapa? Salah satunya karena sangking mudahnya kita bisa dapet akses kepemilikan kendaraan disini, bahkan ga sedikit yang sangking mudahnya cuman dateng bawa KTP udah bisa bawa balik kendaraan baru
China knows exactly what this does. Their domestic version of TikTok caps kids under 14 at 40 minutes a day, locks access between 6am and 10pm, and swaps the entire feed to educational content. Science, history, museums.
The version they export to everyone else? Unlimited, unrestricted, pure dopamine on demand.
When kids in the US and China were asked what they wanted to be when they grew up, the number one answer in America was influencer. In China it was astronaut.
Macron calls this a cognitive war. Export what dulls young minds and keep what makes them intelligent for your own population.
This is the most effective weapon ever deployed against a generationโs ability to think.
Coba kamu bayangkan ini..
Di pusat galaksi Bima Sakti kita, ada monster gravitasi paling ganas: lubang hitam supermasif Sagittarius A*, yg massanya 4 juta kali massa Matahari, yg melengkungkan ruang-waktu sendiri.
Setiap 16 tahun sekali, ada 1 bintang pemberani bernama S2 yg menari mengelilinginya. Bintang itu melesat mendekat sampai cuma 20 miliar km, setara 120 kali jarak Bumi-Matahari dgn kecepatan lebih dari 25 juta km/jam! Hampir 3% kecepatan cahaya.
Selama 27 tahun penuh, para astronom ESO mengintip tanpa henti lewat Very Large Telescope. Mrk rekam setiap gerakan kecilnya.
Dan yg terjadi? Orbit S2 bkn lingkaran elips biasa seperti yg Newton bayangkan. Orbitnya sendiri berputar pelan2, membentuk pola roset cantik yg berlapis2, persis seperti yg Einstein ramalkan lebih dari 100 tahun lalu dlm Teori Relativitas Umumnya.
Bkn tebakan. Bkn filsafat. Ini pengukuran nyata di tempat paling ekstrem yg bisa kita jangkau.
Einstein benar, sekali lagi. Di ambang lubang hitam, di mana waktu melambat dan ruang melengkung gila2an, rumus Einstein tahun 1915 masih berdiri tegak. Manusia cuma duduk di kantor paten, tapi bisa memprediksi tarian bintang di 26.000 tahun cahaya jauhnya.. dan kita baru saja membuktikannya.
Ini buk cuma kemenangan sains. Ini pengingat: alam semesta ini jauh lebih aneh, lebih indah, dan lebih konsisten drpd yg kita kira.
Menakjubkan bgt ya?
Mafia Lelang KPR
Oleh ET Hadi Saputra 04-09-2025
Saya mendapat cerita dari seorang kolega pengacara. Bukan kasus biasa, katanya. Ini kasus perlawanan orang kecil melawan sebuah sindikat yang rapi. Saya menyebutnya "mafia lelang".
Dulu, ada sepasang suami istri pekerja, sebut saja Pak Budi dan Bu Siti. Mereka punya rumah di Jakarta Timur, dengan cicilan KPR di sebuah bank plat merah, sebut saja Bank BRI. Rumah itu adalah surga mereka. Nilai pasar wajarnya di kisaran Rp 2 miliar. Beli dengan uang muka Rp 211 juta, sisanya KPR Rp 1,2 miliar.
Semua berjalan baik sampai badai pandemi datang. Bisnis Pak Budi kolaps. Penghasilan terpangkas. Cicilan pun tersendat.
Saat itulah, naluri Pak Budi menyuruhnya untuk berjuang. Ia tahu ada aturan dari OJK yang memberi kelonggaran restrukturisasi. Berkali-kali ia mendatangi Bank Merah. Memohon, meminta keringanan, dan menunjukkan itikad baiknya.
Namun, bank itu seolah sudah punya rencana lain. Semua pintu negosiasi ditutup rapat. Janji ketemu diundur undur sampai melewati tenggat. Pimpinan cabangnya, selalu sibuk. Permohonan ketemu Pak Budi diabaikan, semua dicuekin termasuk surat yang berulang kali dikirim.
Tepat saat Pak Budi dan Bu Siti terpojok, skenario itu dimulai.
Lelang pun diadakan. Harga limitnya bukan Rp 1,4 miliar, bukan Rp 1,2 miliar, tapi hanya Rp 690 juta. Jauh sekali di bawah nilai pasar.
Siapa yang diuntungkan dari harga semurah itu?
Seorang pembeli, yang saya sebut Tuan B. Ia memenangkan lelang dengan harga Rp 725,5 juta. Sebuah "hadiah" yang sangat manis.
Prosesnya sangat cepat. Sertifikat rumah langsung dibalik nama. Tuan B, tanpa basa-basi, langsung mengajukan permohonan pengosongan rumah.
Tentu saja Pak Budi dan Bu Siti tak tinggal diam. Mereka menggandeng pengacara yang punya nyali, sebut saja Pengacara P. dan timnya.
Mereka melihat semua kejanggalan itu bukan kebetulan. Ini adalah rangkaian peristiwa yang terstruktur, yang tujuannya hanya satu: merampas aset dengan cara yang "legal".
Di pengadilan, mereka melawan. Mereka menyebutnya perlawanan terhadap eksekusi lelang.
Mereka mengungkap bagaimana Bank BRI sengaja menciptakan wanprestasi. Bagaimana nilai limit lelang dimanipulasi agar harganya murah. Bagaimana risalah lelang itu punya dua versi tanggal yang berbeda.
Lalu, siapa Tuan B? "Pembeli yang beritikad baik pasti akan datang melihat rumahnya dulu. Tapi Tuan B tidak. Dia hanya tahu di atas kertas, lalu terburu-buru mengosongkan."
Mereka juga menyeret dua lembaga pemerintah: Kantor Lelang dan Kantor Pertanahan. Kedua lembaga ini, dalam pembelaannya, mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan prosedur. Hanya mengurus dokumen.
"Bagaimana mungkin sebuah lembaga bisa menjalankan prosedur yang cacat? Bagaimana mungkin sebuah risalah lelang yang isinya tidak konsisten bisa dianggap sah?"
Kasus ini masih berjalan. Tapi, bagi saya, ini sudah membuktikan sesuatu. Bahwa "mafia lelang" itu nyata.
Mereka punya komplotan yang rapi. Bank yang menutup pintu, penilai yang membuat harga rendah, pembeli yang siap menampung, dan lembaga pemerintah yang memproses tanpa bertanya.
Semua orang dalam komplotan itu punya peran masing-masing. Mereka menunggu saat yang tepat untuk mencaplok aset-aset berharga.
Perjuangan Pak Budi dan Bu Siti adalah perjuangan kita semua. Perlawanan ini harus didukung, agar tidak ada lagi yang menjadi korban. Agar keadilan tidak lagi dilelang dengan harga yang terlalu murah.
Lo bayangin deh kuliah tinggi tinggi dan mahal mahal untuk suatu bidang, tapi malah jadi pengangguran soalnya yang menjabat dibidang itu malah yang gak belajar sama sekali dan bukan expert dibidang itu
angin kemarau. tonggeret sudah teriak bersahut-sahutan. sebentar lagi sumur-sumur mengering. pemandangan berupa antrian warga menimba air, terlihat sejak sebelum subuh.
Beli sepeda mahal โ
Ganti motor butut โ
Gawai baru โ
Jalan-jalan โ
Beli tanah bermata air kemudian komit menjaganya agar tidak beralih fungsi, supaya ribuan warga sekitar tetap bisa mengonsumsi air bersih dengan GRATIS meski kemarau panjang, tanpa perlu membeli air kemasan โ